•   Kamis, 2 April 2020
BUMD

Dirut Bank Jatim Dijabat Pria Gendut

( words)
Hadi Santoso


Dipilih Last Minute sebelum RUPS. Hadi Santoso, Meneruskan jejak Dua Direktur Kepatutan Bank Jatim sebelumnya. Program Kerja yang Spektakuler Dicanangkan Pria Legam Berkumis yaitu, jual Kredit Bermasalah ke Bank lain dan Revolusi Pegawai

Riko Abdiono, Hermi, Rangga Putra, Raditya M. Khadaffi
Tim Wartawan Surabaya Pagi
Tak ada yang menyangka, Hadi Santoso, pria berkulit legam berbadan gendut, terpilih menggantikan R. Soeroso, menjadi Direktur Utama Bank Jatim Tbk. Pilihan ini konon diputuskan ‘last minute’ sebelum RPUS diselenggarakan. Ini kabarnya ada kaitannya kabar gejolak di internal Bank Jatim yang tidak ingin Dirut Bank Jatim diisi banker luar, seperti diberitakan harian kita edisi Senin kemarin berjudul “Gejolak Pegawai Bank Jatim, Jelang Pilih Dirut”.
Padahal, sehari sebelum RPUS, beberapa pengusaha papan menengah Surabaya, sudah mendengar pengganti Suroso dari banker BRI. Bahkan tak ada yang menyangka sosok Hadi Santoso, pria bersahaja yang pernah menjadi kepala bagian umum Bank Jatim, bisa menduduki jabatan tertinggi di Bank plat merah yang berkantor pusat Jl. Basuki Rachmad Surabaya.
Mulyanto dan Hadi Sukrianto
Rapat Umum Pemengan Saham Luar Biasa PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk akhirnya selesai digelar, Rabu (19/6/2019). Hadi Santoso, Direktur Kepatuhan dan SDM naik pangkat menjadi Direktur Utama. Ini meneruskan tradisi sebelumnya, orang yang menjadi Dirut Bank Jatim berasal dari Direktur Kepatuhan. Sebelumnya yakni, saat Dirut Bank Jatim Mulyanto dan Hadi Sukrianto. Namun, proses terpilihnya Hadi Santoso menjadi Dirut Bank Jatim, terlihat tidak seperti biasanya. Bahkan, hingga Selasa (18/6/2019) tengah malam, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pun masih “galau” untuk menentukan siapa pemimpin bank pelat merah Pemprov Jatim ini. Pasalnya, 1-2 hari sebelumnya, beredar kabar, posisi Dirut Bank Jatim akan diisi dari bankir professional dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Dari pantauan Surabaya Pagi di Gedung Bank Jatim, Jl. Basuki Rahmat Surabaya, Gubernur Khofifah datang agak terlambat dalam Rapat yang dihadiri pemegang saham Bank Jatim seperti bupati/walikota seluruh Jawa Timur. Khofifah baru datang pukul 08.30 WIB, lebih lama setengah jam dari undangan para peserta lain jam 08.00. Maklum, Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur baru saja landing dari Bandara Juanda pukul 07.00 WIB lebih setelah menjalani serangkaian kegiatan di Jakarta.
Selain itu, “hawa” RUPSLB dengan agenda menetapkan pengurus baru PT Bank Jatim 2019 ini tidak seperti biasa beberapa jam sebelumnya. Sejumlah kepentingan baik dari dalam maupun dari luar cukup melintas di benak Gubernur sebagai pemegang saham terbesar di Bank Jatim.
Khofifah Galau
Hal ini juga membuat Gubernur Khofifah hingga Rabu dini hari masih gamang dan galau untuk menetapkan siapa saja orang-orang yang pas untuk mengelola BUMD terbesar milik provinsi Jawa Timur ini. Bahkan, menurut sejumlah sumber di lingkaran Gubernur Bank Jatim, terkait pemberitaan Surabaya Pagi, edisi Rabu (19/6/2019) dengan judul “Gejolak Pegawai Bank Jatim, Jelang Pilih Dirut” diduga juga membuat Khofifah pikir-pikir dalam pemilihan kursi Dirut Bank Jatim.
Gubernur Khofifah harus mengakomodir semua kepentingan Bank Jatim ini. Baik dari internal maupun eksternal seperti para pemegang saham dan juga para nasabah.
Komisaris Independen Blak-blakan
Hal ini diungkapkan blak-blakan dari Komisaris Independent PT Bank Jatim Prof Chandra Fajri Ananda kepada Surabaya Pagi, sejak Selasa (18/6/2019) pukul 21:45 WIB. Mantan Konsultan Bank Dunia lulusan Unibraw ini, sejak Selasa malam (18/6/2019) atau beberapa jam jelang RUPSLB Rabu (19/6/2019) masih berada di Jakarta. Ia harus menemui Gubernur Jatim Khofifah yang saat itu sedang menghadap Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara. “Saya masih menunggu untuk ketemu bu Gubernur, nanti saya kabari lagi mas,” tulis Candra Fajri Ananda, Komisaris Independen PT Bank Jatim yang dikirim melalui pesan pendek pada pukul 21.45 WIB.
Informasinya, Candra sedang berusaha memberikan masukan dan saran sekaligus finalisasi susunan direksi PT Bank Jatim yang baru. Karena hingga malam itu, pukul 22.00 WIB, Candra masih belum mendapat keputusan final. Ia harus menemui gubernur agar beberapa masalah bisa tuntas.
Baru kemudian sekitar pukul 12 malam lebih, atau hampir berganti hari, Candra berdiskusi panjang dengan Khofifah. Hingga akhirnya sepakat dan jalan terbaik itu mendapatkan susunan pengurus PT Bank Jatim yang baru. “Soal ada yang direksi yang usia lewat dari 55, tidak masalah, karena Bank Jatim ini sudah Tbk (Terbuka, go public, red) jadi yang dipakai adalah Undang-Undang PT, bukan Peraturan Pemerintah tentang BUMD,” sebut Candra.
Diputuskan Last Minutes
Akhirnya Surabaya Pagi mendapat kabar dari Candra, bahwa susunan pengurus yang akhirnya disetujui Gubernur Khofifah last minutes atau bisa disebut beberapa jam sebelum RUPSLB, atau lebih tepatnya subuh pagi hari.
Susunan pengurus yang disetujui itu adalah posisi Komisaris dari 5 orang bertambah menjadi 7 orang. Antara lain Ahmad Sukardi (Presiden Komisaris atau Komisaris Utama), Budi Setiawan, Heru Tjahjono (sekdaprov), Rudi Purnowo, Candra Fajri Ananda dan Prof Mas’ud Said (Komisaris Independen).
Sedangkan untuk susunan direksi, jumlahnya tetap 7 orang. Untuk posisi Direktur utama dijabat oleh Hadi Santoso (sebelumnya direktur Kepatuhan Bank Jatim), Direktur Komersial & Korporasi Busrul Iman (Pimpinan Wilayah Bank BRI Jawa Timur), Direktur Konsumer, Ritel & Usaha Syariah Elfaurid Aguswantoro (Pjs pimpinan Divisi Kepatuhan Bank Jatim), Direktur Teknologi Informasi & Operasi Tonny Prasetyo (Pemimpin Divisi Umum Bank Jatim), : Direktur Kepatuhan & Manajemen Risiko Erdianto Sigit Cahyono (Kepala Audit Intern Wilayah Bank BRI Kantor Wilayah Jakarta 1, Direktur Resiko Bisnis Rizyana Mirda dan Direktur Keuangan Ferdian Timur Satyagraha.
Banyak Pekerjaan untuk Dirut Baru
Gubernur Jatim Khofifah usai memimpin RUPSLB mengatakan, susunan pengurus bank jatim yang baru ini sudah selesai. “Alhamdulillah yang menjadi dirut sebelumnya adalah Direktur kepatuhan, direksi yang lain juga sudah terisi semua. Sedangkan untuk Komisaris ada tambahan 2, sehingga jumlahnya kita samakan dengan jumlah direksi menjadi 7 orang,” papar Khofifah.
Selanjutnya banyak tugas yang harus segera dilakukan. Seperti Direktur Korporasi, harus mulai segera membangun sinergi dengan bank bank yang lain. “Direktur Korporasi Supaya mencari cara untuk meningkatkan DPK (Dana Pihak Ketiga) bank Jatim,” pintanya.
Revolusi Pegawai
Hadi Santoso, Dirut Baru PT Bank Jatim langsung tancap gas usai ditetapkan lewat RUPSLB kemarin. Pertama Ia akan merevolusi pegawai. Pegawai Bank Jatim yang selama ini diakuinya kurang pelatihan dan pendidikan. “Ini sudah kita bikinkan reng-rengan (perencanaan) mana yang segera masuk pendidikan untuk menunjang keahlian, mana yang paham teknologi mana yang harus memperbaiki kualitas pelayanan masyarakat,” sebut Hadi usai RUPSLB kemarin.
Jual Kredit Bermasalah
Program kedua adalah, akan menjual Kredit bermasalah di Bank Jatim yang jumlahnya cukup besar, ke bank lain. Terutama kredit yang sampai saat ini masih dikatakan berat dan sulit untuk ditagih dan macet. “Kita sudah bicarakan dengan teman-teman direksi. Bahwa kami akan menjual ke factory yang dibawa teman-teman Bank yang lain,” sebutnya.
Bank lain itu adalah bank yang khusus membidangi urusan kredit macet dan sukses menyelesaikannya. “Kita akan jual kredit-kredit yang bermasalah, tapi itu memang prosesnya agak panjang. Karena perlu di do dirigendulu,” ujar mantan Kepala Cabang Bank Jatim Surabaya ini.
Ini perlu dilakukan karena Bank Jatim harus segera ekspansi kredit. Penyaluran kredit harus pruden namun tetap significant besarnya. “Sebab kalau tidak besar, tentu tidak mampu mengejar target-target yang sudah dibebankan kepada kami,” jelasnya.
Cara jual kredit ke bank lain ini ternyata juga sudah dilakukan beberapa bank. Untuk mengatasi risiko kredit dan rasio kredit bermasalah yang cukup tinggi ini, salah satu opsi yang bisa diambil bank adalah penjualan NPL (Non Performing Loan) atau kredit macet. Sejumlah bank menempuh cara ini, seperti PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) dan PT Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW).
Tingkatkan KUR dan Digital Banking
Program Ketiga, lanjut Hadi, kredit untuk rakyat UKM dan UMKM itu tetap ditingkatkan. Melalui KUR atau semacam loan agreement model-model yang lain. Saat ini Bank Jatim sudah punya jenis atau model program penyaluran kredit namun karena sangat banyaknya scheme, sehingga sulit untuk dilaksanakan pelaksanaanya. “Nanti akan kami sederhanakan biar pelaksanaanya lebih mudah,” cetus Hadi.
Yang terakhir, untuk menyambut digital banking, 4.0 kami akan tetap berupaya bisa mengikuti perkembangan teknologi. Bank Jatim menggandeng rekan-rekan dari bank lain. Dimulai dengan menggandeng 2 rekan dari Bank BRI seperti Pak Busrul Iman dan Erdianto Sigit Cahyono. Dua orang itu dari pimpinan wilayah BRI dan Audit di Kanwil BRI Jakarta. Dengan tambahan rekan-rekan dari BRI ini, diharapkan bisa mensinergikan energi positif yang ada di BRI serta energy yang positif dari Bank Jatim. “Sehingga Bank Jatim lebih jaya dan mampu untuk bertarung di pasar. Itu program-program yang sudah kami canangkan, selain dari program-program baru yang bakal kami luncurkan nanti,” pungkasnya.
Fokus Penurunan Kemiskinan di Jatim
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta kepada PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk dapat berperan aktif dalam penurunan kemiskinan di Jatim. Untuk itu, perbankan milik Pemprov Jatim itu harus menjadi lokomotif penurunan kemiskinan.
“Kalau kita andalkan APBD sangat kecil secara signifikan. Dan BPD Jatim menjadi penting untuk menjadi lokomotif intervensi yang berseiring dengan pemetaan kemiskinan,” kata Gubernur Khofifah usai menghadiri RUPSLB, kemarin.
Ia mengatakan, bahwa penurunan kemiskinan menjadi salah satu program prioritas yang terus dilakukan oleh Pemprov Jatim. Bedasarkan data yang ada saat ini jumlah kemiskinan di Jatim 10.85 persen. Dari jumlah itu, kemiskinan pedesaan masih menyumbang sebanyak 15.2 persen dan kemiskinan di wilayah perkotaan 6.7 persen.
Melihat kondisi tersebut, wilayah pedesaan masih menyumbangkan kemiskinan terbesar. Oleh karenanya, Bank Jatim diharapkan mampu melakukan intervensi dan menjadi lokomotif penurunan kemiskinan di Jatim, yakni lewat penyaluran akses Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Gubernur Khofifah menegaskan, bahwa penurunan kemiskinan di Jatim tidak bisa mengandalkan peran Pemprov Jatim. Pasalnya, anggaran yang dimiliki dinilai sangat terbatas. “Kemampuan kita melalui APBD Jatim hanya sekitar 1.58 persen atas rasio APBD terhadap PDRB,” ujarnya.
Sementara PDRB Jatim sendiri mencapai Rp. 2.189,78 trilyun. Sedang APBD nya sebesar Rp. 32 trilyun. Peran Bank Jatim sendiri dalam penyaluran kredit mencapai Rp. 33.89 trilyun. Sehingga rasio penyaluran terhadap PDRB Jatim mencapai 1,67 persen.
Kalau total dari rasio APBD dan penyaluran kredit Bank Jatim hanya sebesar 3.25 persen. Jumlah ini sangat kecil dalam mengintervensi penurunan kemiskinan yang diharapkan lebih signifikan.
Masih menurut Gubernur Khofifah, sektor swasta secara spesifik tidak memiliki program yang dapat menurunkan kemiskinan, meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM), mempersempit kesenjangan antara utara dan selatan, serta penurunan disparitas perkotaan dengan pedesaan. Kecuali lewat program tanggung jawab sosial, seperti Corporated Social Responsibility (CSR) yang diberikan oleh pihak swasta.
Melihat kondisi tersebut, Gubernur Khofifah pun meminta Bank Jatim untuk mengintervensi secara spesifik melalui kredit UMKM. “Kami mohon kepada seluruh jajaran komisaris dan direksi Bank Jatim yang ada dapat berseiring dengan harapan pemprov untuk menurunkan secara signifikan kemiskinan terutama di wilayah pedesaan,” pintanya.
Dihadapan seluruh pemegang saham di daerah yang terdiri dari bupati/walikota yang hadir, gubernur perempuan pertama di Jawa Timur ini berharap agar kepala daerah bisa menjadi bagian dalam mengawal peran dari BPD Jatim agar kinerjanya bisa lebih signifikan dalam menurunkan kemiskinan dan peningkatan IPM.
“Ini adalah lembaga profit yang harus befikir tentang profitabilitas yang terukur, ada pula peran-peran yang berseiring dengan program prioritas dari Pemprov Jatim yang bisa dilakukan,” jelasnya. n

Berita Populer