•   Selasa, 21 Januari 2020
SGML

Harus Bijak Pakai Media Sosial, Jangan Sebarkan Berita Hoax

( words)
Sekkab, Kapolres dan Forkopimda mengepalkan tangan dalam FGD di Pendopo Lokatantra Lamongan. FOTO:SP/MUHAJIRIN KASRUN


SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Berita bohong, fitnah sangat merugikan semua pihak, bahkan dengan berita hoak bisa memudarkan soliditas antar anak bangsa. Karena itu berita hoax harus ditangkal, salah satunya masyarakat khususnya generasi milenial harus bijak menggunakan medi sosial (medsos), dan tidak gegabah menshare berita bohong.

Hal itu disampaikan oleh Sekkab Lamongan, Yuhronur Efendi, saat Forum Group Diskusi (FDG) yang diadakan Polres Lamongan dengan tema Bijak Bermedsos akan Menangkal Berita Hoax, pada Selasa (9/4/2019) yang dihadiri ratusan pelajar dan generasi milenial di Pendopo Lokatantra setempat.

Disebutkan olehnya, berita hoax adalah berita bohong atau berita palsu yang tidak bersumber. Dan hal itu sangat berbahaya jika dibagikan ke orang lain. “Betapa bahayanya jika kita terpengaruh apalagi terlibat dalam penyebaran berita hoax tersebut,” terangnya.

Karena itu, Yuhronur Efendi mengajak semuanya yang menerima berita yang tidak jelas sumbernya, lebih baik berhenti sampai dibaca dan tidak disebarkan. "Gunakanlah media sosial secara bijak, lebih baik mengunggah berita atau gambar yang inspiratif. Mari lawan berita hoax dan selalu berpikir positif,” ajaknya.

Sementara itu, Kapolres Lamongan AKBP Febby D.P Hutagalung menyebutkan selama tahun 2018 ini berita hoax tercapture yang masuk ranah pidana sebanyak 80 sampai dengan 90. “Itu data di tahun 2018. Sedangkan untuk tahun 2019 yang masih masuk bulan keempat, Polri sudah menangani ratusan perkara berita hoax,” ungkapnya.

Menurutnya ini menjadi perhatian penting. Apalagi tahun ini adalah tahun politik mendekati pemilu serentak 17 April mendatang. Kamtibmas Lamongan di tahun 2019 menuju Pemilu tanggal 17 April mendatang masih cukup kondusif. Keamanan adalah hal yang haqiqi yang menjadi modal utama bagi masyarakat untuk melakukan aktifitas. "Tanpa rasa aman maka aktifitas masyarakat seperti sekolah, perekonomian dan beribadah akan terganggu,” ujarnya.

Melalui FGD tersebut, AKBP Febby D.P Hutagalung mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersinergi menjaga kondisi kemanan agar tetap terjaga. Karena itu bukan hanya tugas TNI dan Polri, tapi tugas semua warga negara.

Di sisi lain, Feby, panggilan AKBP Febby D.P Hutagalung, juga memaparkan, menurut data yang diperoleh dari riset google dan asosiasi pengguna jasa internet Indonesia, dari 262 juta jiwa penduduk Indonesia, 57 persen diantaranya adalah pengguna internet dengan peringkat ke-6 di dunia atau nomor 1 se Asia Tenggara. "Sebanyak 57 persen tersebut atau kurang lebih 150 juta jiwa pengguna internet tersebut berada di rentang usia 16 sampai dengan 34 tahun,"ungkapnya.

Ketua Persatuan Wartawan (PWI) Lamongan, Bachtiar Febrianto yang menjadi salah satu narasumber di Forum Group Diskusi (FDG) yang diadakan Polres Lamongan itu menegaskan era Post Truth itu dimana tiap-tiap kelompok masyarakat mengkonstruksi kebenaran menurut versi masing-masing sesuai kepentingannya, menenggelamkan fakta, lebih menonjolkan opini dan tafsir terhadap fakta.

"Banyak pihak mengklaim dirinya yang benar, sedangkan lainnya dianggap salah, era pasca kebenaran ini juga berbahaya dan menjadi tantangan pers kedepannya," ungkap Bachtiar Febrianto.

Wartawan senior itu juga menjelaskan untuk menghadapi berbagai tantangan itu, media-media mainstream sudah membaca fenomena tersebut. Hal itu terlihat dengan adanya pergeseran paradigma pers saat ini yang mengusung jurnalisme positif.

"Kalau dulu Bad News is Good News artinya informasi negatif menjadi berita yang bagus. Tapi, sekarang Good News is Good News, jadi berita yang positif itulah berita yang bagus," terang Febri, panggilan Bachtiar Febrianto. jir

Berita Populer