DANA dan OVO Dirumorkan Merger

Ilustrasi OVO di acara Indonesia Fintech Summit & Expo 2019 di Jakarta Convention Center, Jakarta (23/9/2019).

SURABAYA PAGI, Jakarta – Dipercaya akan memperkuat ekosistem di industry fintech, 2 penyedia layanan keuangan digital Ovo dan Dana dirumorkan akan melebur menjadi satu.

Apalagi saat ini, ekosistem sektor fintech pembayaran besar. Layanan yang tersedia pun beragam, mulai dari fungsi gerbang pembayaran (payment gateway), card switching, dan lainnya, yang bersifat end to end.

Ditambah lagi, ekosistem industri teknologi finansial (fintech) Indonesia dinilai mirip dengan Tiongkok. Oleh karena itu, modal ventura menilai merger antara perusahaan di sektor ini, termasuk OVO dan DANA berpeluang terjadi.

CEO BRI Ventures Nicko Widjaja menilai, ekosistem fintech Indonesia lebih mirip Tiongkok ketimbang Silicon Valley, Amerika Serikat. “Berkaca dari sana (Tiongkok), sangat masuk akal jika pemain fintech pembayaran Indonesia, yang menguasai pangsa pasar lebih kecil, memilih bekerja sama dengan mitra strategis," ujar dia kepada Katadata.co.id, Selasa (16/6).

Di Negeri Tirai Bambu, tersisa dua pemain fintech pembayaran besar yakni WeChat Pay dan Alipay. Maka, menurutnya kabar OVO dan DANA sepakat merger untuk bersaing dengan GoPay besutan Gojek, sangat mungkin terjadi

Lagi pula, merger akan memperkuat ekosistem di industri fintech. "Jika berkaca ke pasar Indonesia secara spesifik, kunci sukses industri fintech yakni kolaborasi," kata Nicko. Di satu sisi, 80% pangsa pasar fintech pembayaran dikuasai lima pemain besar. "Tipe industrinya cukup concentrated," ujar dia.

Jika benar-benar akan merger, dipastikan banyak investor yang semakin berminat. Apalagi, layanan pembayaran berbasis digital semakin diminati selama pandemic.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Jefri R Sirait. Ia menilai, jika OVO dan DANA benar-benar merger, maka bisnis masing-masing perusahaan dan pangsa pasarnya akan semakin kuat.