Hiiii.... Sering Ada Penampakan Perempuan Halus di RS Kelamin

Bangunan eks RS Kelamin Indrapura jadi Museum Kesehatan sebelum ditunjuk Pemprov untuk jadi RS Darurat. SP/travelingyuk.com

Rumah Sakit Darurat yang didirikan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk pasien Covid-19 di lokasi Museum Kesehatan dr. Adhiyatma yang terletak di Jalan Indrapura no. 17 Surabaya, hingga Kamis hari ini masih tampak dalam persiapan. Bahkan, RS Darurat, yang dulunya merupakan Rumah Sakit Kulit dan Kelamin terbesar se-Asia Tenggara ini, memilki kisah yang belum banyak diketahui orang. Sampai-sampai, setelah tidak dipakai sebagai rumah sakit kelamin, bangunan tua peninggalan Belanda ini, menjadi Musem Kesehatan yang pertama di Indonesia yang didirikan pada 16 Desember 2003. Berikut penelusuran dari wartawan Surabaya Pagi Aditya Putra Pratama dan Septyan Ardiyanto.

 

Sejak Selasa (26/5/2020) dan Rabu (27/5/2020), bangunan bekas rumah sakit tua peninggalan Belanda ini sudah cukup ramai. Langkah wartawan Surabaya Pagi, sejak Selasa lalu, memasuki halaman yang akan dijadikan RS Darurat bagi pasien Covid-19, sudah terlihat bahwa situasi darurat terlihat.

Beberapa tenda besar bertuliskan BNPB (Badan Nasional Penanggungan Bencana) berwarna orange dan abu-abu, terbangun kokoh. Didalamnya, sudah terpasang beberapa pendingin dan ranjang perawatan, pun sudah tertata. Spanduk besar bertuliskan “Rumah Sakit Lapangan Covid-19, Pemerintah Provinsi Jawa Timur” pun terbentang dipagar pintu RS Kelamin.

 

Simpan Benda Mistis

Namun, dibalik persiapan pembangunan RS Darurat Covid-19 di bekas RS Kelamin ini, menyisakan cerita mistis. Dari penelusuran Surabaya Pagi di lokasi, bekas RS Kelamin, yang kini sudah menjadi salah satu cagar budaya dan Museum Kesehatan ini memiliki benda-benda mistik yang tersimpan dalam museum tersebut.

Bahkan, dari petugas jaga Museum, menceritakan ada boneka jaelangkung yang tersimpan di dalam Museum Kesehatan tersebut. “Didalam juga ada boneka jaelangkung loh mas. Kalau dari cerita pendirinya, (boneka) itu untuk diagnose pengobatan  dan penyakit jaman dulu,” cerita salah satu petugas yang meminta namanya tidak dikorankan, Selasa (26/5/2020).

Tak hanya menyimpan benda-benda mistis yang berkaitan dengan kesehatan. Ternyata, keangkeran lokasi Museum Kesehatan dr. Adhiyatma diakui oleh petugas kebersihan sekaligus relawan yang berada disana. Dirinya mengaku pernah merasakan ada penampakan sosok perempuan yang lewat saat dirinya di kamar mandi yang berada di dalam gedung.

 

Kerap ada Penampakan

"Saya pernah, sekali. Waktu saya buang air kecil di kamar mandi. Pas saya mau masuk, tiba-tiba saya merasakan ada perempuan lewat di belakang saya. Tapi saya tidak menghiraukan itu. Setelah dari kamar mandi saya langsung kembali bertugas," ujarnya saat ditemui Surabaya Pagi, Rabu (27/5/2020) di warung kopi yang terletak di dekat Museum Kesehatan tersebut.

Selain itu, penjaga warung kopi bernama Yati juga mengakui keangkeran lokasi tersebut. Dirinya yang menjaga warung kopi miliknya hingga pukul 11 malam mengaku lumayan sering mengalami kejadian mistis.

"Yang paling sering ya pas malam hari,ada anak kecil atau perempuan berambut panjang lewat di depan warung, waktu itu juga pernah pas saya ketiduran ada yang manggil buat beli rokok. Saya langsung bangun, dan ternyata tidak ada orang," kata Yati.

 

Siap Tampung 200 Pasien

Terkait keangkeran bekas RS Kulit dan Kelamin itu, salah satu petugas BPBD Jawa Timur yang bertugas mempersiapkan RS Darurat tersebut, seakan tidak percaya. Baginya, menyambut dibangunnya bekas RS Kelamin untuk rumah sakit lapangan pasien Covid-19, hal yang berbau mistis sudah dapat dipindahkan “sementara” oleh Pemprov Jatim dan jajarannya.

“Kami sudah suruh pergi sebentar kok mas. Khan mau dibuat rumah sakit darurat untuk Covid-19. Biar pasiennya juga cepat sembuh,” jawab petugas itu, tertawa kecil.

Sementara, terkait persiapan RS Darurat, hingga saat ini, bekas RS Kelamin itu sedang dalam tahap penyelesaian akhir. Bahkan, kapasitas rumah sakit darurat tersebut sudah disiapkan sebanyak 200 orang. Selain itu, dua tenda khusus pasien Covid-19 laki-laki dan perempuan yang rencananya akan diisi sekitar 20 orang per tenda. Lalu pihaknya juga akan menyiapkan satu bangunan permanen untuk menampung pasien jika tenda sudah penuh.

“Ini masih pembentukan sistem operasionalnya mas. Yah finishing lah. Tapi detailnya, monggo tanya ke dr Joni saja,” cetus petugas BPBD Jawa Timur yang enggan namanya dipublikasikan. Namun di sisi lain, hingga Rabu (27/5/2020) malam, dr Joni Wahyuhadi, selaku Ketua rumpun kuratif gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Jawa Timur, belum memberi respon detail kepada Surabaya Pagi. adt/tyn