Daging Babi Membuat Inflasi China Melambung

SURABAYAPAGI.com - Sejak Januari 2012 China masih menyandang gelar inflasi harga dengan titik tertinggi. Inflasi ini dipicu oleh melejitnya harga daging babi sejak wabah demam babi afrika menyerang.

"Meningkat inflasi Consumer Price Index (CPI) terkait dengan pasokan [sebagian besar harga daging babi] dan memburuknya deflasi Producer Price Index (PPI) berhubungan dengan permintaan," papar Kepala Ekonomi China di Macquarie Securities Ltd. di Hong Kong, Larry Hu.

Berdasarkan data Biro Statistik Nasional (NBS), Indeks harga konsumen (CPI) mencapai 3,8 persen pada bulan lalu, naik dari semula di angka 3,0 persen pada September. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak Januari 2012 silam.

Bahkan, beberapa ekonom memperkirakan inflasi konsumen bisa naik hingga 4 persen seiring dengan makin mahalnya harga daging babi.

"Deflasi yang terus menerus terjadi di sektor industri memeras profit, menghapus peluang untuk investasi dan penyerapan tenaga kerja," tutur David Qu.

Selain itu, Kenaikan harga daging babi ini kemudian mendorong harga daging-daging lainnya seperti sapi, ayam, bebek, dan telur karena konsumen mengalihkan sumber protein mereka.

Kenaikan harga ini telah membuat pemerintah China mengintervensi pasar untuk menstabilkan harga dan menjamin pasokan

Secara keseluruhan, harga produk makanan di China naik 15,5 persen sehingga mendorong inflasi. Adapun kategori makanan, tembakau, dan alkohol seluruhnya meningkat 11,4 persen, dan berkontribusi 3,37 persen terhadap CPI.

Kenaikan harga ini telah membuat pemerintah China mengintervensi pasar untuk menstabilkan harga dan menjamin pasokan.

"Para pemimpin China ketakutan pada inflasi," kata firma penelitian Trivium China yang berbasis di Beijing. Mereka menyebut kenaikan harga-harga sebagai salah satu faktor yang memicu protes bersejarah di Tiananmen pada 1989 silam. Saat itu inflasi mencapai 18,25 persen.

Sementara itu harga jual kembali anjlok dan berada di titik terendah dalam tiga tahun terakhir karena perang dagang dengan Amerika Serikat.

Indeks Harga Produsen (PPI), barometer yang digunakan sektor manufaktur untuk mengukur ongkos produksi, menurun 1,6 persen di Oktober ini dari periode yang sama tahun lalu. Pada September harga juga menurun 1,2 persen dan jadi penurunan tertajam sejak Agustus 2016.