Di Kapasan Dalam, Mayoritas China Totok

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Siang itu kawasan pecinan lama Jl.Kapasan Dalam Surabaya, tak banyak aktivitas disana. Hanya beberapa saja nampak lalu lalang orang dan motor. Di kampung ini masih banyak bangunan-bangunan peninggalan jaman dahulu yang sudah usang namun tetap berdiri kokoh.

Suk Dony Djung, salah seorang warga yang juga aktivis kegiatan Barongsai mengatakan, dahulu sekitar tahun 1700-1800 an di Kapasan dalam masih berupa tempat terbuka yang banyak ditumbuhi pohon randu. Selain itu, Kapasan Dalam dekat dengan Jembatan Merah dan Sungai Pegirian yang bermuara di Ujung Galuh, dimana saat itu digunakan jalur transportasi perdagangan dan pelayaran darat.

"Jadi menurut cerita nenek moyang dahulu, orang Tiongkok bepergian dengan berlayar dari daratan Tiongkok menuju Jawa Timur, berlabuh ke pulau Madura dan Semarang," katanya.

Ketika orang-orang Tiongkok tersebut sampai di pulau Madura, ada juga yang menyebar hingga di Surabaya dan menetap hingga turun-temurun seperti di kawasan Jembatan Merah, Jl Coklat, Jl Dukuh dan sekitarnya hingga ke Tambak Bayan dan Kapasan Dalam.

**foto**

Ia juga mengatakan bahwa mayoritas warga yang tinggal di Kapasan Dalam ini adalah Cina Totok. Yang lama menetap disana hingga beberapa generasi. Banyak bangunan yang masih tetap original tak diubah bentuknya. "Kalau mau dihitung satu satu ya banyak sekali gedung-gedung lawas disini, misalnya TK. Tripusaka yang ada di belakang Klenteng Boen Bio, itu juga salah satu bangunan lama," tambah Suk Dony.

Selain itu juga ada salah satu Bunker peninggalan jaman dahulu terletak di area lapangan basket yang kini beralih fungsi jadi parkiran mobil depan TK. Tripusaka. "Sampai sekarang belum pernah dibuka itu Bunkernya, takut masih ada granat atau bahan peledak yang masih aktif. Karena Bunker itu kan peninggalan jaman perang dulu," pungkasnya.indra