•   Kamis, 5 Desember 2019
Pilwali 2020

Heboh Baliho Risma-Eri Cahyadi, Kepala Bappeko Dipancing Lawan Politiknya

( words)
Baliho Tri Rismaharini-Eri Cahyadi yang menjadi polemik


Alqomar-Farid Akbar,
Wartawan Surabaya Pagi

Baliho bergambar Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang berdampingan dengan Kepala Bappeko Eri Cahyadi, membuat suhu politik memanas menjelang Pemilihan Walikota (Pilwali) Surabaya 2020. Meski baliho itu sudah ditertibkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), tetap saja menjadi polemik. Bahkan, viral di media sosial (medsos). Namun lantaran ada yang janggal dalam baliho itu, membuat orang bertanya-tanya mengenai motifnya. Kejanggalan itu diantaranya penyebutan Eri Cahyadi sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH). Padahal, ia sudah tak lagi menjadi Plt dinas tersebut. Benarkah ini dampak persaingan faksi Tri Rismaharini dengan faksi Whisnu Sakti Buana yang berebut rekom DPP PDIP di Pilwali nanti?

Baliho berukuran sekitar 2 × 4 meter itu tertulis frasa: "Kampung Berdaya, Warga Berjaya". Di atasnya ada sponsor dari Smart City. Di foto keduanya tertulis masing-masing nama: Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya dan Eri Cahyadi Kepala Bappeko serta Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH).

Baliho tersebut ramai di media sosial, khususnyaWahtasApp, menyusul Eri Cahyadi selama ini dianggap sebagai bakal calon Wali Kota Surabaya yang mendapat dukungan penuh dari Tri Rismaharini. Informasinya baliho bergambarkan Risma dan Eri itu dipasang di tiga tempat, yakni Kelurahan Lidah Wetan, Lidah Kulon, dan Kelurahan Bangkingan.

Mendapati kabar itu, Eri Cahyadi langsung melakukan cek lokasi tersebut. Hasilnya tidak ada baliho yang dimaksud. Ternyata, baliho itu sudah ditertibkan Satpol PP. Dia pun mengecek materi atau isi dari baliho itu, sebab dirinya tidak melakukan pemasangan baliho tersebut. Ternyata, ada kalimat di baliho yang salah. Baliho tersebut menyebut dirinya sebagai Kepala DKRTH. Padahal, sejak Senin (11/11) Eri sudah tidak menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala DKRTH.

Eri menduga ada yang berniat jahat dengan memasang baliho bergambar dirinya bersama Tri Rismaharini. "Ini berarti ada yang pasang, tidak tahu niatnya apa.Alhamdulillah, Gusti Allah menunjukkan yang dipasang ternyata salah," ujarnya. "Gusti Allah Mahatahu. Siapa yang berbuat jahat, pasti akan mendapat balasan-Nya," lanjutnya.

Eri menjelaskan Smart City merupakan salah satu program dari DKRTH. Namun, DKRTH tidak memasang baliho tersebut. "Saya sudah tanyakan itu. Tidak ada yang memasang dari DKRTH," tandas Eri.

Dikonfirmasi terpisah, Kasatpol PP Surabaya Irvan Widyanto mengaku tidak tahu menahu siapa pemasang baliho itu. “Dini hari tadi pukul 02.00 (dipasang). Tidak diketahui (siapa pemasangnya),” ujar Irvan melalui jejaring pesan.

Lebih lanjut, Ia juga menegaskan jika kini baliho yang ada sudah diturunkan oleh pihak Satpol PP Kota Surabaya. “Justru itu yang nyopot Pol PP Kecamatan Lakarsantri. Jam 8 Pagi,” terang Irvan.

Disikapi PDIP
Sementara itu, Ketua DPC PDIP Kota Surabaya Adi Sutarwijono menegaskan bahwa baliho Risma-Eri sudah diturunkam Satpol PP, sore kemarin. Menurutnya, baliho itu bukan dipasang oleh Pemkot Surabaya. “Itu baliho abal-abal, saya yakin ulah perseorangan. Kalau bukan produksi Pemkot, maka tugas Satpol PP untuk menurunkan," ungkapnya.

Ia membantah baliho itu dipasang sebagai buntut interupsi dua anggota DPRD Surabaya terhadap Walikota Tri Rismaharini yang disoal penggunaan dana APBD untuk pencitraan jelang Pilwali. "Tidak ada kaitannya, kalau sudah diturunkan berarti permasalahan sudah beres," tandasnya.

Tidak Lazim
Wakil Ketua DPD Partai Nasdem Surabaya, Vinsensius Awey meminta masyarakat untuk tidak gegabah melakukan penilaian soal baliho bergambar Risma-Eri Cahyadi. “Pemasangan banner (Baliho) seperti itu tidak lantas kita simpulkan berasal dari Eri atau Risma atau Pemkot. Karena menurut saya, tidak segegabah itu Eri atau Risma membangun komunikasi ke masyarakat atau sosialisasi program smart city melalui media banner seperti itu. Tidak lazim mereka lakukan seperti itu,” ungkap Awey.

Menurut dia, dengan memasang wajah Risma bersebelahan dengan Eri, orang-orang tersebut ingin menunjukan bahwa Risma adalah Eri dan Eri adalah Risma. Eri adalah penerus Risma. “Kurang lebih seperti itu narasi politik yang ingin disampaikan. Sehingga baliho tersebut memberikan benefit kepada Eri dimata Risma Lover sebagainext generation. Namun disisi lain juga bisa menjadi badai bagi karier beliau. Artinya akan mengundang semakin banyak lawan politik yang akan menghadang beliau,” papar mantan anggota DPRD Surabaya ini.

Bisa saja, lanjut Awey, pemasangan baliho tersebut merupakan bagian dari skenario kelompok tertentu untuk mengetahui sampai sejauh mana reaksi masyarakat akan keberadaan Eri itu sendiri(check sound).

“Namun sebaliknya, bisa juga dipasang oleh kelompok tertentu yang memang akan membuat kegaduhan agar semua lawan politik menuding Eri telah mencuri start dengan membawa nama besar Risma,” tandasnya.

Isu Sensitif
Hal senada diungkapkan Surokim Abdussalam, peneliti senior Surabaya Survey Center (SSC). Menurutnya, pemasangan baliho itu sebagai pemanasan menyambut Pilwali Surabaya 2020. Pasalnya Eri Cahyadi dianggap masih malu-malu menunjukkan dirinya akan maju ke Pilwali dan digadang-gadang sebagai pengganti Risma. "Ini pemanasan Pilwali saja," sebut dia.

Ia juga melihat munculnya baliho itu sebagai strategi dari pihak lain yang ingin mengetahui apakah benar Eri Cahyadi akan maju di Pilwali? Apalagi persaingan kandidat di internal PDIP juga sengit. Dari 18 kandidat yang daftar, ada Whisnu Sakti Buana, Wakil Walikota Surabaya saat ini dan Dyah Katharina, istri mantan Walikota Bambang DH yang sekarang anggota DPRD Surabaya. "Partai mamapun sedang menunggu biar jago-jagonya muncul, salah satunya mancing pak Eri," ungkap dekan FISIB Universitas Trunojoyo Madura (UTM) ini.

Baginya ini hal biasa saja, karena Eri Cahyadi diisukan didaftarkan melalui DPP PDIP. Sedang Risma masih merahasiakan siapa yang dijagokan di Pilwali nanti. "Apapun yang berkaitan dengan Eri Cahayadi di Surabaya bakalan sensitif," pungkasnya. n

Berita Populer