Hemat Waktu dan Tenaga, Kementan Kembangkan Teknologi Tanam Jagung

SURABAYA PAGI, Lamongan - Pemerintah melalui Kementerian Pertanian akan terus mendorong petani jagung di seluruh Indonesia, untuk menggunakan teknologi dalam bercocok tanam jagung, sebagai upaya efesiensi dalam menghemat waktu dan tenaga.

Hal itu disampaikan oleh Suwandi, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, saat bersilaturrahim ke KH. Abd. Ghofur pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat, Paciran Lamongan, Sabtu petang (7/9/2019).

Disebutkannya, produktifitas jagung di tanah air khususnya Jawa Timur perkembangannya cukup signifikan dan melimpah ruah, bahkan karena produktifitas tinggi tersebut, suplay untuk pembuatan pakan ternak tercukupi.

Karena itu kata Suwandi pemerintah melalui Kementan, terus mendorong petani di tanah air menggunakan teknologi dalam bercocok tanam jagung.

"Petani yang sebelumnya bercocok tanam mengunakan tenaga manusia kini sudah harus diganti dengan mesin," kata Suwandi kepada awak media didampingi H Sholahuddin ketua Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI).

Hasil uji coba beberapa waktu yang lalu di lahan pertanian di Sulawesi kata Suwandi, untuk kebutuhan menanam dan penyebaran benih bahkan pemberian pupuk organik cair sudah mengunakan teknologi mesin droun.

"Cara bercocok tanam mengunakan metode drond ini mampu menghemat waktu dan tenaga. Sebab sebelum para petani menerapkan teknologi ini mereka butuh tiga sampai dua hari dalam menanam jagung," terangnya.

Bahkan sekarang itu ada, mesin di depannya memanen kemudian mesin dibelakang sudah menanam jagung. Dan petani tidak harus menanam di lahan sawah mereka saja, tapi lahan kebun kelapa sawit, tanaman pohon jati bisa mereka tanami selagi masih bisa terpapar sinar matahari.

Sementara itu, dalam lawatannya ke Jawa Timur, Dirjen Tanaman Pangan Kementan ini, mendatangi beberapa lokasi di antaranya Kabupaten Nganjuk, Tuban dan Lamongan. Dalam dialognya dengan petani jagung asal Nganjuk setra jagung yang mereka gunakan adalah jagung hasil litbang, perkilo jagung yang mereka jual berkisar Rp 3.700 rupiah, dalam satu musim panen.

"Itu artinya keuntungan yang mereka peroleh 35 juta dalam satu hektarnya, sedangkan biaya yang mereka keluarkan dari mulai tanaman hingga masa panen 15 juta," ungkapnya.

Sedangkan untuk di Tuban, Dirjen mengajak petani agar tidak memproduksi jagung yang mereka tanam untuk bahan konsumsi saja. Tetapi harus ada terobosan baru, misalnya memproduksi benih jagung.

Saat ini mereka diminta untuk memproduksi benih sebanyak 80 hektare kedepannya target yang diharapkan bisa mencapai 600. "Untuk keuntungan dari benih ini, juga sangat tinggi. Dan Alhamdulillah jagung asal Lamongan juga tidak kalah saing, bahkan produktifitas jagung asal Lamongan melampui daerah lain," bebernya.

Dijelaskan Suwandi, secara ekonomis sektor industri benih jagung itu lebih menguntungkan petani, sebab harga keuntungannya jauh lebih tinggi dibandingkan jagung produksi konsumsi.

"Saat ini industri perbenihan sedang tumbuh bagus di Jatim. Bahkan untuk produkai benih jagung Nasional, 90 persennya itu diproduksi di jatim, karena itu kita kembangkan juga di Tuban,"pungkasnya.jir