GADIS BELANDA

JAM sudah menunjukkan pukul 9 malam tapi kendaraan masih lalu lalang di jalan raya. Seolah enggan pulang. Sedangkan aku masih duduk di sebrang jalan bangunan tua peninggalan Belanda hanya dengan beralaskan koran bekas. Malam ini hatiku sedang kalut, rasanya tidak ingin pulang.

Waktu terus berjalan hingga jarum jam telah menunjukkan angka 10 malam.Rasa-rasanya lebih baik aku tidak pulang saja. Begitu pikirku. Aku ingin menikmati malam ini dengan memandang bangunan tua klasik yang sangat misterius. Mungkin itu bisa menghibur diriku yang harus menerima kenyataan pahit bahwa kekasih yang aku cintai selama ini pergi meninggalkanku dan berani mecumbu wanita lain.

“Hebat sekali, baru tadi pagi kau bilang sayang padaku. Lalu sore ini ku mendapati kau bercumbu dengan pelacur itu”. Gerutuku lirih diselingi dengan senyum tipis kebencian.

Yah.. aku lebih suka menyebutkan pelacur daripada seorang wanita. Tubuhnya lebih tinggi dariku, kulitnya kuning langsat dengan rambut panjang terurai. Ah aku benci wanita itu! Dia sesungguhnya adalah kawan baikku sebelum kejadian ini namun mulai sejak tadi aku sudah tidak mengenalnya.

Lagi-lagi aku kembali memusatkan perhatianku ke bangunan tua itu. Bangunannya kokoh dengan ornamen khas Eropa saat itu. Mungkin bangunan ini dulu terbilang modern di jamannya. Terdapat jendela yang besar di bangunan itu dengan pagar besi melingkar di sekitarnya.

Kali ini aku lebih tertarik untuk menuju ke bangunan belanda itu, setidaknya untuk berteduh semalam saja. Walaupun terlihat menyeramkan, namun itu tidak masalah bagiku. Bukankah hantu juga memang ada sejak dulu?.

Langkahku terhenti di rel kereta tebu. Bangunan ini pada masanya memang dijadikan pabrik tebu. Akan tetapi saat ini hanya menjadi bangunan tua yang tak terurus dengan banyak kisah mistis di dalamnya.

Aku memutuskan masuk ke gerbang sebelah kiri, berteduh di dalam garasi mobil. Di dalamnya ada mobil jeep tua warna hitam yang menjadi saksi bisu atas kehidupan di bangunan ini. Debunya mengepul hingga sekian centi. Kacanya retak tanda tak terurus. Aku melirik jam di tanganku ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kantuk menyerangku dan memaksaku untuk lekas tidur.

**foto**

BRAKK!

“Haduh suara apasih itu?”. Tanyaku lirih sambil melirik sekitar.

Aku tertegun ketika melihat sesosok wanita belanda dengan gaun putih tulang sedang berdiri di pintu garasi. Tubuhnya tinggi dengan kulit putih pucat seperti tak pernah terkena matahari. Rambutnya pirang dengan hiasan pita berwarna putih tulang senada dengan gaunnya. Sorot matanya tajam. Wajahnya begitu cantik khas negeri Belanda dengan hidung mancung bibir tipis. Namun bukannya lari aku justru semakin dalam memandanginya, mencoba menebak apakah aku hanya mimpi? Sepertinya tidak.

Dia mendekat. Semakin mendekat. Baunya harum bagai bunga cendana. Tubuhku sedikit gemetar tanpa sadar keringat dingin mulai mengucur deras dibalik bajuku.

“Sedang apa disini?”. Bibirnya begitu tipis dengan senyum menghiasi.

“hm.. numpang tidur”. Dalam kondisi lelah aku mencoba menjawab sekenanya.

“sudah lama tidak ada orang mengujungi tempat ini.” Lagi-lagi dia tersenyum tipis. Senyumnya justru terlihat mengerikan.

“iya saya ingin tidur semalam disini.” Kesadaranku kini mulai pulih.

HIHIHIHI...HIHIHI..HIHIHIH..

Bukannya balas menjawab, dia justru tertawa. Tawanya sungguh melengking memenuhi seisi ruangan, memantul dari tiap sudut. Sungguh memekakkan telinga.

Aneh sekali kakiku terasa kaku. Tubuhku menggigil mendengar suara tawanya. Keringat dingin tak terasa membasahi seluruh tubuh. Sedangkan dia, hantu belanda itu.. terus melayang-layang dan tertawa menyeramkan. Sungguh menyebalkan!

Kali ini dia justru mantap berdiri di depanku dengan penampilan yang berbeda. Jika beberapa menit yang lalu aku mendapati seorang gadis belanda yang cantik dengan gaun berwarna putih tulang. Justru saat ini aku melihat seorang gadis belanda yang buruk rupa. Gaunnya terbakar menyisakan selembar kain gosong yang menutupi dada dan paha. Tubuhnya melepuh dengan darah segar mengucur di tangan dan kakinya. Wajahnya rusak tak berbentuk, mulutnya robek hingga telinga. Baunya? Jangan ditanya karena sangat busuk!

Hatiku bergidik ngeri, mataku mulai berair. Aku ingin pergi saja dari sini. Dia, hantu itu menatapku tajam. Tanpa kusadari matanya berair. Dia menetaskan air mata, sekaligus darah. Kurang lebih begitu.

“mau apa kamu?” aku sedikit memberanikan diri bertanya.

“huhuuh...” dia justru menangis dan duduk di sebelahku.

Aroma busuk disertai gosong semakin menyengat. Rambut lurus berwarna pirang kini berubah menjadi beberapa helai dan sisanya hilang terbakar, memperlihatkan kepalanya yang terkelupas.

Dia terus menangis. Aku semakin ngeri melihatnya. Ngeri melihat wajahnya yang sangat menakutkan juga ngeri mendengar tangisnya yang justru membuat suasana semakin mencekam. Aneh sekali padahal tadi dia tertawa lalu sekarang menangis. Apakah memang hantu selabil itu?

AKU INGIN MEMBUNUH WANITA ITU!

AKU INGIN DIA MATI!

Teriakannya sungguh memekakkan telinga. Dia mendekatkan wajahnya kepadaku. Terlihat jelas darah tak henti-hentinya mengalir melalui matanya. Tangannya menyentuh pundakku. Panas. Seluruh tubuhku rasanya terbakar. Jantungku berdebar tak karuan. Aku seperti terbakar dan merasakan sakit yang luar biasa. Hantu itu mengoyak-oyak tubuhku memberikan efek terbakar disetiap denyut nadiku. Tak terasa darah segar keluar dari hidungku. Mulutku tercekat. Mataku terbelalak. Aku menatap wajah itu, wajah yang menyeramkan. Dengan wajah melebuh, bibir robek terbakar. Mata meleleh mengeluarkan darah segar tiap detiknya. Baunya busuk. Sangat busuk. Hantu itu mencekikku! Membuatku sangat sulit bernafas! Pita suaraku tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Inginku ku teriak dan meminta tolong. Semakin aku berusaha bersuara semakin hantu itu mencekikku dan memberikan efek terbakar di tenggorokanku. Tuhan.. kenapa bisa begini?

Miss Elsa, word wakker! jij waarom?” (Nona Elsa, bangunlah! Kamu kenapa?) suara seorang perempuan di depanku.

met mij gaat het goed.” (saya baik-baik saja) aku menjawab sekenanya mencoba melihat siapa yang sedangmembangunkanku.

Het lijkt erop dat je een nare droom hebt, hè?” (sepertinya kamu sedang mengalami mimpi buruk, ya?) tanyanya lembut.

Nee..” (tidak). Nafasku tertahan sejenak.

Oké, ik ga eerst.” (oke, saya pergi) Dia senyum sepintas lalu hilang dari balik pintu.

Tubuhku masih tertegun ketika mendapati bahwa seorang yang membangunkanku adalah seorang wanita Belanda yang ada di mimpiku. Wajahnya begitu mirip. Namun kali ini dia mengenakan pakaian perawat dengan rambut pirang diikat rapi. Wajahnya cantik, bibirnya tipis dengan pipi kemerahan. Dia menatapku lembut, menyentuh tanganku, menanyakan sesuatu padaku lalu pergi. Menyisakan rasa penasaran yang membuncah di dadaku. Siapa dia?
Aku menatap dinding, disana tertulis...
St. Lucas Andreas Hospital, Amsterdam
In 04 April 2020

Dahlia Sylviana Putri – Sidoarjo