Diserang Hama Wereng, Petani di Jombang Terpaksa Panen Lebih Awal

SURABAYAPAGI.COM, Jombang - Serangan hama wereng mulai menyerang tanaman padi milik petani di beberapa wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Sehingga petani terpaksa memajukan masa panen.

Salah satunya seperti petani di Dusun Gondang, Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, yang mana sebagian area tanaman padi rusak diserang hama wereng. Dan petani terancam merugi.

Salah satu petani Dusun Gondang, Sritain mengatakan, serangan hama wereng mulai terlihat sekitar dua pekan terakhir. Dan dirinya melihat tanda-tanda serangan hama di tanaman padi miliknya.

"Terlihat batang padinya mengering dan bulirnya ompong, tapi waktu itu cuma sebagian kecil saja area yang diserang. Makanya kalau tidak segera dipanen bisa-bisa habis dimakan wereng semua,” katanya, Jumat (27/3/2020).

Menurut Sritain, hanya berselang beberapa hari serangan hama wereng kian masif. Dan area tanaman yang terserang kian meluas. Tak ingin merugi, dirinya memilih panen lebih awal.

”Harusnya belum waktunya masa panen. Tapi kalau menunggu sampai umur 90 hari, bisa-bisa nggak jadi panen,” ujarnya.

Sritain memperkirakan, hasil panen kali ini mengalami penyusutan akibat serangan hama wereng. Kemungkinan diperkirakan hanya mendapat 8 kuintal.

"Kalau saat nornal hasil panen mencapai satu ton dengan luas sawah 1400 meter persegi," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Kadisperta) Jombang, Priadi menerangkan, luas serangan hama wereng di Kabupaten Jombang tahun pertama musim penghujan periode 15 maret 2020 sebanyak 10 kecamatan.

"Seluas 451 hektar telah dikendalikan bersama dengan petani dengan obat yang disediakan 436 hektar. Untuk yang fuso sekuas 8,5 hektar, yakni di Kecamatan Kabuh 8 hektar dan Kecamatan Gudo 0,5 hektar gagal panen," terangnya.

Untuk kekurangan pengendalian hama wereng dilakukan sendiri oleh masyarakat dengan partisipasi pihak desa secara langsung dalam pemberantasan hama wereng.

Menurut penjelasan Priadi, perkembangan hama wereng dipengaruhi dengan mundurnya musim tanam. Yang biasanya pada bulan Oktober, November sudah tanam, mundur sampai Januari.

"Kedua, jarak tanamnya itu sangat sempit. Tumbuhnya luar biasa sehingga terjadi satu sirkulasi udara yang tidak bisa terurai. Dari bawah sudah lembab sehingga dari atas panas matahari tidak bisa menembus. Angin tidak mampu memberi sirkulasi di bagian bawah," jelasnya.

Priadi mengungkapkan, upaya yang dilakukan Disperta yakni gerakan pengendalian yang sudah dilaksanakan dengan menyediakan obat wereng. Kedepan akan sosialisasi gerakan menanam padi dengan model jajar legowo (SRI), dengan jarak model 41, 31 atau 21.

"Dibanding tahun 2019, serangan hama wereng pada tahun 2020 naik sekitar 300 %. Ya karena mundurnya musim tanam itu," tandasnya.

Tingginya wabah wereng, kondisi stok obat sangat tipis. Untuk pengadaan tahun 2020 akan segera dilakukan untuk menambah stok yang sudah minim.

"Stok hari ini cukup untuk permintaan-permintaan dari kecamatan bila ada. Cukup untuk 10 hari kedepan," pungkasnya.(suf)