•   Kamis, 2 April 2020
Surabaya

Ijinnya Karaoke Keluarga, tapi Sediakan Mihol dan Purel

( words)


Fenomena Menjamurnya Karaoke di Surabaya dan Sidoarjo

SURABAYAPAGI.COM, - Bernyanyi di rumah karaoke memang bisa melepas penat. Boleh jadi, kegiatan tersebut alternatif untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, termasuk bagi mereka yang memiliki anak di bawah umur. Tetapi, bagaimana kondisi rumah-rumah karaoke keluarga yang tersebar di berbagai penjuru kota? Temuan Surabaya Pagi, meski berstatus karaoke keluarga, nyatanya bebas menjual minuman alkohol (Mihol). Bahkan, wanita pemandu lagu alias purel juga berkeliaran di sana. Bagaimana bisa?
-------------

Hasil penelusuran Surabaya Pagi ternyata menunjukkan hal sebaliknya. Sebab, rumah-rumah karaoke yang berada di wilayah Sidoarjo dan Surabaya masih memberikan akses yang mudah bagi konsumen mereka untuk mendapatkan minuman beralkohol (mihol). Tidak jarang juga wanita-wanita pemandu lagu (purel) freelance keluar masuk ruangan karaoke untuk menawarkan jasa mereka.

Di Sidoarjo, tepatnya di rumah karaoke yang terletak di kompleks pertokoan Jalan Pahlawan. Tim Surabaya Pagi dapat dengan leluasa memesan minuman beralkohol dengan jenis bir. Meskipun pada awalnya para pegawai yang bertugas mengatakan tidak menyediakan hal tersebut, namun lima belas kemudian salah seorang pegawai wanita di meja resepsionis mengatakan bahwa permintaan kami bisa disediakan.

"Tapi nanti di tagihan tertulisnya lemon tea ya Mas. Wadahnya pun kita taruh di gelas-gelas plastik. Nggak masalah kan," ucap staf tersebut.

Disinggung lebih lanjut, ia mengatakan hal tersebut dilakukan karena beberapa hal. "Terutama karena perijinannya Mas. Makanya nggak semua pengunjung bisa kita ladeni kalau pesan bir. Kita pilih-pilih," terang dia.

Kondisi tak berbeda ditunjukkan rumah karaoke di Surabaya. Di sebuah rumah karaoke keluarga di daerah Wiyung, minuman beralkohol dapat dipesan dengan mudah. Disana, memesan bir semudah memesan kudapan ringan ataupun segelas teh hangat.

Menariknya, rumah karaoke yang terletak sangat dekat dengan kediaman pribadi Walikota Tri Rismahari itu juga menjadi tempat bagi para pemandu lagu freelance untuk menawarkan jasa mereka menemani para pengunjung. Para wanita yang acap kali disebut purel itu bahkan tidak sungkan masuk dari satu ruangan ke ruangan lain untuk menawarkan layanan.

Selama kurang lebih dua jam tim berada di lokasi, kurang lebih ada 9 orang pemandu lagu yang masuk ke ruangan dan menawarkan jasa. Biasanya, mereka terbagi dalam beberapa kelompok mulai dari 2-4 orang yang bersama-sama menawarkan diri.

"Nggak butuh ceweknya Mas? Buat nemenin nyanyi. Daripada karaoke cowok-cowok gini," kata salah seorang pemandu lagu yang masuk ke ruangan kami.

Tarif yang mereka patok untuk menemani pun bervariasi. Mulai dari Rp 100 hingga 150 ribu per jamnya. "Boleh kurang, tapi jangan banyak-banyak. Kurangin dikit aja," cetus pemandu lagu yang lain dengan nada manja.

Dari salah satu pemandu lagu yang diminta tim untuk minta menemani bernyanyi, informasi terkait praktek terselubung itu pun sedikit terkuak. Menurut mereka, dari tarif yang dipatok, beberapa persen diantaranya mengalir untuk digunakan ke para beking dan pihak manajemen.

"Ya kalau nggak begitu, nggak boleh kerja di sini kita Mas. Potongannya ya pasti ada. Baru sisanya buat saya. Makanya, Masnya kasih tip ya nanti biar buat saya jadi agak banyakan," kata wanita yang mengaku bernama Mia dan berasal dari Malang itu.

Sayangnya, ketika ditanya lebih lanjut tentang berapa prosentase pembagian dan bekingnya, Mia enggan untuk memberikan info lebih lanjut. "Ya pokoknya ada lah. Kayak wartawan ae (seperti wartawan saja) Mas kok tanya-tanya. Nyanyi sama seneng-seneng ae wes," pungkasnya. n Tim

Berita Populer