Cuaca Tak Menentu, Harga Cabai Fluktuatif

SURABAYAPAGI.com - Curah hujan yang cukup tinggi rupanya berpengaruh terhadap harga bahan pangan di Jawa Timur (Jatim). Salah satunya adalah cabai yang harganya mengalami fluktuasi.
Dari pantauan Radar Surabaya, harga cabai di sejumlah pasar berada pada kisaran Rp 19.000 hingga Rp 20.000 per kilogram. Harga yang tak menentu ini membuat pedagang tidak berani membeli banyak untuk dagangannya. Para pedagang ini khawatir jika memiliki stok banyak harganya turun keesokan harinya.
Sejumlah pedagang menyebut, turunnya harga cabai lantaran sebagian petani sudah memasuki musim panen. Akibat harga yang belum stabil, tak sedikit pedagang mengalami penurunan omzet. Pasalnya, pembeli juga ikut berkurang.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim Drajat Irawan mengatakan, perkembangan harga cabai yang dipantau melalui Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) pada 116 pasar di Jatim memang fluktuatif. Menurutnya, pada tahun 2018 harga cabai pernah pada kisaran Rp 27.000 hingga paling tinggi Rp 48.000 per kilogram. “Untuk saat ini harga cabai Rp 19.000 per kilogram. Artinya ini masih normal rendah,” katanya, Jumat (1/2).
Pria yang akrab disapa Drajat ini mengatakan, tidak menentunya harga cabai ini disebabkan oleh dua hal. Yakni musim panen dan musim hujan. “Selain itu cabai ini tidak bisa disimpan lama. Bahkan permintaannya sering mengalami peningkatan,” ujarnya.
Drajat menambahkan, untuk mengantisipasi fluktuasi harga bahan pokok, pihaknya membentuk Tim Pengendalian dan Stabilisasi Bapok (Bahan Pokok). Tim tersebut beranggotakan Perum Bulog Divre Jatim, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Peternakan, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Surabaya dan Satgas Pangan Polda Jatim. “Kami akan terus melakukan pemantauan pada pasar-pasar, baik secara langsung maupun melalui Siskaperbapo,” tambahnya.
Menurut Drajat, pihaknya juga akan menggelar sidak untuk memantau harga. Ia mengatakan, sidak yang dilakukan langsung ke pasar itu bertujuan untuk mengontrol kebutuhan pokok masyarakat. “Kita juga akan menggelar operasi pasar untuk menstabilkan harga,” pungkasnya. (mus/nur)