•   Kamis, 2 April 2020
Surabaya

Ini Pendapat Warga Surabaya Terkait Guangzhou Awards

( words)
Kota Surabaya mendapatkan Guangzhou International Awards 2018 beberapa hari yang lalu.


52,3 Persen: Biasa Saja, Karena Belum Sentuh Ekonomi Kerakyatan

Prila Sherly, Wartawan Surabaya Pagi
SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Surabaya, baru saja meraih penghargaan untuk kategori Popular City di Guangzhou International Award 2018. Keindahan kota Surabaya menjadi salah satu alasan kemenangan tersebut berdasarkan pilihan masyarakat setelah ditutup pada Jumat (7/12/2018). Penghargaan yang dipilih melalui voting online itu, pun, direspon beragam oleh warga kota Surabaya.
Untuk itu, Surabaya Pagi, sejak Senin (10/12/2018) hingga Selasa (11/12/2018) kemarin, melakukan quick survey terhadap beberapa warga Surabaya dengan wawancara langsung di Surabaya Pusat, Surabaya Utara, Surabaya Timur, hingga Surabaya Selatan, dengan berbagai elemen masyarakat.
Dihasilkan, 130 warga kota Surabaya yang bisa diwawancarai Surabaya Pagi, profesi dan pekerjaan dari wiraswasta, mahasiswa, pelajar, karyawan swasta, tukang parkir, buruh, penjual asongan hingga pekerja kasar yang sedang mengais rejeki di Surabaya.
Hasil Survey
Ada dua pertanyaan yang dilontarkan kepada 130 warga Surabaya. Yakni yang pertama, “Apakah bangga dengan sederet penghargaan yang diraih Wali Kota Surabaya untuk kota Surabaya selama ini?”. Pertanyaan itu, dengan tiga jawaban, yakni “Bangga”, “Tidak Bangga”, “Biasa saja”.
Sedangkan, pertanyaan kedua, “Penghargaan tersebut apa bisa berpengaruh / bermanfaat kepada warga Surabaya itu sendiri? Contoh dan konkritnya apa?”
Hasilnya, dari 130 warga yang di “survey” wartawan Surabaya Pagi, dari pertanyaan pertama, 49 warga kota menjawab Bangga. Sedangkan 13 warga kota merespon tidak bangga dengan prestasi-prestasi. Sementara 68 warga kota, menjawab biasa saja.
Sementara, dari pertanyaan kedua, ternyata, 78 warga menyebut dari penghargaan itu belum sepenuhnya berpengaruh penting bagi warga kota Surabaya. Sedang 35 warga berpendapat bisa berdampak pada kehidupan warga kota Surabaya. Sementara sisanya, 17 orang mengatakan, tidak tahu.

Image
Respon Warga Surabaya
Bagaimana responnya? Seperti Wana, 27 tahun, salah seorang pramuniaga di Depot Bakso daerah Sedayu, Morokrembangan, Surabaya Utara, menjelaskan, dirinya biasa saja.
Kenapa? Menurut Wana, meski bisa merubah keindahan kota, akan tetapi masih belum bisa merubah nasib ekonomi rakyat kecil di beberapa daerah pinggiran kota Surabaya.
“Yah biasa saja. Saya sendiri merasa bahwa yang menjadi fokus Ibu Risma saat ini masih menata keindahan di Surabaya. Salah satunya di Sedayu ini, memang makin indah dan cantik. Namun, tidak ada perubahan untuk aspek-aspek lainnya seperti mendongkrak ekonomi warga sekitar .” kata Wana, salah seorang pramuniaga di warung bakso daerah Sedayu, saat ditemui Senin (10/12/2018).
Belum Sentuh Ekonomi Kerakyatan
Sama halnya diungkapkan Wana, bagi Ridho, sopir angkutan umum mengaku, Surabaya cantik dan makin indah karena banyak taman, bunga dan pohon-pohon rindangnya. Tetapi, sektor ekonomi rakyat kecil, masih belum menyentuh.
“Kalau ditanya perubahan mungkin pada keindahan seperti bunga dan pohon tapi tidak ada upaya untuk membantu ekonomi masyarakat kecil seperti kita”, beber Ridho.
Sholeh, rekan Ridho sebagai sopir angkutan umum juga berpendapat, bahwa Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, masih belum menyentuh pada rakyat kecil.
“Sebetulnya bu Risma bisa mengubah kota Surabaya jadi cantik. Cuma masih belum fokus pada orang kecil seperti kita. Padahal sudah masuk ke periode kedua masa pemerintahannya. Contohnya ini di depan makam dekat terminal dulu banyak PKL, namun sekarang diusir dan ditanami pohon. Permasalahannya, tidak ada inisiatif relokasi dari pihak pemerintahan yang berujung pada para PKL menjadi pengangguran” tambah Sholeh, seorang sopir angkutan umum lainnya yang sedang singgah di terminal.
Bangun Pusat Kota Surabaya
Sementara, berbeda dengan pendapat Dio, mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga. Menurut Dio, Wali Kota Risma sudah patut membenahi kota Surabaya pada tata kelolanya. Intinya, tambah Dio, kinerja Risma sudah tepat dengan fokus pembenahannya.
“Sebenarnya yang dilakukan oleh Ibu Risma dalam memperbaiki kota Surabaya pada tata kelolanya adalah fokus utama. Tidak harus mencakup berbagai aspek agar dapat menjadi Surabaya yang lebih baik. Namun, Ibu Risma mampu mengambil satu aspek dan memaksimalkannya.” Ujar Dio, salah satu mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UNAIR yang ditemui Selasa (11/12/2018).
Setiap pemimpin menonjolkan satu aspek yang dapat maksimal tidak secara keseluruhan. Bila berupaya memberikan program pada setiap aspek justru tidak maksimal.
“Ketika periode kepemimpinan Ibu Risma akan selesai, menurut saya tidak perlu untuk menjangkau aspek lainnya. Meskipun masih banyak kekurangan misal dalam pembangunan pinggiran kota Surabaya. Namun, hal tersebut bila belum dapat rampung maka memberikan permasalahan untuk kepemimpinan selanjutnya” tambah Dio.
Kezia Djawa, seorang mahasiswi Psikologi Unair menambahkan penjelasan mengenai positifnya kinerja Risma dalam membangun Surabaya. “Menurut saya, sebagai anak yang suka explore Surabaya, di bagian pusat kota sudah cukup terjamah. Dimulai dari pembangunan trotoar yang ramah untuk pejalan kaki, bola bola di tepi jalan, dan ide penanaman Pohon Tabebuya,” beber Kezia, yang ditemui Surabaya Pagi, di kampusnya, Unair, Selasa (11/12/2018).
Dinilai Butuh Kenyamanan
Kritik lainnya disampaikan oleh Rully, salah satu mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional Unair. “Menurut saya sendiri sebenarnya ada beberapa aspek bagian dari tata kelola yang dilupakan oleh Ibu Risma yaitu kenyamanan. Saya sering merasakan adanya pengeboran jalan raya di pagi hari yang mana justru menghambat arus lalu lintas. Selain itu, di daerah Tambaksari sendiri dibangunnya trotoar yang semakin mempersempit jalan untuk kendaraan bermotor. Permasalahannya, sebelum membangun trotoar harusnya adanya inisiatif menumbuhkan culture untuk berjalan kaki.” Ujar Ruli.
Positif dan negatifnya tanggapan dari berbagai pihak terhadap suatu pemerintahan harus didengar dan diperhatikan. Pemimpin adalah orang yang mendedikasikan dirinya untuk rakyat. Namun, tidak ada kepemimpinan yang hanya menerima feedback positif melainkan juga negatif.
Hal ini dapat menjadi pembelajaran atau aspek yang perlu diperhatikan agar menjadi pemimpin lebih baik. Tidak peduli siapa pemimpinnya, namun suara rakyat yang harus tetap didengar terlepas dari keterpihakan. n

Berita Populer