Gus Hans, Awey, dan Herlina jadi Penantang Calon PDIP

Rangga Putra,
Wartawan Surabaya Pagi

Pilwali Surabaya yang selalu dimenangkan calon dari PDIP, membuat parpol lainwait and see. Apalagi PDIP memiliki 15 kursi di DPRD Surabaya dan meraih suara terbanyak di Pemilu 2019 lalu. Mereka tampaknya menunggu siapa calon walikota (Cawali) dan calon wakil walikota (Cawawali) yang bakal direkom DPP PDIP.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), misalnya. Menurut Ketua DPC PKB Kota Surabaya Musyafak Rouf, partainya belum ada rencana untuk membuka pendaftaran atau penjaringan bakal calon. Padahal, terdapat sejumlah nama yang santer disebut-sebut berminat mendaftar via partai ini.

Beberapa nama yang kerap disinggung antara lain, Firman Syah Ali (keponakan Menko Polhukam Mahfud MD), Dwi Astutik (Wakil Sekretaris Muslimat Nahdlatul Ulama) dan Wisnu Sakti Buana (Wakil Walikota Surabaya saat ini)

Menurut Musyafak, PKB Surabaya masih menunggu petunjuk dari DPP PKB untuk memutuskan langkah politik selanjutnya. Walau demikian, hal tersebut tak menyurutkan langkah DPC untuk terus membangun komunikasi politik dengan partai-partai lain. "Kami terus menjalin komunikasi politik dengan partai-partai lain, terutama PDIP," cetus Musyafak Rouf kepada Surabaya Pagi, Rabu (30/10).

Pasalnya, untuk memenangkan kontestasi Pilwali Surabaya 2020, PKB tidak bisa melangkah sendirian karena terganjal syarat jumlah kursi di parlemen. Oleh sebab itu, strategi yang paling realistis adalah dengan berkoalisi dengan partai lain.

Terpisah, Sekretaris DPC Partai Demokrat Surabaya Dedi Prasetyo membantah jika Herlina Harsono Njoto sudah resmi disiapkan oleh partainya. Menurut Dedi, adalah benar dari internal partai Demokrat yang paling moncer saat ini adalah Herlina.

Selain itu, beragam spanduk dan baliho yang menunjukkan keseriusan Herlina maju Pilwali juga tampak semarak di berbagai belahan Kota Surabaya. Tetapi, sambung Dedi, partai belum memutuskan apapun. Saat ini, partainya tengah memantau kalangan birokrat untuk dijaring sebagai bakal calon.

"Bu Herlina belum resmi diusung. Kalau dari internal partai, betul Bu Herlina yang paling santer. Tapi kalau dari eksternal, kami memantau dari kalangan birokrat, seperti Pak Eri (kepala Bappeko Eri Cahyadi) dan Pak Hendro (sekkota)," ungkap Dedi.

Seperti halnya PKB, Partai Demokrat juga terus menjalin komunikasi politik untuk menemukan pasangan koalisi. Soalnya, seperti yang sudah diketahui, hanya PDIP yang bisa mengusung calonnya sendiri. "Tentu kami siap berkoalisi. Sudah ada beberapa partai yang menjalin komunikasi seperti NasDem dan PSI," tutur Dedi, "Termasuk PDIP juga."

Di lain pihak, Sekretaris DPD PSI Surabaya William Wirakusuma mengungkapkan, partainya saat ini fokus menyiapkan agenda khusus untuk menyaring 18 bakal calon yang mendaftar via partainya. Beberapa nama yang diketahui mendaftar via PSI antara lain Vinsensius Awey, Zahrul Azhar Asad (Gus Hans), Ali Azhara dan Firmansyah Ali.

Menurut William, dalam upaya memenangkan pemilu, PSI tidak seperti partai lain yang calonnya ditentukan oleh DPP. Sebaliknya, sambung William, DPD PSI Surabaya bakal menggelar konvensi untuk menilai potensi dari masing-masing calon. Panelis yang diutus pun akan datang dari kalangan independen yang berkompeten. Ini artinya, sistem seleksi PSI lebih terbuka untuk umum. "Jadi, siapa calon yang bakal diusung nantinya berasal dari hasil konvensi," ungkap William.

Sementara itu, sederet tokoh telah menunjukkan keseriusan mereka untuk mengikuti kontestasi Pilwali Surabaya 2020. Teranyar, mantan anggota DPR RI asal Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono mengambil formulir pendaftaran di DPC Partai Gerindra Surabaya, Selasa (29/10).

Kepada Surabaya Pagi, Bambang Haryo mengaku didorong oleh Ketua DPC Partai Gerindra Surabaya BF Sutadi, PAC-PAC, dan sebagaian masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam Pilwali Surabaya. Walau demikian, Bambang Haryo sendiri menyadari, bertarung sebagai bakal calon dari Partai Gerindra tidak mudah.

Soalnya, partainya tidak punya cukup kursi untuk mengusung calon sendiri. Oleh sebab itu, dia diminta untuk mencari koalisi. Untuk diketahui, Partai Gerindra hanya punya lima kursi. Artinya, perlu lima kursi lagi untuk memenuhi syarat.

"Minimal kan sepuluh kursi. Kami optimis memenuhi target 12 kursi," ungkap Bambang Haryo. n