•   Selasa, 7 April 2020
Pilpres 2019

Emak-emaknya Jadi Polemik, Siapa yang Diuntungkan

( words)
Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)


Surat Terbuka untuk Jokowi-Ma’ruf, yang Ikut Pilpres 2019 (27)

Pak Jokowi Yth,
Jumlah pemilih perempuan dalam Pilpres 2019, ternyata lebih banyak dibanding perempuan.
Menurut Komisi Pemilihan Umum (KPU), ada hasil rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pemilu 2019. Jumlahnya sebanyak 187.781.884 orang. Rinciannya, 185.732.093 pemilih dalam negeri dan 2.049.791 pemilih di luar negeri.
Sementara jumlah pemilih perempuan lebih banyak sekitar 126 ribu dibanding pria. Data di KPU, jumlah pemilih laki-laki di dalam negeri mencapai 92.802.671. Sementara, jumlah pemilih perempuan di dalam negeri mencapai 92.929.422.
Maka itu, akal sehat saya bisa menerima bila Anda menghadiri Konggres Wanita Indonesia (Kowani) di Jogyakarta, minggu yang lalu.
Kongges ini mengambil tajuk "Temu Nasional Seribu Organisasi Perempuan Indonesia". Dan konggres ini merupakan agenda kegiatan Sidang Umum Ke-35 Dewan Perempuan Dunia atau The 35 General Assembly International Council Of Women (GAICW).
Saya mendapat kiriman dari koresponden saya di Jogja. Pada konggres ini, Kowani yang menaungi 91 organisasi perempuan, meminta agar perempuan mempunyai sikap politik dalam Pilpres 2019. Kowani meminta agar perempuan memilih calon yang jelas.
"Kita sendiri sebagai perempuan harus menentukan sikap dan harus mempunyai prinsip, jangan mudah digoyahkan. Sebagai ibu bangsa sejati, kita tidak mudah digoyahkan, bahwa apa yang kita pilih itu adalah prinsip kita yang sekarang sudah menjadi kenyataan di depan kita," tandas Ketua Umum Kowani (Kongres Wanita Indonesia) Giwo Rubianto Wiyogo.


Pak Jokowi Yth,
Hampir satu bulan ini munculnya istilah ’emak-emak’ yang dipopulerkan oleh bakal cawapres Prabowo, Sandiaga Uno. Praktis, istilah ‘’emak-emak’’ diidentikkan dengan pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno.
Menurut situs pencatat data media sosial spredfast, kata ’emak-emak’ telah digunakan di Twitter dan hingga kini mencapai sekitar 70.000 cuitan. Dan tagar yang terkait dengan istilah ’emak-emak’ adalah #2019gantipresiden dan #2019prabowosandi.
Panggilan ’emak-emak’ ini akhirnya menjadi polemik semua parpol pendukung Anda dan Prabowo. Polemik setelah dikritik oleh Kongres Wanita Indonesia (Kowani).
Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto, mengatakan perempuan Indonesia punya konsep ibu bangsa sejak tahun 1935. Makanya, Kowani tak setuju penggunaan istilah emak-emak.
"Kami tidak mau kalau kita, perempuan Indonesia yang mempunyai konsep Ibu Bangsa sejak tahun 1935, sebelum kemerdekaan, dibilang emak-emak," ujar Giwo, yang disambut gemuruh tepuk tangan para wanita dalam acara General Assembly International Council of Women ke-35 di Yogyakarta, Jumat (14/9) yang juga dihadiri dan dibuka oleh Presiden Joko Widodo
.Giwo Rubianmto meminta dalam menghadapi tahun politik 2018-2019, perempuan yangh mempunyai hak dalam memilih dan hak untuk tidak mengabaikan dengan tidak datang di tempat pemungutan suara.
Ketua Umum Kowani itu wanti-wanti semua perempuan Indonesia jangan kehilangan kesempatan untuk berperan dalam menentukan siapa yang akan memipin negara.
Maklum, dalam hal pilihan apa saja, perempuan mempunyai peran besar. Termasuk mempengaruhi keluarganya. Sehingga peran perempuan dalam pemilihan presiden sangat penting dan tidak bisa diabaikan.


Pak Jokowi Yth,
Anda percaya atau tidak, dari aspek psikologis ciri-ciri perempuan secara umum juga cukup menonjol.
Ini diungkap oleh Michael G. Cooner, psikolog dari University of Oregon, Amerika Serikat. Cooner menyatakan, wanita umumnya menyandarkan pemikiran pada hal-hal kecil dan lebih detail.
Disamping itu, wanita ditemukan memiliki kesukaan memilih pengetahuan yang paling berharga dan mewariskannya pada anak-anaknya. Bahkan dicatat wanita lebih mengikuti suara terbanyak.
Khusus di sektor politik, penelitian di Amerika Serikat menggambarkan partisipasi perempuan tidak hanya dilihat dari pemenuhan hak-hak perempuan saja. Namun, perempuan sudah bisa terlibat aktif dalam dunia politik untuk memberikan perbedaan.
Salah satu contohnya adalah munculnya presiden perempuan dan juga pejabat publik perempuan. Misalnya, Gloria Arroyo, yang menjadi presiden Filipina atau Janet Reno yang menjadi Jaksa Agung di Amerika.
Yingluck Shinawatra, yang merupakan Perdana Menteri wanita pertama yang pernah mentadbir Thailand dari tahun 2011 hingga 2014.
Kemudian Tsai Ing Wen, merupakan presiden wanita pertama Taiwan sejak 2016. Ada juga Halimah Yacob, yang terpilih menjadi Presiden Singapura tahun 2017. Halimah Presiden wanita pertama Singapura. Juga Jacinda Arden menjadi perdana menteri termuda dalam 150 tahun terbentuknya Selandia Baru.
Malahan dalam Konferensi Dunia Perempuan keempat di Beijing pada 1995, banyak negara memformulasikan sistem dan menyusun undang-undang untuk mempromosikan perempuan menjadi partisipan aktif dalam sektor publik. Nah, Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, kata emak sinonim dengan ambu, bunda, ema, embok, enyak, ibu, ibunda, ina, inang, induk, indung, mak, mama, mamak, mami, nyak, nyokap, umi,
Saat saya masih tinggal di kampung Gubeng Airlangga, kata emak, tidak terdengar, kecuali sebutan mak. Bagi masyarakat Gubeng, panggilan ‘’mak’’ lebih rendah dari ibu. Teman-teman sebaya saya saat sekolah SD, yang memanggil mak umumnya rumahnya dari sesek dan lantainya dari tanah liat. Kemudian pekerjaan ibunya babu (pembantu rumah tangga) atau pencuci baju harian.
Akal sehat saya mengatakan, sebutan emak lebih ke bahasa slang atau bahasa tidak resmi. Wajar, bila perempuan berkarir baik di swasta maupun politik, keberatan dirinya dipanggil emak.
Pada saat reformasi tahun 1998, perempuan Indonesia ikut andil menumbangkan pemerintahan Soeharto. Mereka menamakan dirinya ‘’Gerakan Suara Ibu Peduli’’.
Pada saat pelengseran Presiden Soeharto pada 1998, saat ramai demonstrasi, para perempuan yang tergabung dalam gerakan tersebut memprotes kelangkaan susu yang terjadi di Indonesia.
Apalagi sekarang perempuan melakukan gerakan dengan pendekatan feminis. Gerakan terhadap politik formal ini menghasilkan peningkatan jumlah keterwakilan perempuan dalam partai politik, lembaga legislatif, dan lembaga politik lainnya.
Gerakan ini merupakan langkah-langkah untuk melibatkan perempuan dalam politik formal. Akhirnya lahirlah affirmative action yaitu kuota 30% perempuan di parlemen. Akal sehat saya mengatakan apa yang diperjuangkan oleh Kowani adalah sebuah strategi untuk menjadikan perempuan lebih aktif berpartisipasi politik.
Riil politik adalah Sandiaga, yang pertama kali mengangkat isu emak-emak. Bakal cawapres Prabowo, menyebut isu emak-emak telah mendapat respon yang luar biasa dari masyarakat.
Sandiaga sendiri tidak pernah mendengar ada anak menyebut ibunya emak. Dirinya sendiri memanggil, Mien Rachman Uno, mama, bukan emak, bukan ibu dan bukan bunda.
Emak-emaknya Sandi, sampai sekarang telah menjadi Polemik. Lalu, siapa yang Diuntungkan? Anda atau Prabowo? walahualam.
Akankah istilah emak-emak bisa lebih popular dari sekarang jelang kampanye? Benarkah emak-emak akan memilih Sandiaga ketimbang KH Ma’ruf Amien, yang sama-sama bakal cawapres.
Mari kita ikuti kampanye Pilpres 2019 yang tinggal hitungan hari. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)

Berita Populer