Jadi Tukang Cuci Piring hingga Pelayan Pernah Dilakoni

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Sekilas, mendengar nama PT Arwana Citramulia Tbk, orang awam akan menduga ini adalah perusahaan perikanan. Nyatanya, Arwana yang satu ini adalah produsen keramik lokal yang terbilang sukses.

Berdiri sejak 1993 dengan beberapa karyawan, kini Arwana menjadi perusahaan publik yang memiliki 1.700 karyawan, 46 sub distributor dan 15.669 gerai yang tersebar di tujuh provinsi di Indonesia. Dan PT Arwana Citramulia Tbk, telah memiliki kapitalisasi pasar lebih dari Rp 3 triliun di Bursa Efek Indonesia.

Kiprah Arwana di bisnis keramik tak bisa dilepaskan dari tangan dingin Presiden Direktur & Chief Executive Officer Tandean Rustandy. Pria kelahiran Pontianak pada Desember 1965 inilah yang membawa Arwana menjadi perusahaan keramik lokal yang mumpuni.

Dalam kesuksesannya ia harus benar - benar banting tulang. Di tahun 1977, setelah lulus dari bangku SMP di Singapura kemudian ia melanjutkan SMA di Toronto, Kanada. Meski bersekolah di luar negeri ia harus benar-benar berhemat untuk berjuang hidup mandiri.

"Ibu mengirim saya sekolah ke luar negeri dengan one way ticket. Artinya, bisa pergi, tidak bisa pulang. Saya harus pandai-pandai mengatur uang agar bisa tetap bertahan,"kenang bapak dua anak ini

Untuk mencari biaya tambahan demi mempertahankan hidup. disamping meneruskan kuliah di Universitas Colorado, Amerika Serikat, pada 1984, Tandean bekerja paruh waktu mulai menjadi tukang cuci piring di sebuah kafetaria asrama kampusnya, pelayan, dan bekerja lepas di malam hari di perpustakaan kampusnya. Ia bekerja keras hingga menghabiskan 50 jam/ minggu untuk bekerja freelance.

Meski sibuk mencari uang, prestasi akademik Tandean sangat memuaskan. Dia berhasil lulus dalam tempo dua tahun sembilan bulan dan berhasil meraih honorary citizen order (gelar warga kehormatan) di kampusnya.

Pada 1987, setelah lulus kuliah, ia kembali ke Indonesia. Dia pulang ke kampungnya, Pontianak, dan bekerja di perusahaan kayu. Naluri bisnis Tandean sangat kuat, hingga pada 1990, Tandean memutuskan berbisnis trading kayu dan hasil hutan lainnya.

Tiga tahun kemudian, pada 1993, Tandean mulai berbisnis keramik dengan merek dagang Arwana. Pabrik Arwana berdiri di Tangerang, Banten. Berbekal modal awal dari Bank BNI senilai Rp 25 miliar. Dari jumlah itu, dana Rp 17 miliar digunakan untuk membangun pabrik pertama Arwana di Tangerang. Pabrik ini beroperasi pada Juni 1995.

Arwana terus ekspansif. Pada 1997, setahun sebelum krisis moneter, perusahaan ini mengoperasikan pabrik kedua di Serang, Banten. Sampai krisis memukul telak arwana dan meninggalkan hutang yang cukup besar.

Masa-masa sulit itu akhirnya datang juga. Krisis 1998 memukul telak Arwana. Hingga pada 2001, Arwana memasuki lembaran baru, dengan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Kapitalisasi pasar Arwana terus membesarhingga kini kapitalisasi emiten berkode saham ARNA telah mencapai Rp 3,45 triliun. Dus, harga sahamnya meningkat berkali lipat.

Di tangan Tandean, kinerja Arwana memang cukup kinclong. Melihat kinerja Arwana, bukan hanya pemodal dalam negeri yang melirik, investor asing juga terpikat. Dia tak menyangkal sejumlah investor asing, seperti Siam Cement Group, produsen keramik terbesar di dunia asal Thailand, pernah menawar Arwana. Tapi Tandean enggan menjualnya. Dia ingin Arwana menjadi aset lokal dan terus berkontribusi bagi masyarakat.