•   Jumat, 21 Februari 2020
Surabaya

Imlek, Momentum Junjung Tinggi Toleransi

( words)
Sejumlah lampion tergantung menghiasi kampung pecinan di sekitar Kya Kya, Surabaya, Minggu (3/2/2019)


Riko Abdiono,
Wartawan Surabaya Pagi
Sejak era kepemimpinan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Imlek selalu dirayakan dengan semarak oleh mayoritas kalangan Tionghoa di Indonesia. Menurut guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya,
Prof Ahmad Muzaki, Imlek merupakan momen bagi bangsa Indonesia termasuk didalamnya umat muslim untuk menjunjung tinggi toleransi.
“Dengan adanya perayaan imlek ini menunjukkan bahwa negara semakin serius menjamin seluruh umat beragama baik dalam menyatakan keyakinannya,” terang Muzakki, Minggu (3/2/2019).
Keseriusan negara dalam menjamin para pemeluk agama, adalah bagian penting dalam pelaksanaan UUD 1945 dan Pancasila. “Termasuk dalam kaitan Imlek, adalah warga negara yang berlatar belakang etnis Tionghoa dan menganut Konghucu,” singkat Muzakki yang juga Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) Jatim ini.
Untuk diketahui, Gus Dur memiliki peran besar dalam memberikan kebebasan beragama bagi masyarakat Tionghoa. Saat menjadi Presiden, Gus Dur mencabut Inpres Nomonir 14 Tahun 1967 karena bertentangan dengan UUD 1945.
Sebelum dicabut, Inpres tersebut selama puluhan tahun mengekang warga Tionghoa sehingga tak bisa bebas melaksanakan budayanya termasuk merayakan Imlek dan Cap Go Meh secara terbuka.
Setelah mencabutnya, Gus Dur menerbitkan Keppres Nomor 6 Tahun 2000 yang menjamin warga Tionghoa dapat menjalankan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadatnya secara terbuka.
Lantas, mengapa perayaan ini disebut Imlek? Kepala Kajian dan Riset Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina) Aji Bromokusumo menyebut, sebutan Imlek lahir melalui proses serapan penduduk Nusantara terhadap istilah Hokkian, “yin li”. “Imlek berasal dari kata yin li, artinya lunar calendar. Jadi tahun baru China itu sama dengan tahun baru Islam karena dihitung berdasarkan peredaran bulan,” terang Aji.
Usut-punya usut, sebutan “imlek” ternyata hanya bisa ditemui di Indonesia. Bahkan, di China sendiri, istilah untuk perayaan ini disebut sebagai “chunjie” yang secara bebas dapat diterjemahkan sebagai festival menyambut musim semi. “Kalau di Indonesia disebut demikian jadi aneh, karena Indonesia tidak punya musim semi,” ujar dia.
Di samping itu, beberapa kalangan keturunan Tionghoa di Indonesia pun kerap menyebut Tahun Baru Imlek sebagai “sin cia”. Penyebutan tersebut sama-sama diserap dari dialek Hokkian untuk menyebut “xin zheng” yang dibaca “sin ceng”.
Istilah “xin zheng”, masih kata Aji, merupakan singkatan dari istilah “xin zheng yue” yang berarti “bulan pertama yang baru”. Istilah “zheng yue” sendiri, yang berarti “bulan pertama”, jika diucapkan dalam dialek Hokkian akan berbunyi “cia gwe”. Maka, penyebutan “sincia” merupakan pelafalan ringkas alias kependekan dari istilah-istilah tadi. n

Berita Populer