Garuda Indonesia Batal Himpun Dana Rp 12,6 T

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk telah membatalkan penghimpunan dana sebesar 900 juta dolar AS atau sekitar Rp 12,6 triliun (kurs Rp 14 ribu per dolar AS).

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Garuda Indonesia Fuad Rizal menyatakan pembatalan itu dilakukan dengan mempertimbangkan belum tersedianya laporan keuanganlimited review atau laporan keuangan audit hingga tanggal pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dapat dijadikan dasar penentuan transaksi material.

"Hal itu sebagaimana diatur dalam Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Nomor IX.E.2 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama," papar Fuad Rizal dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa (31/12).

Sebelum meminta persetujuan untuk mencari dana sebesar itu, perusahaan memang harus melakukan audit laporan keuangan terlebih dahulu. Namun entah kenapa audit itu tak berhasil dilakukan.

Disampaikan, penghimpunan dana sebesar itu sedianya untuk pelaksanaan pembiayaan kembali (refinancing) utang perseroan sebagaimana telah disampaikan ke publik pada 16 Desember 2019 lalu melalui BEI.


Saat ini, Fuad Rizal mengatakan perseroan sedang mengkaji opsi lain dalam penghimpunan dana yang akan jatuh tempo dengan tetap mematuhi ketentuan yang berlaku.


"Perseroan saat ini masih melakukan pengkajian alternatif pendanaan lain untuk memastikan tetap terealisasinya tujuan refinancing hutang keuangan yang jatuh tempo dalam satu tahun dengan tetap mematuhi ketentuan yang berlaku," paparnya.


Sebelumnya, Fuad telah mengatakan bahwa pihaknya berencana mencari utang hingga 900 juta dolar, yang sebagian untuk membayar utang jatuh tempo sebesar 500 juta dolar. Sisanya akan digunakan untuk modal kerja.

Utang yang jatuh tempo tersebut merupakan sukuk yang sudah berjalan sejak 2015. Garuda sendiri berencana memindahkan utang jangka pendek tersebut ke utang jangka panjang.

Selain itu, dalam keterbukaan informasi pada 16 Desember 2019 lalu melalui BEI disebutkan, perseroan memiliki hutang keuangan yang jatuh tempo dalam satu tahun sebesar 1.636 juta dolar AS dan utang keuangan yang jatuh tempo di atas satu tahun sebesar 77 juta dolar AS.