Jaksa ‘’Pungli’’ Gunakan Surat Pernyataan, Inikah Modus Jaksa Nakal

Surat Terbuka untuk Jaksa Agung dan Kajati Jatim, atas dugaan Kriminalisasi oleh Kejari Trenggalek Lulus Mustafa

SURABAYAPAGI.COM - Pak Jaksa Agung dan Kajati Jatim Yth.,

Pertama, saya mengucapkan selamat atas pelantikan Anda menjadi Jaksa Agung baru dan Kepala Kejaksaan Tinggi Jatim, yang bedanya tidak jauh. Anda Pak ST Burhanuddin, pengganti Jaksa Agung Muhammad Prasetyo.

Sebagai Jaksa Agung Kabinet Indonesia Maju non parpol yang diumumkan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Anda adalah pensiunan jaksa muda perdata di lingkungan Kejaksaan Agung sejak 2014.

Sementara Anda Kajati Jatim, Mohammad Dhofir, menduduki jabatan Kajati Jatim sejak 14 Oktober 2019.

Kedua, sebagai warga Negara Indonesia sekaligus pencari keadilan, saya berharap besar dan menaruh kepercayaan tinggi pada Anda berdoa. Terkirim doa terbaik agar Anda dapat menjalankan amanah penegakan hukum dengan sebaik-baiknya.

Surat terbuka saya ini intinya menagih janji Anda Jaksa Agung yang akan menindak jaksa-jaksa nakal. Jadi singkatnya di surat terbuka saya ini saya mengingatkan kembali akan janji-janji yang telah Anda utarakan dan

Saya me-reminder masyarakat bahwasanya kita nggak boleh terlalu larut euforia janji menindak jaksa nakal.

Saya tidak tahu kriteria jaksa nakal. Tetapi saya ingin mereminder Anda untuk menindak Jaksa Nakal.

Saya melaporkan beberapa jaksa di Kejari Trenggalek, yang menurut saya bukan sekedar nakal tetapi tidak berperikemanusian. Artinya, mereka sudah memenjarakan saya di Rutan Trenggalek, yang belum jelas

Kesalahan saya, tetapi masih tega “memungut uang” dengan cara saya disuruh membuat surat pernyataan.

Saat saya diperiksa oleh Jaksa Hadi Sucipto, tanggal 7 Agustus 2019, Kasi Pidsus Dodi Novalita, S.H., meminta saya membuat surat pernyataan permindahan penahanan dari Rutan Trenggalek ke Rutan Kejati Jatim di Surabaya.

Surat pernyataan bermeterai ini dibuat beberapa kali, karena ada kekeliruan makna. Terutama kalimat menanggung biaya pengawalan, pengamanan, transportasi dan lain-lain dari Trenggalek ke Surabaya.

Saya pikir biayanya Rp 10 juta. Tetapi pengacara bilang, jaksa-jaksa ini minta Rp 70 juta lebih, karena yang mengawal semua Kasi, beberapa staf dan tiga anggota Polri.

Malam itu, saya kelimpungan mencari uang sebesar itu. Terpaksa saya pinjam ke teman. Dan teman juga heran, untuk mengawal seorang tahanan mesti membayar biaya Rp 70 juta lebih.

Saya malam itu berpikir ini modus pungli yang canggih dilakukan jaksa-jaksa dari daerah. Saya bilang canggih, urusan mengawal seorang tahanan seperti saya yang sakit, meski dengan beramai-ramai?.

Saya tidak tidak habis mengerti, apakah untuk pemindahan, diperlukan biaya pengawalan dan transportasi. Apakah Kejaksaan tidak ada anggaran untuk ini. Mengingat, dalam setiap pemeriksaan perkara, selalu diajukan anggaran biaya ke Negara.

Dalam kesempatan ini saya melaporkan jaksa-jaksa itu kepada Anda. Dan saya memiliki copy surat pernyataan untuk bukti laporan, selain saksi yaitu anak saya dan penasihat hukum saya. Semoga Anda berdua menindaklanjuti laporan ini, karena bukan fitnah.

Apalagi usai dilantik Presiden, Anda Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin pernah mengancam dua tingkat keatas dengan pelaku jaksa nakal yaitu akan diberikan sanksi apabila terbukti “bermain” hukum.

“Saya akan berikan sanksi dua tingkat keatas pelaku,” kata Anda saat acara makan malam bersama korps Adhyaksa di Hotel Yasmin, Cianjur, Senin (2/12/2019) malam.

Bahkan saat Anda di Kejagung tanggal 15/11/2019, Anda menegaskan lagi sikap Anda ;“Kalau ada jaksa nakal, saya akan bina, Kalau tidak bisa dibina, saya akan binasakan. Saya akan tindak setegas-tegasnya kalau ada yang nakal,” kata Burhanuddin di Kantor Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (15/11/19) saat itu.

Sikap Anda ini sikap tegas. Maka itu, saya menunggu komitmen Anda. Saya yakin Anda berkomitmen, karena saat masih menjabat beberapa Kajati sampai Jaksa Agung muda perdata, dikenal bersih.

Sebagai wartawan, saya tahu bahwa urusan peras memeras dan pungli sering dikeluhkan sejumlah pencari keadilan. Mereka mengalami tetapi sebagai korban pemerasan dan pungli oleh jaksa, mereka hanya bisa

Meratapi nasibnya tanpa bisa menuntut. Mereka takut tuntutan pencemaran nama baik. Berbeda dengan kasus saya ini, saya mengalami sendiri, ada bukti surat pernyataan dan saksi-saksi.

Semoga janji Anda akan menbinasakan oknum jaksa nakal, bisa terwujud atas laporan saya, karena alat buktinya ada dua, diluar keterangan saya sebagai korban.

Pak Jaksa Agung dan Kajati Jatim Yth.,

Saya tahu bahwa jabatan jaksa agung yang Anda pegang sekarang ini adalah jabatan politis, karena Anda adalah pensiunan Jaksa. Tetapi saya yakin Anda memiliki komitmen membersihkan jaksa-jaksa nakal yang bisa merusak integritas Kejaksaan secara keseluruhan.

Saya percaya janji Anda ini akan dituntaskan dan saya sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang berdaulat ingin mengawal janji Anda.

Melalui surat terbuka ini saya mendorong agar Anda dapat memberikan perlindungan terhadap pelapor yang memiliki keberanian dan membawa alat bukti. Ini untuk menghentikan segala bentuk kriminalisasi swasta

Dengan kemasan dugaan korupsi sekaligus membersihkan aktor yang diduga melakukan pelanggaran HAM.

Sebagai jurnalis, saya sudah mengenal Anda, meski kita tak pernah bertatap muka. Saat itu Anda masihlah seorang Jaksa Agung muda perdata. Tak seorang pun pejabat di kejagung yang menduga Anda akhirnya setelah pensiun diangkat oleh Presiden Jokowi, menjadi Jaksa Agung.

Jujur, begitu banyak orang seperti saya yang menaruh harapan besar kepada Anda. Harapan saya, Anda mampu menyelesaikan kasus dugaan korupsi Jiwasraya dan jaksa-jaksa nakal.

Saya pencari keadilan yang gentlemen menunggu aksi nyata dari Bapak Jaksa Agung dan Kajati Jatim. Aksi untuk mewujudkan penegakan hukum yang adil dan tidak berpihak karena menyangkut kewibawaan institusi

Kejaksaan sebagai penegak hukum dan penjaga keadilan di Indonesia.Demikian surat terbuka ini saya buat. Semoga Tuhan selalu bersama bapak yang akan mengambil sikap menyangkut pencarian keadilan di

Indonesia ini. Besar harapan saya, laporan saya ini bisa membantu mewujudkan pembersihan jaksa-jaksa nakal di Indonesia.

Semoga Tuhan senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan dan kesabaran kepada Anda berdua. Atas perhatiannya, saya mengucapkan terimakasih. Merdeka. (tatangistiawan@gmail.com)