•   Selasa, 21 Januari 2020
Ekonomi China

China Kembali Ajukan Pembebasan Tarif, Ini Tanggapan AS

( words)
Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di sela-sela KTT G20 Jepang SP/Rtr


SURABAYAPAGI.com - Meski perang dagang sempat mereda karena adanya kesepakatan berunding kembali namun, Beijing terus menekankan bahwa AS harus menghapus semua tarif yang dikenakan pada produk asal China sebagai syarat untuk mencapaikesepakatan perdagangan.

Pada Jumat (5/7/2019, media pemerintah menyampaikan bahwa perundingan dagang berpotensi menemui jalan buntu kembali jika AS tidak memenuhi permintaan China tersebut. Pesan ini senada dengan pernyataan yang disampaikan Kementerian Perdagangan (Kemendag) China sehari sebelumnya.

Meskipun Presiden ASDonald Trump dan Presiden China Xi Jinping telah sepakat untuk membuka kembali kesempatan perundingan dan gencatan senjatatarif impor, belum ada kepastian kapan perwakilan kedua negara akan bertatap muka lagi untuk menegosiasikan kesepakatan dagang.

"Jika kedua pihak ingin mencapai kesepakatan, semua tarif yang diberlakukan harus dihapus. Sikap China terhadap hal itu jelas dan konsisten," kata Juru Bicara Kemendag China Gao Feng,

Menurut sebuah komentar yang diunggah oleh Taoran Notes, Penghapusan semua tarif atas hukuman yang dikenakan AS merupakan tuntutan yang paling utama selama pembicaraan perdagangan.

Beberapa pejabat AS bersikeras bahwa tarif terhadap sejumlah produk akan tetap dikenakan bahkan setelah kesepakatan tercapai, yang menurut mereka itu akan berfungsi sebagai sarana untuk menegakkan kesepakatan dagang. Namun, tidak untuk China.

China menetapkan tiga ketentuan mutlak yang harus dipenuhi untuk mencapai kesepakatan perdagangan sebelum negosiasi gagal pada Mei 2019. Selain penghapusan semua tarif, pembelian produk apa pun harus sesuai dengan permintaan riil negara dan kesepakatan harus didasarkan pada kesetaraan serta rasa saling menghormati.

Berdasarkan tulisan di Taoran Notes, pembelian produk pertanian AS oleh China adalah amunisi khusus negara dalam bernegosiasi.

"(Kesepakatan) Impor apa pun akan bergantung pada apakah pembicaraan berlangsung dengan nilai kesetaraan dan rasa saling menghormati," menurut komentar Taoran Notes.

Sebelumnya, pihak Pemerintah China sempat menyampaikan pertimbangan mereka untuk membeli beberapa produk pertanian AS sebagai bentuk niat baik di tengah dibukanya kembali kesempatan perundingan dagang antara kedua negara.

Pemesanan tersebut dapat mencakup kedelai, jagung, dan daging babi. Meskipun volumenya cenderung lebih kecil dari pembelian sebelumnya. Pada pekan lalu, seorang peneliti pertanian China menyampaikan bahwa Beijing tidak mungkin mulai membeli sejumlah besar produk AS dalam waktu dekat.

"Hambatan dagang termasuk balas membalas tarif yang tetap berlaku serta ketegangan atas isu yang melibatkan Huawei Technologies Co.," kata Li Qiang, ketua dan kepala analis di Shanghai JC Intelligence Co.

Pembelian produk pertanian AS dalam jumlah lebih banyak kemungkinan tidak akan mengubah tuntutan Washington untuk konsesi dari China terhadap isu properti intelektual.

"Saya tidak yakin ada kebutuhan dari China untuk membeli lebih dari yang diperlukan," ujar Darin Friedrichs, analis komoditas senior Asia di INTL FCStone.

Berita Populer