Gaya ’Menyerang’ Jokowi di Arena Pilpres 2019

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Memasuki bulan kedua masa kampanye Pilpres 2019, kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden semakin banyak bermanuver dengan berbagai taktik guna menjaring suara dan simpati masyarakat pada April 2019 mendatang.
Tak terkecuali Joko Widodo sebagai petahana. Sempat bergaya tenang pada bulan pertama kampanye, Jokowi mulai ’ikut-ikutan’ menanggapi berbagai serangan yang ditujukan padanya.
Mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu juga mulai terlihat agresif membalas kampanye blusukan yang dilakukan calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno dengan mengeluarkan penyataan bantahan harga-harga.
Kembali berhadapan dengan Prabowo Subianto di pilpres tahun depan, Jokowi malah makin aktif menangkis serangan lawan politiknya dengan lontaran-lontaran kalimat tak biasa.
Misalnya, secara terang-terangan Jokowi menyerang balik lawannya dengan istilah politisi sontoloyo dan genderuwo. Jokowi juga berkali-kali menegaskan bahwa ia bukan bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI) dan bukan antek aseng dan asing.
Terkini, beberapa waktu lalu di Bandung, Jokowi menyerang balik pernyataan Prabowo soal ’99 persen masyarakat
Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Arya Budi justru menilai sikap yang ditunjukan Jokowi akhir-akhir ini bisa jadi adalah gambaran rasa tidak aman atau insecure dari sang petahana.
Jokowi kata dia, dinilai sedang berkaca pada Pillada DKI 2017 lalu. Kala itu Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang juga petahana harus menerima kekalahan karena disangkut-sangkutkan dengan isu yang sebenarnya tak ada hubungannya dengan kinerja dia selama memimpin DKI.
"Padahal saat itu, Ahok didukung banyak Parpol besar," kata Arya kepada wartawan beberapa kesempatan lalu.
Jokowi meski tampak santai, bisa jadi menurut Arya, dia merasa gerah dengan berbagai terpaan miring yang ditujukan padanya. Sebab jika melihat hasil survei masih banyak masyarakat yang percaya kalau mantan Gubernur DKI itu adalah PKI hingga antek China.
"Makanya dia bisa saja insecure, itu poin saya," kata Arya. Meski begitu semua hal terkait Jokowi tak bisa ditarik langsung sebagai kesimpulan. Bagi Arya, Jokowi tetap hobi bermain simbol. Bisa jadi, gaya dia saat ini hanya taktik dan simbol yang sedang dia mainkan.
Namun tentu saja, hal itu tetap bisa berbahaya untuk Jokowi, mengingat jika dibandingkan Prabowo menurut Arya gaya retorika Jokowi tentu masih tertinggal jauh di belakang. "Tapi tentu mesti hati-hati. Jokowi bisa kalah karena gaya retorika dia tak lebih baik dari Prabowo," katanya.
Sementara itu pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio menyarankan sebaiknya gaya komunikasi yang dilakukan petahana Presiden Joko Widodo tidak "menyerang" atau menanggapi serius serangan yang dilontarkan.
Hendri menyatakan jika mengacu pada teori fungsi kampanye, seharusnya Jokowi cukup mempromosikan diri atau minimal bertahan dan tidak ikut menyerang.
Hendri menilai, kondisi ini bisa saja terjadi karena tiga hal. Pertama Jokowi terpengaruh pembisiknya sehingga terpancing keluar. Kedua, kubu Jokowi panik sehingga memaksakan diri keluar karena percaya bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang.
"Ketiga, atau memang aslinya gaya komunikasi politik Jokowi yang agresif sehingga memang ingin muncul di permukaan," tutup Hendri. Jk