Fasilitas Cuci Tangan Dirusak

Surabaya Pagi, Surabaya - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKP-CKTR) meminta kepada masyarakat agar turut menjaga fasilitas publik yang sudah disediakan pemerintah.

Terutama fasilitas wastafel yang sudah di pasang di 794 titik di Kota Pahlawan

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang Robben Rico menegaskan wastafel yang telah dipasang tersebut adalah milik bersama dan untuk kepentingan bersama pula. Makanya, dalam hal ini masyarakat diminta untuk memanfaatkan dan menjaga alat ini sebaik mungkin, bukan malah merusaknya.

“Jadi, ini ada yang merusak. Ada tempat sabun yang rusak. Ada yang pecah, patah, karena memang yang menggunakan orang banyak. Lalu untuk perbaikan sudah kita perbaiki lagi. Kami minta warga bersama-sama menjaga dan mengawasinya,” kata Robben saat ditemui di Pembuatan Bilik Sterilisasi, Belakang Gedung Balai Kota Surabaya, Selasa (1/4).

Selain rusak, ada 14 lokasi yang salah satu item dari wastafel itu hilang. Salah satu contohnya yang terdapat di pintu Gelora Tambak Sari, mulai dari tempat air, tisu dan tempat sabun tidak ada di tempat. Bahkan, 13 titik lainnya yang ada di taman, puskesmas, pasar juga beberapa item hilang dan ada pula yang rusak.

Ia berharap sehabis menggunakan alat ini warga diharapkan ikut menjaga dan merasa saling memiliki. Bukan hanya untuk warga Surabaya saja, tetapi untuk seluruh masyarakat yang menggunakannya. “Saya berharap ini juga digunakan dengan baik, menjaga dan ikut merasa memiliki, itu yang paling penting,” ungkapnya.

Robben berharap masyarakat ikut memantau alat ini. Semisal jika ditemui tendon persediaan air habis, sabun habis dapat melaporkan langsung ke Command Center 112. “Kami sangat berterima kasih bila ada laporan semacam itu, selain bersama-sama menjaga, warga juga kami harap menyampaikan kondisi nyata di lapangan,” ujar dia.

“Syukur-syukur kalau masyarakat mau memasang wastafel di daerahnya masing-masing. Jadi karena semakin banyak tempat, warga terus terdorong. Ini style (gaya) baru yang harus kita lakukan bersama-sama,” imbuh Eddy.Alq