Hangout ala Warga Tionghoa

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Jika kita amati, Surabaya ini punya ragam suku masyarakat berbeda. Meski begitu jarang sekali terjadi kericuhan di sini. Mereka hidup damai tanpa membedakan satu sama lain. Mungkin inilah yang dimaksud "Bhinneka Tunggal Ika" aman, damai, dan sentosa.

Dari segi pergaulan pun banyak sekali diluar sana kita jumpai "geng" anak-anak muda yang jika kita perhatikan di dalamnya ada salah satu dari mereka etnis Tionghoa namun tetap berkumpul seperti tak berjarak. Bahkan dalam sebuah arisan yang jadi kegiatan ibu-ibu, juga ada diantara mereka yang Tionghoa.

Hangout sambil kerja

Seperti yang diceritakan Catherine Njoo kepada Surabaya pagi, dibalik kesibukannya sebagai seorang fashion desainer ternyata ia gemar melakukan kegiatan keluar bareng teman-temannya. Dalam satu minggu selalu ada saja tempat yang ia kunjungi. Seperti acara pembukaan butik, restoran, cafe, atau pun acara fashion show. Dan itu sekaligus ia manfaatkan untuk hangout bareng.

"Pokoknya hampir tiap minggu pasti adalah undangan, entah dari rekan sesama desainer atau event-event lain. Jadi sekalian aja saya gunakan buat hangout," katanya.

**foto**

Ia mengatakan punya banyak teman namun dalam kelompok sendiri-sendiri. Untuk ke gereja, biasanya ia sama teman gerejanya. Dengan teman sesama desainer juga ada. Kalau mau ke arisan, temannya lain lagi.

Untuk menghadiri event atau lagi sama teman-teman, ia lebih memilih waktu siang hari atau waktu kerja, karena pada waktu malam ia lebih memilih untuk bersama keluarga. "Biasanya kita makan, jalan-jalan klo pas sama family," ucapnya.

Dalam menjalin sosialisasi, Catherine tak pernah membeda-bedakan baik itu suku, agama, ataupun lainnya. "Nggak..nggak. Kalau saya sih berteman itu asal cocok dan nyambung aja. Gak harus yang sesama etnis atau apa. Malah waktu bulan puasa kemarin saya buka bersama teman-teman yang muslim," jelasnya.

Ia mengatakan dengan berkumpul sama teman itu banyak hal positif yang didapatkan antara lain bisa menghilangkan kejenuhan akan aktifitas, menambah pengetahuan dan jaringan baru. Kadang ia juga nge dance untuk menghilangkan kejenuhan.

Bikin acara di rumah teman

Kebiasaan nongkrong atau kumpul teman memang tak mengenal usia. Seperti Lily, perempuan 65 tahun keturunan Tionghoa ini ternyata masih suka kumpul teman-temannya saat waktu luang atau libur kerja.

Baginya punya banyak teman itu menyenangkan agar tidak suntuk. Meski tak muda lagi, namun saat berkumpul bareng teman, Lily masih mengutamakan penampilan.

Ia mengatakan bahwa penampilan itu penting. Ia rutin melakukan perawatan harian di rumah. Selain itu jika butuh perawatan lebih ia datang ke klinik kecantikan langganannya.

Selain perawatan wajah, jika ada waktu luang biasanya Lily suka menyalurkan hobby bernyanyi sama teman-temannya. Kegiatan tersebut dilakukan di rumah anggota secara bergiliran.

"Tidak ditempat karaoke tapi, jadi kita ada iuran sebulan bayar Rp 50 ribu gitu. Acaranya ya paling 2 minggu sekali atau pas ada waktu," ujar Lily.

Diluar itu semua, ia masih aktif bekerja dari Senin- Jum’at. Sedangkan Sabtu untuk kumpul teman dan Minggu untuk keluarga.

"Kalau saya tiap hari ya kerja lah.. Cari duit lah.. Buat kecantikan...," candanya.

Menyesuaikan aktivitas saat kumpul bersama

Ratna, perempuan 74 tahun ini harus melakukan sesuatu yang berdampak positif baik untuk dirinya maupun orang lain. Diusianya yang tidak lagi muda ia masih rutin melakukan treatment untuk mempercantik diri. Sering ia melakukan sendiri. Meski demikian ia acapkali berkumpul sama teman-temannya.

"Kalau untuk kumpul-kumpul biasanya tidak diagendakan, tidak sering juga, hanya beberapa kali saja. Karena bagi saya kalau kumpul-kumpul itu ujung-ujungnya hanya sekedar gosip atau hal-hal yang tidak perlu. Hal itu kan bikin waktu kita jadi sia-sia. Jadi kalau berkumpul ya harus bermanfaat," kata perempuan Tionghoa tersebut.

Ratna biasanya bersama tetangga dan teman, berkumpul sambil berbagi apa yang mau dibahas, tetapi tidak selalu demikian. Tergantung situasi dan kondisi. Ketika Ratna di Gereja maka rekan kumpulnya ya orang gereja dan bahasannya juga menyesuaikan.

"Intinya itu dengan siapa kita berkumpul ya kita akan bahas itu. Misalnya saat treatment ya kita bahas seputaran itu. Namun tetap, apa yang kita bahas dapat memberikan dampak positif," ujarnya.

Sementara itu, ketika dia bersama rekan-rekannya, pihak keluarga pun juga positif tak mau ikut campur urusan perempuan kelahiran 1945 ini. Ketika dia sedang keluar, maka baik anak maupun suami juga memperbolehkan. "Tidak ada larangan kok," katanya.

Terkait kebiasaanya yang suka treatmen diusia 70an, ia berpendapat jika hal tersebut dilakukan untuk memberikan sesuatu yang positif terhadap dirinya, harus mempercantik diri.

"Tapi jangan salah, cantik tidak hanya perawatan tetapi dari hati dan pikiran kita juga. Asal kita bahagia bisa membuat hati kita akan menjadi cantik sempurna. Kita juga bisa sharing tentang pengalaman baik kita pada orang. Nah itulah yang saya maksud dampak positif terhadap diri kita dan orang lain," jelasnya.

Dari beberapa warga yang sempat ditemui Surabaya pagi, mereka dalam bergaul tak membedakan suku, agama atau sejenisnya. Bagi mereka perbedaan adalah hal biasa, tidak perlu dipermasalahkan. Yang pasti saat mereka berkumpul mereka memperoleh sesuatu yang bermanfaat.indra