•   Senin, 18 November 2019
PERISTIWA

GERHANA DAN SLILIT PERKOTAAN

( words)
Suparto Wijoyo Kolomnis, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga


TATA surya menunjukkan geliat galaksi yang menyembulkan kuasa Illahi yang sangat fenomenologis: Super Blue Blood Moon, Rabu malam, 31 Januari 2018. Pengakhiran bulan awal 2018 yang sangat spektakuler dengan peristiwa Gerhana Bulan saat purnama membulatkan dirinya secara sempurna. Gerhana bulan total niscaya telah disimak penuh harap dan haru yang menyelimutkan ketebalan iman. Tuhan mempertontonkan kedigdayaan-Nya menata rotasi Bumi, Bulan dan Matahari untuk saling “menyelinapkan diri” dengan pesan utama: inilah pertanda ayat-ayat Tuhanmu yang seharusnya engkau “tafakuri”.
Pembelajaran yang amat menarik dan lahan untuk menggali sains lebih dari yang tengah dicapai umat manusia. Gerhana di kala supermoon pun diprediksi memacu gerak alam: gunung bisa mewartakan letusannya dan laut membuncahkan airnya, gelombang samudra menyuguhkan rob yang dapat melanda. Semuanya dapat menyerta, mengingat daya tarik bumi memang sedang menguat tidak sebagaimana biasanya. Sungguh ada narasi kurikulum kehidupan yang menggerakkan pola edar Bumi-Bulan-Matahari, sehingga gerhana terjadi dan Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan untuk shalat gerhana. Ini mencerminkan bukti yang sangat kokoh antara ilmu pengetahuan dan ajaran Islam dalam segala dimensinya. Urusan shalat gerhana sampai tata cara bernegara sejatinya diatur norma-normanya dalam Kitab Suci-Nya.
Realitas Super Blue Blood Moon itu seyogianya menjadi referensi bahwa “sirkulasi alam” dapat menghadirkan fakta yang mencengangkan. Untuk itulah kejadian gerhana selalu terkait dengan “daulat Tuhan” untuk “menebarkan pesan teologis kepada manusia” agar menyadari bahwa di luar dirinya ada kuasa adikodrati.
Terhadap hal ini dapat pula menjadi media renungan untuk meningkatkan “ghirah beriman” guna berefleksi bilamana “penggerhanaan” itu merupakan pengingat agar engkau tidak melakukan ikhtiar “menggelapi hidup warga kota”. Tentu saja hal ini dapat diperlebar dalam “tafsir urban” yang kini publik dapat menyaksikan bahwa Gedung Negara Grahadi tengah dirangseki pembangunan hotel yang dapat menggulirkan roda “peristiwa gerhana perkotaan”.
Sudilah pembaca Kontemplasi beberapa jenak waktu mengamati areal depan Gedung Negara Grahadi, terdapat proyek pembangunan hotel yang tampak “berdiri angkuh” memunggungi atau “menantang” Grahadi. Paling tidak “membuat Grahadi tergerhanai”, dan itu terjadi di Surabaya, sebuah kota yang senantiasa dicirikan dengan “watak ekologisnya yang sangat heroik”. Banyak hal tentu dapat dikaji sehubungan dengan posisi Grahadi sebagai “rumah negara” yang acapkali disinggahi rakyat bersama pemimpinnya. Presiden dan tamu negara bolehlah “menginap” di sana dan andai “teroris” itu masih menjadi perhatian Densus 88, tidakkah bangunan gedung tinggi yang “berlagak kekar” depan Grahadi dapat menjadi “media yang mengancam keselamatan tamu negara”. Meski dapat dilakukan pengamanan dan sterilisasi teritori saat Sang Presiden bertamu, serta dilengkapi “penutup dengan plat baja”.
Secara ekologis dan planologis perkotaan, bangunan itu dapat menjadi “slilit” yang sangat problematis. Slilit itu meski berupa “seserat benda sisa makan, seperti daging, sekecil apapun, di sela gigi, amatlah mengguncangkan organisme, bahkan metabolisme tubuh. Pembaca diniscayakan mengalami. Rasakan dan dalami akibat-akibatnya. Seru bukan? Tetapi sampai di sini ternyata ada para pihak yang kasebut intelektual menjustifikasi seolah menandakan dirinya selaku “antektual”, sehingga konstruksi pembangunan ini dalam koridor tata ruang, kok ya, tetap sah-sah saja. Dan apa yang tergelar di areal Grahadi itu semoga dapat menjadi perhatian pula meski beritanya nyaris lirih dibandingkan dengan kabar viralnya “imam shalat di Afghanistan” maupun hiruk pikuknya pilkada.
Ya … genderang kontestasi pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur yang diagendakan 27 Juni 2018 terus ditabuh dengan bertalu-talu. Nama-nama yang muncul untuk menggantikan kedudukan Pakde Karwo, Gubernur Jawa Timur saat ini terlihat hilir-mudik menggalang kekuatan sambil menyodorkan “pelantun dangdut”. Di tengah sawur manuk (perbincangan bersahutan) yang ramai digunjingkan warga mengenai tokoh yang berlaga menjadi Gubernur Jawa Timur itu, penguasa Surabaya tampak “bertegur sapa” di Sekolah Partai pada masa Surabaya membutuhkan perhatian dengan munculnya “gerhana kota” yang mewedarkan kesan “hotel nyaplok Grahadi”.
Surabaya selama kepemimpinan sekarang ini sejatinya tampil kinclong, tetapi bukan berarti tanpa masalah yang “tersembunyi” di balik panggung perkotaannya. Semua orang menyaksikan lagak keseharian Surabaya yang begitu meriah digeber. Bebunyian dan tarian kian bertalu dalam balutan parade yang memesona setiap ada momen penting. Ajang jajanan ataupun fashion show diworo-woro seiring dengan tawaran belanja penuh diskon. Bahkan soal taksi online saja kian “bikin panas-dingin”. Di sinilah, laku perkotaan sungguh menyeruak di bentara warganya setarikan nafas gemerlap wajah Kota Pahlawan. Jargon Sparkling Surabaya menawarkan mimpi seperti dirumuskan Frans Kafka (1883-1924) sebagai realitas yang belum mampu dijangkau konsepsi.
Sinar terang jalanan dan kerlap-kerlip lampu yang memantul dari gedung-gedung tinggi seolah berbisik menyapa penghuninya: “dari sinilah kita dapat berkisah”. Pembangunan digencarkan dengan apartemen dan hotel serta jalan lingkar yang menyisir setiap jengkal. Konfigurasi taman-taman indah dan tersusunnya beton-beton “memunjul” yang tersebar semakin meneguhkan supremasi Surabaya yang merepresentasikan “living the global city” sebagaimana diintrodusir John Eade (1997).
Itulah yang terbaca khalayak selama tahun 2017 dan mengawali 2018 ini. Kota yang telah dikelola dengan menawarkan beragam kemudahan dan memberikan bingkai green city untuk dikualifikasi sebagai ruang tinggal yang memenuhi persyaratan berkelas internasional, our urban future dalam telisik The Worldwatch Institute (2007). Ini merupakan puja puji yang sepatutnya didapat Surabaya dengan catatan, kota ini tetap harus dieja lebih cermat di tengah banyak orang membacanya terlalu cepat.
Kehidupan Surabaya sejatinya menyelipkan fenomena lain mengenai sejumlah aset yang diduduki pihak liyan. Sparkling kian remang dengan hasil Riset Tata Kelola Ekonomi Daerah (TKED) yang menempatkan Surabaya Ranking Ke-27 di tahun 2016-2017 lalu. Survei Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) menemukan fakta: biaya pengurusan perizinan yang tinggi, pelaku usaha membayar transaksi tidak resmi, akses informasi terbatas bagi usaha kecil, dan pelaku usaha harus membayar biaya tambahan untuk keamanan dan perlindungan kepada oknum. Alhasil, dari 32 ibu kota provinsi yang diriset, Surabaya bertengger diposisi 27, lebih rendah dari Jayapura (26).
Situasi semakin “meriang” dengan hasil Unas yang menempatkan Surabaya Peringkat Ke-21. Sesuai Daftar Kolektif Hasil Ujian Nasional (DKHUN) SMA/SMK yang dibaca warga, performance pendidikan Kota Pahlawan singgah di lorong kelam, walaupun peringkat 21 ini jauh lebih baik daripada tahun 2016 yang berada diurutan ke-27. Kenyataan ini semakin menambah bayang-bayang kelabu Sparkling dengan maraknya fluktuasi angka kriminalitas yang mengepung di banyak kampung, saluran air PDAM yang belum merata, tentang Surat Ijo yang terus menggeliat.
Lebih dari itu, kota ini menyuguhkan pula gambaran harga diri yang terkoyak. Laju “pengingkaran” identitas dan karakter kota kian kencang. Simaklah bagaimana jati diri kawasan dihilangkan dengan menghadirkan nomenklatur baru yang disorong menjadi simbol modernitas. Penyaplokan nama secara terencana mewabah oleh investor yang abai pada kearifan lokal. Sungguh keperihannya dirasakan oleh mereka yang masih memegang teguh asal usul daerahnya. Properti di koordinat Lontar, Lekarsantri yang merembet di areal Pakal dan Benowo, bukan Lekarsantri Land, bahkan patung yang berdiri bukanlah lambang “Suro-Boyo” tetapi “Singa Duyung”. Sejak kapan legenda Singa Duyung didongengkan dalam rekam jejak perkotaan Surabaya? Ruang planologi Wonokromo dan Ketintang “pasrah” pula atas hadirnya pertokoan yang tidak mengusung atribut “Ketintang Plaza”. Beragam segmen wilayah di kota ini mengalami amputasi diri yang dalam jangka panjang menciptakan amnesia sejarah bagi anak-cucu Kota Pahlawan. Akankah warga kota ini, esok hari menjadi orang asing seperti yang terekam dalam novel apik Albert Camus (1913-1960) L’Etranger (The Outsider).
Apabila kondisi ini dibiarkan, masihkah Are-arek Surabaya mengenali kotanya secara maknawi? Mereka kuyakini tidak akan mengerti kisah nyanyian Burung Bibis di Wilayah Tandes, tidak merengkuh sejuknya Tanjungsari, dan tidak merasakan segarnya air kehidupan Banyu Urip, karena semua sedang di box culvert. Generasi abad ke-21 Surabaya niscaya tidak merasakan enaknya buah Rukem di Kedung Rukem atau sejuknya rerimbunan pohon bambu di Ampel Denta.
Perjalanan Surabaya ini telah memberikan cerita “dunia lain” di samping ujaran kemajuan yang menggumpal di setiap sudut kota. Watak dasar kota ini ditanggalkan berlahan dengan diberi topeng artifisal, persis kisah hidup yang dituang David Albahari, Cerpenis asal Serbia dalam karyanya Trash is Better, Cinta Semanis Racun (2016). Mematikan bukan? Apa yang dapat dibanggakan dari sebuah kota yang mengalami derita peradaban? Kota yang menanggalkan mahkotanya, dan tanpa sadar sedang kehilangan karakter historisnya yang heroik. Surabaya terjun bebas dengan “drama proyek box culvert”, yang juga tak kunjung usai.
Adakah itu melukiskan kegundahan batin warga Surabaya? Memang Surabaya harus tampil menarik secara humanis, ekologis, planologis, sosial dan yuridis. Kita membutuhkan tempat yang menyehatkan nurani dan jasmani. Tiba saatnya merenungkan sengkurat sisikmelik Surabaya. Saya percaya, kita semua tidak hendak sekadar mampu bertutur mengenang kota ini laksana berimajinasi dalam Memories of a Lost World yang ditulis Charlotte Fiell & James R. Ryan (2011) atau novel provokatif Maxim Gorky The Life of A Useless Man (1990). Kenangan atas kota yang meminjam bahasa Maxim Gorky terputus oleh “pecundang” dari ranah sosio eko-antropologisnya. Inilah ejaan yang kerap luput dalam bincangan pesta kota. Membiarkan Surabaya berjalan sendiri tanpa ditemani kritik, sama dengan merelakan kota ini mengalami tragedi.
Itu semua adalah problema yang tersamar dan tercecer di “jalanan” Surabaya. Penguasa Surabaya mengerti betul apa yang harus dituntaskannya. Gedung-gedung jangkung yang kian angkuh telah merangsek ke wilayah “tahta negara”, Gedung Negara Grahadi. Selanjutnya saya kembalikan ke warga Surabaya yang tempo hari, Rabu malam, 31 Januari 2018, terlihat sebagiannya, khusuk menjalankan Shalat Gerhana Bulan, di saat kota merangkak riuh dalam temaran lampu-lampu dunia malam yang berkelap-kelip.

Berita Populer