•   Rabu, 23 Oktober 2019
Pilpres 2019

Jenderal-jenderal tua Berpolitik, ada Post Power syndrome dan Punya Power

( words)
Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)


Surat Terbuka untuk Capres Jokowi-Prabowo, Peserta Pilpres 2019 (105)

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Tidak banyak yang mengamati jenderal-jenderal tua yang kini terbelah di dua kubu yang berseberangan, Anda Capres Jokowi dan Anda Capres Prabowo.
Siapa diantara jenderal-jenderal tua yang masih memiliki power? Apakah SBY yang kini mendukung Anda Capres Prabowo?. Atau Jenderal (purn) Moeldoko, Mantan Panglima-TNI yang menjadi Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Anda Capres Jokowi? Atau Jenderal (Purn) Djoko Santoso, mantan Panglima-TNI yang menjadi Ketua Tim Pemenangan Anda Prabowo-Sandi atau Jenderal Luhut Binsar Panjaitan Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat di Bandung.
Akal sehat saya mengatakan bukan SBY, Jenderal Moeldoko maupun Jenderal (Purn) Djoko Santoso. Ketiganya, setelah pensiun tidak memiliki jalur formal di militer. Meski ada mantan anak buah, tetapi hubungan emosional sulit didapat.
Fakta yang saya telusuri ada seorang jenderal TNI yang dekat dengan Anda Capres Jokowi, tetapi dalam Pilpres 2019, tidak menampakan seperti dalam Pilpres 2014 lalu. Dia adalah Jenderal (Purn) AM Hendropriyono.
Seorang anak dan menantunya mendapat tempat di pemerintahan Anda Capres Jokowi. Pertama, Diaz Hendropriyono menjadi Ketua Umum PKPI untuk menggantikannya. Kedua, Menantu Hendropriyono yang bernama Letnan Jenderal TNI Andika Perkasa yang sejak November 2018 lalu menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) menggantikan Jenderal TNI Mulyono.
Diaz, pernah menjadi Staf Khusus Presiden dibidang Sosial. Selain menduduki posisi Komisaris Telkomsel, Stafsus Menkopolhukam, Tim Transisi PSSI, dan Dewan Komisaris Pertamina.
Anak Mantan Kepala BIN ini juga pemegang Master of Public Administration (Virginia Tech, USA), Diaz dan kandidat Doktor (PhD) bidang Administrasi Negara di Center of Public Administration and Policy (Virginia Tech, USA). Bahkan saat berada di Washington, DC, Diaz sempat bekerja sebagai analis di sebuah perusahaan konsultan politik (lobbying firm), yang dipimpin oleh mantan Senator Bennett L. Johnston. Selain sebagai research associate di sebuah "think tank" RAND Corporation.
Letnan Jenderal TNI Andika Perkasa menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) menggantikan Jenderal TNI Mulyono.
Andika dipuji oleh Jokowi telah memiliki rekam jejak yang komplet di militer. Menantu Hendropriyono ini mulai berkarir di jajaran korps baret merah Kopassus, Pusdiklat, Pangdam, Pangkostrad, Kepala Dinas Penerangan dan ‎Komandan Pasukan Pengamananan Presiden (Paspampres).
Andika Perkasa sepertinya mengikuti rekam jejak mertuanya yang aktif mengamati dunia intelijen dan politik, serta aktif di dunia bisnis, pendidikan, bahkan kesenian.
Pria kelahiran Bandung, 21 Desember 1964 ini berpeluang menjadi Panglima-TNI. Maklum, usia pensiun Andika, masih empat tahun lagi. Tentu bila Anda Capres Jokowi, masih menjabat sebagai presiden untuk dua periode.
Demikian juga Diaz Hendropriyono, yang oleh kalangan yang dekat dengan Istana, dikenal sebagai salah satu pemikir ekonomi Anda Capres Jokowi. Bisa jadi, sekiranya Anda Capres Jokowi, terpilih dalam Pilpres 17 April 2019 mendatang, besar kemungkinan bisa dipromosikan menjadi salah satu menteri. Maklum, selain pintar, Diaz juga masih berusia muda yaitu masih 40 tahun.
Selain itu, anak menantu Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan, yang kini menjadi Menko Kemaritiman. Salah satu menantunya yaitu Brigjen TNI Maruli Simanjuntak. Bulan November lalu, menantu Luhut ini mendapat promosi jabatan menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden. Maruli menggantikan Mayjen TNI (Mar) Suhartono yang dirotasi menjadi Komandan Korps Marinir.
Karier militer Maruli, selain pernah menjabat Komandan Grup A Paspampres dari 2014-2016. Grup A, grup yang melekat langsung dalam mengamankan Presiden. Juga pernah menjadi Komandan Korem 074/Warastratama di Solo. Maruli juga berpengalaman dalam Infanteri Kopassus dan Detasemen Tempur Cakra. Sekiranya Anda Capres Jokowi, terpilih lagi sebagai presiden, Maruli bisa menjadi Kasad. Maklum, kini usianya masih 48 tahun. Maruli dilahirkan di Bandung, tanggal 27 Februari 1970
Sementara Jenderal (Purn) SBY, praktis kini sudah tak punya harapan anak maupun menanti di militer. Anak satu-satunya yang berkarir di militer yaitu Agus Harimurti, diminta mengundurkan diri saat berpangkat Mayor.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Dengan gambaran seperti itu, Jenderal (Purn) Hendropriyono maupun Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan, pendukung setia Anda Capres Jokowi, jenderal tua yang pengabdiannya mengikuti pandangan Jenderal Douglas Mac Arthur (1951) yang mengatakan The Old Soldiers Never Die, They Just Fade Away.
Jenderal Hendropriyono dan Jenderal Luhut, dua jenderal yang ada di kubu Anda Capres Jokowi, mungkin berpikir kiprah prajurit tua harus pada jiwa pengabdian dan berpegang teguh pada sumpah prajurit. Jiwa ini wujud semboyan the old soldiers never die. Bedanya, dua jenderal tua ini mendorong menantu meneruskan jiwa pengabdiannya di militer.
Lalu siapa lagi jenderal-jenderal tua yang berada di kubuh Anda Capres Jokowi? Ada Letjen (Purn) Agum Gumelar yang kini menjadi anggota Wantimpres. Terdapat pula Jenderal Purnawirawan TNI Wiranto, yang kini Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam).

Juga ada Jenderal (Punr) Ryamizard, menantu mantan Wapres Try Sutrisno yang kini Menteri Pertahanan. Ada juga Jenderal TNI Purnawirawan Subagyo Hadi Siswoyo. Mantan Kasad ini sama dengan Agum, menjabat sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Ada pula Jenderal TNI (Purn) Try Soetrisno, yang masuk dalam struktur tim kampanye sebagai anggota Dewan Pengarah. Juga Laksamana TNI (Purn) Marsetyo Duduk sebagai anggota Dewan Pengarah Letjen TNI (Purn) Lodewijk F.Paulus, Sekjen Partai Golkar. Baik Marsetyo maupun Lodewijk, menjabat Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional bersama Brigjen (Purn) Herwin Supardjo. Juga mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian. Jenderal Hinsa tergabung dalam Cakra 19 bersama anak Letjen (Purn) Theo Safei, yang bergerak di bidang energi.
Dalam Cakra 19, ada juga 12 mantan Jenderaal yakni Mayjen TNI (Purn) Andogo Wiradi, eks Deputi V Kantor Staf Presiden (KSP), Mantan Kapuspen TNI laksda TNI (Purn) lskandar Sitompoel. Mantan Pangdam l/ Bukit Barisan Wisnton Pardamean Simanjuntak, Mantan Deputi I bidang Hukum Politik Dalam Negeri Kemenkumham Mayjen TNI (Purn) Yudi Harianto dan lain-lain.
Sementara, di kubu Anda Capres Prabowo, ada Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso Mantan yang Anda tunjuk sebagai Ketua Badan Pemenangan Nasional pasangan Prabowo-Sandiaga. Djoko juga merupakan anggota Dewan Pembina Partai Gerindra.
Sementara Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono, menempati posisi sebagai Koordinator Juru Kampanye Nasional Anda Capres Prabowo. Selain Letjen (Purn) Kivlan Zen. Jenderal-jenderal tua ini telah menjadi backbone dalam mendukung strategi pemenangan Anda Capres kubu Prabowo. Disamping, Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edhy Purdijatno, mantan Menkopolhukam Anda Capres Jokowi. Tedjo Edhy Ditempatkan sebagai Wakil Ketua Dewan Penasehat. Ada pula Letjen TNI (Purn) Yunus Yosfiah Yunus ditempatkan sebagai Dewan Penasehat bersama Laksamana Madya TNI (Purn) Moekhlas Sidik.
Ada pula Mayjen TNI (Purn) Judi Magio Yusuf Di Badan Pemenangan Prabowo-Sandiaga ia duduk Wakil Ketua. Dan Mayjen TNI (Purn) Arifin Seman Arifin, sebagai Direktur Monitoring, Analisa dan Evaluasi. Selain Letjen (Purn) Yayat Sudrajat, sebagai Direktur Pengamanan dan Pengawasan
Disamping Mayjen (Purn) Glenny Kairupan Glenny menjabat Direktur Teritorial dan Operasi Dokumen.
Kenalan saya pensiunan Jenderal mengatakan, keterlibatan jenderal-jenderal yang sudah pensiun, meski sudah tak punya hubungan structural dengan kesatuan, tetap berjiwa prajurit. Salah satu doktrinnya, seorang prajurit bukan tunduk kepada hukum rimba maupun bukan hukum pragmatik. Prajurit harus tunduk kepada aturan tentara yang sekarang, bukan aturan yang dulu. Meski saat menjabat mendapat rumah jabatan, setelah pensiun, rumah dikembalikan ke kesatuannya.
Jenderal-jenderal pensiun yang berada di kubu Anda Jokowi maupun Prabowo, tetap terikat dengan sumpah ketiga yang berbunyi: menjalankan segala kewajiban dengan penuh rasa tanggung jawab kepada tentara dan negara RI.
Dengan sumpah ini akal sehat saya mengatakan, tidak mungkin seorang jenderal yang sudah pensiun, rela mengorbankan NKRI untuk urusan politik praktis, misal NKRI dijadikan NKRI Syariah.
Saya tidak tahu, apakah jenderal-jenderal tua ini bergabung sekedar untuk aktivitas agar terhindar dari gejala post power syndrome, atau malah masih terngiang-ngiang pesan herois Douglas MacArthur bahwa tentara tua tidak pernah mati; mereka hanya menghilang.
Bisa jadi, dengan memiliki karakter kewilayahan dan demografi yang kompleks, diantara jenderal-jenderal tua itu ada yang masih memiliki power sendiri (diluar anak dan menantu) yaitu memiliki berpikir strategis mengenai kekuatan dan fungsi Militer untuk suksesi politik menjadi format pemenangan menuju kekuasaan.
Saya sendiri pernah bertemu dengan seorang pensiunan Jenderal TNI di Jakarta. Jenderal ini mengatakan, meski dirinya sering dijuluki jenderal tua, tetapi kemampuan dalam diplomasi politis dan pembangunan metode-metode penggalangan massa, tak mau kalah dengan akademisi. Terutama diplomasi berbasiskan pendekatan intelijen.
Lalu siapa jenderal-jenderal tua yang mengidap gejala gejala post power syndrome, jujur saya tidak tahu. Tetapi siapa jenderal pensiunan yang masih punya power, saya memiliki data yaitu Jenderal (Purn) Hendropriyono dan Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan.

Akal sehat saya berkata, semua jenderal tua yang masih mau bergabung dalam politik praktis mendukung Anda berdua, ingin membuktikan dirinya bagian dari the old soldiers never die, meski telah menjadi prajurit tua, dirinya tak mau dianggap prajurit yang tak berguna. (tatangistiawan@gmail.com,bersambung)

Berita Populer