Dulu Bisa Rp 1,5 Juta Sehari, kini Hanya Rp 100 Ribu Saja

Salah satu lapak pedagang di Pasar Keputran

Selatan Pasar Keputran pun Sepi 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Bila Pasar Keputran sebelah utara ditutup total. Tidak untuk Pasar Keputran sebelah Selatan. Namun, kondisi dengan ditutupnya sebelah utara pun berdampak pada penjualan sehari-hari selama ditutup dan pandemi Covid-19. Seperti pedagang di selatan Pasar Keputran Surabaya, Muana, mengeluhkan lapak jualannya sepi pembeli selama pandemi Covid-19. Meski sepi, mau tak mau perempuan berusia 52 tahun ini harus tetap berjualan, meski saat ini dia harus keluar pinggir jalan untuk tetap survive.

Dia berusaha mati-matian untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya lantaran dia tulang punggung ekonomi keluarga setelah suaminya meninggal dunia.

“Berat memang, tapi harus terus dijalani. Anak saya enam dan belum semua dapat kerja setelah selesai sekolah. Jadi saya masih menjadi tulang punggung keluarga. Karena wabah ini, dan pasarnya di tutup selama 7 hari kedepan, terpaksa saya berjualan di sisi selatan pasar. Walaupun ada beberapa yang beli, tetap saja berat karena penghasilan harian tidak cukup. Belum juga kalau sayurnya layu. Tapi ya di syukuri aja bisa untuk makan saja sudah bagus setiap hari,” ucap Muana saat ditemui Surabaya Pagi disisi selatan Pasar Keputran Surabaya, Kamis (23/7/2020).

Bagi Muana, berjualan adalah satu-satunya cara bertahan hidup untuk dirinya bersama keenam anak-anaknya. “Kalau pendapatan harian lumayan. Kalau sekarang kan paling sekitar Rp100.000 sehari. Saya juga bingung,” tambah dia.

Nasib yang sama juga dirasakan oleh Murni 42 tahun, salah satu pedagang ayam potong di Pasar Keputran.

Dia mengaku selama pandemi Covid-19 ini penghasilannya sangat menurun drastis. Apalagi adanya penutupan pasar keputran untuk yang kedua kalinya.

“Sekarang yang penting bisa jualan dulu. Dicukup-cukupkan. Sebelum wabah pendapatan saya sekitar Rp 1.500.000. Tapi, saat wabah ini, dapat Rp 400.000 saja sudah Alhamdulillah. Yang penting bisa buat makan sehari-hari. Ya harus berjuang mandiri," ujarnya. tyn