India Tak Mau Ekspor Hydroxychloroquine, Kenapa ?

SURABAYAPAGI.com, India - melarang semua eksporhydroxychloroquine. Obat malaria ini sebelumnya gencar disebut Trump efektif untuk menangani pasien COVID-19 (corona)
.

"Ekspor obat dan formulasinya dilarang tanpa kecuali," tulis Bloomberg mengutip Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri India, akhir pekan kemarin. Maret, regulator juga membatasi pengiriman obat yang juga dipakai untuk lupus ini ke luar negeri.

Sementara itu, India sendiri memasok seperempat obat generik di seluruh dunia. Namun India kini membatasi ekspor 26 bahan farmasi dan obat yang dibuat.

Ini dilakukan guna mengamankan pasokan di negerinya. India sendiri mencatat 4.288 orang positif corona, 117 kematian dan 328 orang sembuh.

Dikutip dari laman reuters, Salah satu ekspor yang dibatasi adalah paracetamol, yang menjadi obat pereda nyeri. "Ada begitu banyak tekanan pada pemerintah. Untuk AS (misalnya) yang penting adalah Paracetamol, itu penting bagi mereka secara signifikan," kata seorang pejabat setempat.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump meminta Perdana Menteri India Narendra Modi untuk membebaskan eksporhydroxychloroquine. AS saat ini tengah mencari obat ini di seluruh dunia untuk merawat pasien corona di negeri itu.

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo juga telah berbicara dengan menteri luar negeri India. Pembicaraan itu terkait manufaktur dan rantai pasokan farmasi global.

AS kini jadi negara dengan kasus corona terbanyak di dunia. Ada 336.327 kasus, dengan total kematian 9.605 dan 17.245 sembuh.

Hydroxychloroquine adalah obat kuat dan belum terbukti secara meyakinkan mengobati corona. Badan POM AS hanya memperbolehkan untuk penanganan kasus serius dan dengan resep dokter.

Pemerintah Prancis juga mengizinkan penggunaanHydroxychloroquine dan obat sejenis lainchloroquine (klorokuin) beberapa waktu lalu. Namun, karena obat keras, pengawasan ketat akan dilakukan.(reuters/cnbc/cr-02/dsy)