Hari Ini, 5 Ribu Buruh Demo di Surabaya

Hendarwanto-Alqomar,

Wartawan Surabaya Pagi

Setelah ribuan aksi mahasiswa 26 September lalu, giliran massa buruh turun ke jalan. Rencananya, Rabu (2/10) hari ini, mereka bakal beraksi di DPRD Jatim dan Gedung Negara Grahadi. Polda Jatim yang tak ingin kecolongan, bakal mengerahkan 3.000 personelnya untuk mengamankan aksi unjuk rasa ini.

Massa buruh yang akan menggelar demo itu merupakan gabungan dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI Jatim), Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi, Pertambangan, Minyak, Gas Bumi dan Umum (FSP KEP Jatim), Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI Jatim), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia-Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI-LBH) Surabaya.

Estimasi massa gabungan dalam aksi tersebut berjumlah sekitar 5.000 orang.
Diperkirakan sejak pagi massa akan berkumpul di depan Kebun Binatang Surabaya sebelum bergerak ke Kantor DPRD Jatim.

"Pasukan kami sudah siapkan untuk mengamankan jalannya demo yang dilakukan buruh di Surabaya," kata Wakapolda Jatim Brigjen Pol Toni Harmanto, Selasa (1/10/2019).

Pada proses pengamanan ini, Polda Jatim akan kembali menerjunkan pasukan Asmaul Husna yang terdiri dari sejumlah polisi wanita, yang pada aksi unjuk rasa sebelumnya dinilai efektif meredam situasi. "Pasukan ini khusus untuk mendinginkan suasana dengan lantunan Asmaul Husna di sekitar demo," katanya.

Toni mengatakan, rencana, massa buruh yang turun ke jalan hari ini akan mencapai lima ribu orang. Karena itu, jumlah kekuatan personel polisi bisa jadi akan ditambah bergantung kebutuhan di lapangan. "Kami akan lihat di lapangan. Kalau lebih dari itu (lima ribu) kami pasti akan menambah kekuatan untuk menjaga ketertiban di Jawa Timur," papar dia.

Toni berharap pengunjuk rasa mampu menjaga ketertiban dan keamanan dalam menyampaikan aspirasi. Dia mempersilakan aksi unjuk rasa itu, biar polisi yang mengamankan situasi dan kondisi.

Untuk diketahui, demo buruh digelar untuk menyuarakan keberatan para buruh terhadap rencana revisi undang-undang ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003, yang baru saja ditunda pembahasannya oleh anggota DPR.

Sementara itu, Wakil Ketua DPW FSPMI Jatim Nurudin Hidayat menuturkan massa buruh yang ikut demo dari beberapa kota dan kabupaten di Jatim, mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Mojokerto, Probolinggo, Tuban, Jember, Banyuwangi dan Madiun. "Estimasi massa ya sekitar 5000 orang," katanya.

Ia menegaskan, aksi besok bertujuan untuk menolak wacana pemerintah untuk merevisi UU Ketenagakerjaan. "Buruh mengecam pernyataan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri dan menolak wacana pemerintah untuk merevisi UU Ketenagakerjaan," jelasnya.

Menanggapi aksi demo yang terus menerus dalam dua minggu ini, Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo mengungkapkan, demo yang berlangsung lama atau berkepanjangan akan berdampak negatif pada perekonomian Indonesia, termasuk investor dan pelaku ekonomi. Oleh karena itu, dampak demonstrasi tidak boleh dipandang sebelah mata.

"Menurut saya memang demonstrasi sebaiknya tidak dibiarkan terus-menerus terjadi. (Ini) jelas akan jadi sinyal buruk untuk pelaku ekonomi," kata Yustinus, Selasa (1/10/2019).

Menurut dia, adanya aksi demonstrasi yang dilancarkan akan memberikan dampak bagi investor maupun calon investor yang akan menanamkan modal di Indonesia. Mereka akan sangat selektif dan mempertimbangkan soal risiko ketika memutuskan untuk investasi di tengah gelombang demonstrasi. "Calon investor akan mengkalkulasi ini sebagai bagian dari risiko," ungkapnya. n