•   Jumat, 24 Januari 2020
Pilpres 2019

Dialog Politik Capres, tak Cerminkan Produk jurnalistik yang Cerdaskan Publik

( words)
Dr. H. Tatang Istiawan Wartawan Surabaya Pagi (Wartawan Senior)


Catatan Akal Sehat Kampanye Pilpres 2019 (3)

Delapan hari lagi, wartawan Indonesia memperingati Hari Pers Nasional 2019 di Surabaya. Dalam usia ke 73 PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) sudah tidak lagi menjadi organisasi wartawan satu-satunya.
Sejak reformasi, PWI punya “kompetitor” yaitu beberapa organisasi wartawan yang didirikan juga oleh wartawan. Praktis, sekarang, PWI tidak bisa lagi mengklaim satu-satunya organisasi wartawan yang bisa menertibkan wartawan-wartawan nakal di Indonesia.
Kini telah ada tujuh organisasi pers yang sah. Ketujuh Organisasi wartawan yang sudah menjadi konstituen Dewan Pers ini terdiri Serikat Perusahan Pers (SPS), Perusahan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI).
Untuk menguji kompetensi seorang wartawan, dilakukan uji kompetensi. Terkait ini Dewan Pers berharap, program uji kompetensi dapat menihilkan praktik abal-abal oknum wartawan yang selama ini berada di Indonesia.
Sejauh ini, Indonesia diketahui negara dengan jumlah paling banyak di dunia pengguna media/siber yakni 43.300 media online. Sementara, yang memenuhi syarat sebagai perusahan pers hanya 2.200 atau hanya tujuh persen yang memenuhi standar profesional.

***
Sekarang saat moment kampanye Pilpres 2019, cara memahami eksistensi media pemberitaan tidak cukup hanya dengan mengkaji cara kerja praktisinya. Termasuk khalayak yang ingin dipenuhi kebutuhan informasi.
Akal sehat saya mengatakan ini, karena sekarang terjadi perubahan konsep media pemberitaan. Perubahan ini dipengaruhi oleh perkembangan teknologi pendukungnya.
Era masyarakat industri seperti sekarang, media penyiaran memiliki karakteristik yang semakin kompleks.
Beberapa tahun terakhir ini model komunikasi yang diterapkan hampir semua media mainstream telah menyertakan unsur umpan balik.
Beberapa TV membuktikan sudah membuka keran bagi masyarakat untuk memberikan umpan balik terhadap isi berita yang disiarkan. Metro TV membuat program Suara Anda yang disiarkan pada 19.05 – 20.00 WIB.
Program acara ini memungkinkan khalayaknya dapat berinteraksi dengan memilih dan mengomentari berita pilihannya.
Juga SCTV, memunculkan program berita Liputan 6 yang memberikan ruang bagi khalayak untuk menyiarkan berita yang mereka himpun sendiri. Nama program SCTV ini tayangan terrestrialnya Liputan 6 Pagi Akhir Pekan .
Fenomena ini menjelaskan adanya unsur interaktivitas sebagai ciri khas media pemberitaan era masyarakat informasi.
Interaktivitas ini khalayak tak cuma memiliki kesempatan untuk memberikan pesan namun memodifikasi isi pesan yang disajikan (Straubhaar & LaRose, 2006)
Selain interaktivitas yang ditawarkan, media pemberitaan baru juga memiliki karakteristik digitalisasi. Kelebihannya, selain membuka jalur komunikasi dua arah, juga memiliki performa kualitas tayangan dan sebaran yang lebih luas.
Karakter yang diusung adalah Audience Generated, yaitu media baru memungkinkan khalayak mendistribusikan konten yang mereka himpun sendiri (Straubhaar & LaRose, 2006).
Akal sehat saya, pada era masyarakat informasi industri seperti sekarang, media massa mau tidak mau harus bertransformasi dari bentuk analog menjadi digital.
Maklum, dalam produk teknologi di era ini, pers telah menawarkan produktivitas, efisiensi, kecepatan dan lintas batas. Artinya, perangkat komunikasi teks, audio dan visual yang sebelumnya terpisah kini berpadu dan konvergen dalam satu perangkat transmisi.
Ini yang menggabungkan fungsi media penyiaran lama ke dalam satu platform media baru. Akal sehat saya menyebut, semuanya didukung oleh jaringan global Internet, yaitu media massa, komputer, dan jaringan telekomunikasi saling berintegrasi atau melakukan konvergensi media (Straubhaar & LaRose, 2006).
Akal sehat saya dengan perubahan semacam ini, wartawan tidak cukup hanya mengantongi sertifikat uji kompetensi jurnalis. Wartawan harus mengembangkan akal sehat.

***
Beberapa bulan ini sejak Agustus 2018 lalu, menurut akal sehat saya merupakan momen paling intens dalam hubungan antara media, politik, elite politik dan masyarakat.
Akal sehat saya meneropong ternyata ada beberapa media yang tidak menunjukkan independennya.
Sikap pengusaha media TV ini adalah pilihan. Termasuk wartawan yang ada di dalamnya (bekerja untuk menyajikan pemberitaan politik).
Nah saat persaingan politik semakin panas pasca debat perdana 17 Januari 2019 lalu, akal sehat saya bertanya, bagaimana mengkampanyekan agar semua pers nasional mau mempertahankan independensinnya sekaligus menjaga martabat
Apalagi sebelumnya ada pernyataan ‘’pahit’’ dari Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional Amien Rais. Profesor ilmu politik ini menuding wartawan di Indonesia telah menjadi pelacur intelektual.
Akal sehat saya justru menilai Amien Rais ini elite politik yang tidak menggunakan akal sehat. Sebagai profesor, Amien sepertinya tidak mencoba bertanya atau menelaah proses terjadinya berita politik pada pers era masyarakat informasi.
Sebuah pemberitaan yang sudah disiarkan media mainstream, sebenarnya bukan karya jurnalistik dari seorang wartawan. Di dalamnya ada campur tangan pengusaha pers, politik redaksional, kepentingan dan pengetahuan pemimpin redaksi dan redaktur pelaksana sampai keterampilan editing redaktur.
Saya yang menyerap aspirasi dari praktisi hukum, wiraswasta dan akademisi ternyata tidak seramai pemberitaan politik di media mainstream. Terutama TV berita Metro TV, TVone dan Kompas TV.
Beberapa kali saya mengikuti dialog politik di tiga stasiun TV berita tersebut, akal sehat saya mencatat kurangnya partisipasi publik. Dialog dan perdebatan masih diborong oleh elite-elite politik yang mewakili kedua kubu.
Akal sehat saya menilai dialog dan debatnya tidak mencerminkan mutu demokrasi yang mencerdaskan publik. Kesan saya, ruang publik sampai debat capres 17 Januari lalu cenderung dicemari oleh olok-olok, eyel-eyelan dan saling memaki. Akal sehat saya menyebut dialog dan debat ini tidak mencerminkan produk jurnalistik yang mencerdaskan publik.
Menurut akal sehat saya, dengan tontotan dialog dan debat politik dari ua kubu masih seperti sekarang (artinya dalam sisa waktu hampir tiga bulan ini), bisa memunculkan tumbuhnya pemilih apatis alias tidak menggunakan hal pilihnya (golput).
Bahkan logika saya menilai, acara-acara kampanye, baik debat resmi yang diselenggarakan oleh KPU maupun debat lokal yang diadakan masing-masing TV berita, ternyata sudah ada media yang bukan produsen informasi yang bebas nilai (independen).
Beberapa TV pemberitaan ini, menurut akal sehat saya hanya Kompas TV dan TV One yang masih memiliki kesadaran sekaligus pemahaman tentang peran media sebagai ruang publik atau pilar demokrasi.
Akal sehat saya kecewa bahwa ada sebuah media TV yang mengumbar kesadaran yang didasari oleh selera politik pemilik media. Tercatat pemilik media ini adalah ketua umum sebuah partai pendukung salah satu capres.
Hampir tiap hari, setiap membahas masalah pemberitaan politik, teman-teman saya dari akadermisi, wiraswasta dan praktisi hukum mengkritik atas pilihan politik redaksi media TV nasional ini. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung).

Berita Populer