•   Minggu, 29 Maret 2020
Pemprov Jatim

Hadapi 5 Parpol, PDIP Pakai Risma Effect

( words)
Mahfud Arifin mendapat dukungan lima Parpol


SURABAYA PAGI, Surabaya - Koalisi lima partai politik (paprol) yang akan mengusung mantan Kapolda Jatim Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin menjadi calon wali kota (cawali), tidak membuat PDI Perjuangan (PDIP) gentar. Meski rekom dari DPP PDIP belum turun, partai banteng moncong putih ini telah mempersiapkan mesin politiknya. Risma effect juga diyakini bakal membantunya meraup kemenangan di Pilwali yang bakal digelar September 2020 nanti.

Sekretaris DPC PDIP Kota Surabaya Baktiono mengatakan syarat untuk mencalonkan sebagai cawali memang harus 30% suara partai di legislatif. Karena itulah, lima parpol pendukung Mahfud Arifin (MA) harus koalisi. "Sementara PDI Perjuangan Kota Surabaya meraih 30% jumlah kursi di legislatif, jadi ya kami bisa mencalonkan sendiri, dan tetap percaya diri menang dalam Pilwali Kota Surabaya," kata Baktiono di gedung DPRD Kota Surabaya, Selasa (28/1/2020).

Ia menambahkan, hanya saja soal rekomendasi siapa yang akan dipilih maju Pilwali Kota Surabaya dari PDIP itu sepenuhnya hak Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP Perjuangan. Meski begitu, PDIP siap bertarung dalam Pilwali nanti.
"Kita akan berkoalisi dengan rakyat, elememen masyarakat, tokoh masyarakat, ini riil koalisi dan optimis PDIP memenangi Pilwali Kota Surabaya nanti," ungkapnya.

Ketua DPC PDIP Adi Sutarwijono mengatakan hal sama. Pihak tidak terburu-buru deklarasi. Ia mencontohkan Pilwali 2010, saat Tri Rismaharini melawan Arif Afandi. Ketika itu Arif Afandi yang berpasangan dengan Adies Kadir diusung koalisi banyak parpol. ’’Pada 2010, PDIP juga sendirian melawan koalisi besar dan menang,’’ kata politisi yang akrab disapa Awi ini.

Selain faktor calon yang diusung, menurut Awi, mesin politik menjadi kekuatan PDIP. Ia menegaskan loyalitas dan militansi kader PDIP tidak diragukan lagi. Terbukti, dalam beberapa kali pilkada di Surabaya, PDIP selalu menang telak. ’’Namun, konsolidasi internal untuk menguatkan kader dan anggota tetap dilakukan,’’ tegasnya.

Selain itu, lanjutnya, PDIP memiliki kekuatan yang tidak dimiliki calon lain, yakni Risma effect. Selama dua periode menjadi Walikota Surabaya, kinerja Risma diapresiasi banyak pihak. Wali kota perempuan pertama di Kota Pahlawan itu juga mampu membangun kota makin baik. Baik dari sisi infrastruktur maupun tata kota. Karena itu, Awi masih percaya sosok Risma menjadivote-getter pada Pilwali 2020.

Panasi Mesin Politik
Sementara itu, DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Surabaya siap menyalakan mesin politiknya untuk pemenangan Mahfud Arifin (MA) di kontestasi Pilwali Surabaya 2020. Seperti diketahui, PPP merupakan salah satu parpol yang ikut mendeklarasikan dukungannya ke Machfud Arifin sebagai Cawali Kota Surabaya pada Minggu (26/1/2020) lalu. Sedang parpol lainnya dalah Gerindra, PKB, PAN, dan Demokrat.

Ketua DPC PPP Surabaya Buchori Imron mengatakan pihaknya telah mulai menggerakkan jajaran di DPC sampai ke tingkat Ranting. “Kita sudah mulai gerakkan mesin politik hingga pengurus ranting PPP, untuk merebut kemenangan Bacawali MA menjadi Walikota periode zaman now,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (28/1/2020).

Anggota Komisi C DPRD Surabaya ini menjelaskan, DPC PPP Surabaya hanya melanjutkan penetepan calon yang telah ditetapkan oleh DPP, yakni memberikan kepercayaan kepada MA untuk Bacawali Surabaya. Menurut dia, sosok MA yang pernah menduduki posisi penting di Jatim yakni sebagai kapolda, memang layak maju dalam Pilwali Surabaya. “PPP Surabaya akanall out memenangkan Machfud Arifin menjadi Walikota Surabaya pengganti Bu Risma,” ungkapnya.

Soliditas Koalisi Besar
Pakar politik asal Unair, Suko Widodo mengungkapkan koalisi besar di Pilwali Surabaya belum tentu ampuh untuk memenangkan pilihan masyarakat di Pilwali Surabaya 2020. Menurutnya, hal itu didasari beberapa alasan secara khusus. “Bukan hanya di Surabaya saya rasa, melainkan di banyak daerah juga, masyarakat sedang mengalami kondisi apolitis. Salah satunya dipicu banyaknya kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi,” ujar Suko Widodo, Selasa (28/1/2020).

“Ini saya rasa menjadi tantangan bagi mereka. Termasuk soal bagi-bagi kue di koalisi gemuk,” tambah dosen Fisip Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini.

Soliditas antar partai dan internal masing-masing pun, menurut Suko bakal menjadi tantangan serius tersendiri. “Bagaimana mengkondisikan semua lini solid hingga level akar rumput. Itu perlu dipikirkan formulasinya,” papar dia.

“Pola komunikasi lah intinya. Kalau itu bisa dikondisikan dengan tepat, maka koalisi gemuk ini bisa menjadi kekuatan tersendiri. Mereka bisa benar-benar memenangkan ceruk di semua lini. Hingga akar rumput,” terang Suko.n alq/rga

Berita Populer