Erdogan Dikritik, Turki Tak Kunjung Lockdown

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kini banyak dikritik warga. Pasalnya, saat kasus corona (COVID-19) meningkat, ia belum juga mengumumkan penguncian wilayah (lockdown) seperti Italia dan Prancis. Demikian laporan Kontributor Surabaya Pagi di Turki, Muhammad Al-Jaber

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menerapkan sejumlah langkah untuk mengendalikan penyebaran virus Corona. Namun penolakannya untuk menerapkan penguncian (lockdown) total telah menuai kritikan sejumlah pihak.

Sebelumnya Erdogan sudah melakukan sejumlah langkah guna membendung corona. Di antaranya melarang pertemuan wilayah, pembatasan perjalanan antar kota, serta kewajiban memakai maskar saat keluar rumah.

Namun, langkah itu hanya bersifat "karantina sukarela". Ia tidak mendeklarasikan perintah wajib untuk tetap di rumah.

"Semua orang benar-benar harus tinggal di rumah, itu harus dibuat wajib," ujar seorang dokter yang menangani pasien COVID-19 di ICU sebuah rumah sakit di Istanbul.

"Kami menerima semakin banyak pasien setiap hari. Kami akan segera mencapai batas kapasitas kami," imbuhnya Rabu (8/4/2020).

Namun dengan terus meningkatnya jumlah kasus virus Corona, pemerintahan Erdogan makin didesak untuk menerapkan lockdown total seperti di Italia atau Prancis.

Partai-partai oposisi serta asosiasi medis TTB juga mendesak pemerintah untuk mengambil langkah lebih tegas guna melarang orang keluar rumah.

"Mustahil untuk mengendalikan pandemi ini jika jutaan orang pergi bekerja," kata ketua Serikat Dokter Turki (TTB), Sinan Adiyaman kepada media Turki.

Sebelumnya, Wali Kota Istanbul, Ekrem Imamoglu juga meminta lockdown di kota yang menjadi ibu kota perekonomian Turki itu. Sebabnya, lebih dari separuh kasus Corona di Turki tercatat di Istanbul.

"Bahkan jika 15 persen penduduk pergi keluar, kita dengan cepat mencapai dua juta orang. Ini berpotensi meningkatkan ancaman (penularan)," kata Imamoglu.

Menurut data resmi yang dirilis pada Selasa (7/4) waktu setempat, Turki sejauh ini mencatat 34.109 kasus positif virus Corona dan 725 kematian dan 1.582 sembuh. Turki menjadi negara kesembilan di dunia yang paling terdampak pandemi COVID-19.