Istilah “Budek-Buta”, Ma’ruf Dinilai tak Cerminkan Negarawan

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Calon wakil presiden Ma’ruf Amin menyindir orang-orang yang tidak mengakui keberhasilan pembangunan era pemerintah Joko Widodo atau Jokowi. Menurut dia, hanya orang yang ’buta’ dan ’budek’ yang tidak mengakui keberhasilan itu.
"Orang yang sehat dapat melihat jelas prestasi yang ditorehkan Pak Jokowi, kecuali orang yang budek saja enggak mau mendengar informasi dan orang yang buta saja yang enggak bisa melihat kenyataan," kata dia di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Timur, Jakarta, Sabtu.
Menurut Ma’ruf Amin, selama memimpin, Jokowi berhasil membangun banyak infrastruktur seperti pelabuhan dan bandara. Selain itu, Jokowi juga berhasil membangun banyak fasilitas pendidikan dan kesehatan. Lewat pembangunan itu, kata dia, Jokowi berhasil memangkas kesenjangan sosial di masyarakat.
Mantan Ketua MUI ini mengatakan manfaat pembangunan itu terbukti di Papua Barat. Dia mengatakan banyak masyarakat di sana menganggap semua proyek infrastruktur adalah milik Jokowi. Ada pula masyarakat yang menganggap dana desa juga milik Jokowi. Padahal semua itu didanai APBN. "Itu karena kebijakan Jokowi, maka mereka bilang itu berkat Jokowi," kata dia.
Selain itu, Ma’ruf Amin mengatakan bukti lainnya adalah banyaknya pihak yang mendeklarasikan dukungan untuk Jokowi - Ma’ruf dalam pemilihan presiden 2019. Dia mengatakan itu adalah bukti banyak masyarakat mulai merasakan manfaat dari kinerja pemerintahan Jokowi.
Sementara itu, hal ini ditanggapi oleh Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo – Sandi, Dahnil Anzar. Timses Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menilai tak baik jika cawapres Ma’ruf Amin bicara menggunakan istilah ’buta dan budek’. Pihak timses Prabowo-Sandi pun bicara soal akhlak yang tercermin dari kata-kata.
"Substansi ajaran Islam itu adalah meninggikan akhlak. Apa pun profesi muslim tersebut, sebagai ulama kah, sebagai politisi kah, sama yang dibawa adalah akhlak yang baik, dan akhlak yang baik tercermin dari pilihan kata-katanya," kata Koordinator Juru Bicara Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak kepada detikcom, Sabtu (10/11).
Dahnil menilai adalah sah dan wajar jika berbeda pandangan dalam politik. Menurutnya, tak elok jika ada politisi yang menuduh orang yang berbeda pandangan dengan tudingan difabel.
"Politik adalah ranah setiap orang sah dan wajar berbeda pandangan, berdebat dengan berbagai argumentasi yang rasional, tidak elok bila kemudian di tengah perbedaan pandangan tersebut seorang politisi menuduh yang berbeda dengan tudingan-tudingan difabel, menuduh orang yang berbeda sebagai orang ’budek’ dan orang ’buta’. Saya kira sikap seperti itu tak elok dan jauh dari sikap akhlak yang baik dan jauh dari sikap kenegarawanan," ucapnya.
Dia menganggap ucapan tersebut juga merendahkan kaum difabel. Dahnil mengajak agar perbedaan sikap politik ditanggapi dengan bergembira tanpa perlu menebar tudingan yang tak pantas. "Bagi saya itu merendahkan saudara-saudara kita yang difabel. Mari bergembira saja dalam perbedaan sikap politik tanpa perlu menebar tudingan-tudingan yang tak pantas," tutup Dahnil. Jk