Dana Promotif dan Preventif Rp 110,17 Miliar, Mestinya Libatkan Media Lokal

Dr. H. Tatang Istiawan, Wartawan Senior Surabaya Pagi

Surat Terbuka untuk Gubernur Khofifah yang Disorot DPRD Gunakan Dana Covid-19 Rp 2,3 Triliun tidak Rinci


Gubernur Khofifah Yth,

Minggu ini secara diluar dugaan ada anggota DPRD Jatim menyoal dana penanggulangan pandemi Covid 19 di Jatim yang mencapai Rp2,348 Triliun. Anggaran yang diambilkan dari pengurangan belanja APBD Jatim 2020 ini rencananya digunakan juga untuk keperluan Promotif dan Preventif sebesar Rp110,17 Miliar.

Sehari setelah itu, beberapa pakar komunikasi dari sejumlah perguruan tinggi di Surabaya, ikut mengkritisi.

Salahkah angggota DPRD Jatim dan akademisi menyoal dana penanggulangan bencana Covid 19 di Jatim? Akal sehat saya mengatakan tidak ada yang salah dari mereka. Maklum dana penanggulangan covid -19 adalah anggaran dari rakyat.

Secara konstitusional, jangankan wakil rakyat, akademisi pun punya hak bicara, hak mengawal dan hak mengetahui efektivitas rincian penggunaan dana APBD. Apalagi Anda tahun 1998-an mengawali karir politik sebagai wakil rakyat.

Dengan record pernah menjadi anggota DPR-RI, Anda pasti paham satu instrumen ekonomi yang penting bahwa anggaran dari negara memiliki peran utama untuk menyejahterakan rakyat. Artinya, wakil rakyat punya “doktrin” bahwa mengelola anggaran yang baik dan transparan menentukan arah kebijakan dalam mencapai tujuan bernegara.

Oleh karenanya, sebagai penanda mengembalikan anggaran ke tujuannya, Pemerintah pasca reformasi membuat Undang-undang Keuangan Negara atau dikenal dengan UU No. 17 tahun 2003. Ini adalah UU keuangan negara yang pertama yang dibuat pemerintah Indonesia sejak kemerdekaan 1945. Sebelumnya Indonesia menganut sistem keuangan peninggalan Hindia Belanda yaitu, Indische Comptabiliteitswet atau yang lebih dikenal dengan ICW.

Setelah hampir satu dasawarsa berlakunya UU ini, saya pelajari tata kelola anggaran negara belum sepenuhnya mampu menjadi instrumen distribusi anggaran yang efektif. Selain persoalan pada tataran kebijakan dan prosedur, pada tataran implementasi juga ditemukan berbagai persoalan.

Maka itu Budget brief hadir untuk melakukan advokasi anggaran selama ini. Oleh karena itu, kehadiran budget brief bukan dengan maksud untuk menjawab semua persoalan penganggaran yang terjadi saat ini. Setidak-tidaknya ini bisa menjadi salah satu bahan pemicu reformasi tata kelola APBN dan APBD ke depan, baik sebagai usul perubahan kebijakan maupun instrumen teknis dalam praktek penganggaran.

 

Gubernur Khofifah Yth,

Semua tahu bahwa penyebaran virus corona saat ini sudah begitu marak dan membahayakan. Di sisi lain, pemerintah dinilai juga belum benar-benar optimal dalam melakukan sosialisasi maupun upaya pencegahan.

Ada seorang Ketua RW di Gubeng Surabaya yang curhat pada saya. Dia menilai untuk di tingkat kota seperti Surabaya, upaya sosialisasi maupun pencegahan Covid-19 memang ada. Namun sayang, hal itu belum menyentuh hingga ke tingkat bawah sampai tingkat RT.

Ia mencontohkan, hingga saat ini belum ada sosialisasi terkait virus corona, baik cara penularan maupun cara pencegahannya. Apalagi sosialisasi di tingkatan pemerintahan.

Padahal menurut saya, sosialisasi sangat penting dilakukan hingga tingkat paling bawah mengingat sangat rentannya penyebaran virus corona ini. Selain itu, tingkat bahayanya juga kan sangat tinggi karena virus ini terbilang ganas hingga cukup banyak merenggut korban jiwa.

Nah, apa yang diungkapkan pak RW ini bagian dari program promotif dan preventif.

Seperti kegiatan penyemprotan disinfektan yang menurutnya belum sampai di kampungnya. Begitu juga penyediaan hand sanitizer dan masker yang hanya difokuskan di wilayah perkotaan.

Harusnya upaya pencegahan dilakukan pula di perkampungan, tidak hanya di wilayah perkotaan saja yang dinamai “Kampung Wani”. Apalagi selama ini yang menjadi PDP (pasien dalam pengawasan) justru berasal dari daerah yang datang ke kampung kampung Surabaya.

Pak RW ini meminta, Pemkot Surabaya lebih optimal dalam melakukan sosialisasi maupun upaya pencegahan penyebaran Covid-19 dengan melakukannya sampai tingkat bawah. Artinya kesadaran masyarakat serta keterjagaan lingkungan yang aman dari ancaman virus di daerah juga sangat penting guna mencegah penyebaran yang lebih luas.

Nah hal-hal ini sampai Kamis kemarin masih menjadi pembicaraan di kalangan warga kampung di kawasan Gubeng.

 

Gubernur Khofifah Yth,

Potret suatu kampung dari pak RW di Surabaya ini temuan wartawan cetak anak buah saya. Ia mewawancarai bersama wartawan televisi, radio dan situs online.

Temuan seperti ini belum tentu bisa diperoleh pejabat pemerintahan. Maklum, umumnya pejabat tak suka turun ke lapangan seperti umumnya wartawan.

Liputan bareng antar empat media lokal terhadap peristiwa di kampung Surabaya seperti ini membuktikan TV bukan hanya sekedar media hiburan saja, melainkan juga sebagai sumber informasi.

Demikian juga media cetak  sudah merupakan industri untuk menjangkau pelanggan melalui iklan yang bisa disisipkan. Media cetak ini tidak hanya Koran, Majalah, dan Selebaran, tetapi juga brosur/flyer.

Sama halnya dengan media online yang memiliki website, pers online, portal dan mail online. Sedangkan media radio, meski sering didengar satu arah, juga mengembangkan portal informasi.

Media-media ini ada yang jangkauannya luas misalnya Televisi. Ada yang terbatas seperti media cetak. Selain portal, dengan pembaca tertentu.

Tetapi urusan promosi, media TV, cetak, radio dan online bisa membuat ragam benda untuk melakukan promosi seperti pembuatan brosur, poster, flyer, spanduk, hingga banner.

Konsep marketingnya, melalui cetakan, keperluan promosi acapkali lebih tepat dan benar. Dan dapat berdampak baik pada hasil akhir. Mengigat promosi cetak bisa disimpan.

Bahkan kini, pemerintah provinsi, kota dan kabupaten yang melakukan promosi penanggulangan covid-19, tidak perlu datang langsung ke lokasi promosi.

Anda dapat mencetak kebutuhan promosi secara online kerjasama dengan media lokal. Dengan cara mengisi data di dalam website, kemudian Anda pilih media promosi apa yang dibutuhkan. Setelah itu Anda dapat mengunduh gambar atau desain ke dalam website.

Apalagi dalam promosi kesehatan seperti penanggulangan covid-19. Tahun 1982, saya pernah mengikuti KLW (Karya Latihan Wartawan) kesehatan. Promosi kesehatan yang saya catat terdiri dari tiga tingkatan yaitu tujuan Program Refleksi dari fase sosial dan epidemiologi. Promosi tahap ini berupa pernyataan tentang apa yang akan dicapai dalam periode tertentu yang berhubungan dengan status kesehatan. Tujuan program ini juga disebut tujuan jangka panjang. Ada juga tujuan Pendidikan Pembelajaran. Program ini harus dicapai agar tercapai perilaku yang diinginkan. Tujuan ini merupakan tujuan jangka menengah, contohnya : cakupan angka kunjungan ke klinik perusahaan meningkat 75 setelah Promosi Kesehatan berjalan tiga tahun.

Tujuan lain adalah tentang gambaran perilaku yang akan dicapai dalam mengatasi masalah kesehatan. Tujuan ini bersifat jangka pendek, berhubungan dengan pengetahuan, sikap, tindakan, contohnya: pengetahuan pekerja tentang tanda-tanda bahaya di tempat kerja meningkat 60 setelah Promosi Kesehatan berjalan 6 bulan.

Saya masih ingat ruang lingkup promosi kesehatan selain Pendidikan Kesehatan perubahan perilaku, kampanye Sosialisasi sosial marketing; Penyuluhan komunikasi, informasi dan edukasi. Upaya peningkatan upaya promotif, Advokasi upaya mempengaruhi lingkungan. Disamping Pengorganisasian dan penggerakkan dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam KLW itu peserta dari seluruh Indonesia diajarkan mengenai indikator keberhasilan melalui pemantauan dan evaluasi Promosi Kesehatan.

Dan indikator keberhasilan mencakup indikator masukan input, indikator proses, dan indikator output. Selain indikator masukan masukan berupa komitmen, sumber daya manusia, sarana peralatan, dan dana. Tentu dengan sasaran individu, kelompok, dan masyarakat. Oleh karena itu, indikator masukan ini perlu diperhatikan Pemprov Jatim secara detail sebelum melakukan Promosi Kesehatan bekerjasama dengan berbagai media lokal.

Secara konseptual, promosi Kesehatan harus dipandang sebagai proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental dan sosial.

Bahkan Promosi kesehatan juga dirumuskan sebagai “upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat. Ini agar dapat menolong dirinya sendiri serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat sendiri.

Bu Khofifah, Anda perlu paham bahwa diantara wartawan di media lokal Surabaya ada yang pernah mengikuti KLW kesehatan, bertopik promosi kesehatan. Mengapa media-media lokal ini tidak Anda ajak untuk melawan penyebaran virus corona di seluruh provinsi Jatim? Saya pikir belum terlambat bu Khofifah. (tatangistiawan@gmail.com)