Cegah Transaksi Goreng Saham, OJK Akan Keluarkan Aturan

SURABAYA PAGI, Jakarta – Untuk meminimalisir transaksi ’saham gorengan’, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana membuat aturan mengenaimarket maker (penggerak pasar) di pasar modal.

Pengertian dari Goreng-menggoreng saham sendiri ialah sebagai praktik di mana harga saham bisa rontok hingga level terendahnya, namun kembali melonjak dalam waktu singkat. Pergerakan saham gorengan sangat cepat, namun umumnya tak likuid. Seringkali saham gorengan cuma menjadi mainan bandar karena harganya relatif murah.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen menuturkan pihaknya masih mencari skema yang tepat dalam membuat kebijakan market maker di Indonesia. Pembahasan aturan ini dilakukan bersama pemangku kepentingan lain yang mengurusi sektor pasar modal.

"Pasar modal sekarang ini faktanya banyakbroker (perusahaan sekuritas) yang kecil-kecil. Transaksinya kadang tidak melalui BEI, tapiover the counter," ucap Hoesen, Kamis (16/1).

Dengan demikian, proses pembentukan harga tak mengikuti harga pasar melainkan atas kesepakatan pihak yang menjual dan membeli saja. Oleh karena itu, harga beli atau jualnya bisa di bawah atau di atas harga pasar.

"Ini tidak didasarkan pada mekanisme pasar," imbuh dia.

Hoesen berujar pihaknya juga akan melihat bagaimana skema market maker digunakan di bursa saham di Singapura dan Amerika Serikat (AS). Ia tak menyebut pasti kapan aturan mengenai market maker ini rampung.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyentil pejabat Bursa Efek Indonesia (BEI) dan OJK soal praktik goreng saham. Ia menegaskan aktivitas perdagangan efek di pasar modal dalam negeri harus lebih bersih dari investor yang hobi memanipulasi harga saham.

Jokowi mengibaratkan saham gorengan sebagai berikut, sebelumnya saham ada di level Rp100. Namun, melonjak menjadi Rp1.000 per saham hingga Rp4.000 per saham, tanpa fundamental yang jelas.


"Jangan sampai saham Rp100 per saham digoreng jadi Rp1.000 per saham digoreng-goreng jadi Rp4.000 per saham. Ini menyangkut kepercayaan yang dibangun," kata Jokowi.