Cari yang Jujur, Gak Butuh Bupati Keminter

Poster para Calon Bupati Sidoarjo yang sudah bertebaran di mana-mana.

 

SURABAYAPAGI.COM, Sidoarjo - Pilkada 2020 yang digelar serentak sudah di depan mata. Para calon kepala daerah yang berkompetisi, berlomba-lomba jualan janji, slogan dan program demi menggaet hati masyarakat. Padahal, seringkali, ketika sudah terpilih, mereka lupa akan janji-janji saat kampanye. Lalu sebenarnya, apa sih harapan masyarakat terhadap para calon pemimpin ini?

Tiga pasangan kandidat Pilkada Sidoarjo sudah mendaftar ke KPU, yakni Cabup Bambang Haryo Sukartono dan Cawabup Taufiqulbar, Cabup Kelana Aprilianto dan Cawabup Dwi Astutik serta Cabup Ahmad Muhdlor Ali dan Cawabup Subandi.

Terhadap para kandidat itu, kriteria pemimpin yang paling diinginkan warga Sidoarjo adalah jujur dan tidak korupsi. Disusul kapasitas menyelesaikan beberapa persoalan seperti ekonomi, lingkungan, pendidikan dan kesehatan.

 Sementara Ali, warga Gedangan, menyatakan senang dengan banyaknya para calon yang turut serta meramaikan pemilihan calon Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo.

“Dengan banyaknya para calon, nantinya masyarakat Kabupaten Sidoarjo akan semakin banyak pilihan dalam menentukan pilihannya, siapa yang layak memimpin Sidoarjo 2021-2026,” papar Ali.

Terkait dengan kandidat dari luar Sidoarjo, Ali menyatakan sah-sah saja. “Boleh dan sah-sah saja calon dari luar wilayah. Sepanjang masih tercatat warga Indonesia, sehat jasmani dan rohani. Selain itu setia kepada Pancasila, UUD Tahun 1945 dan NKRI. Jadi sekarang tidak harus warga setempat di daerah pemilihan,” katanya.

Menurutnya, calon dari luar Sidoarjo tidak perlu dipermasalahkan. Sepanjang calon tersebut memiliki kemampuan dan membawa Sidoarjo bisa lebih baik.

"Kami berharap para kandidat jangan cuma bisa menebar janji manis ketika kontestasi. Tapi kami berharap mereka bisa mewujudkan janji yang mereka gaungkan. Kami jangan dijadikan lumbung suara saja," tutupnya.

Rizal, warga Kota Sidoarjo mengatakan dalam proses pemilih pemimpin tidak boleh seperti membeli kucing dalam karung. Artinya harus mengetahui secara baik visi misi dan program kerja yang dilakukan untuk sidoarjo kedepan. “Pilkada ini momentum untuk mengubah Sidoarjo yang lebih baik, jadi jangan golput,” paparnya.

Apalagi, kecenderungan kaum Millenial apatis terhadap politik. Padahal kaum muda menjadi sentral perubahan menuju Sidoarjo yang lebih baik. “Kaum Millenial ini aset dalam membangun Sidoarjo, tidak boleh apatis terhadap politik,” jelasnya.

 

Kampanye Negatif

Rizal berharap Kabupaten Sidoarjo sebagai kota penyanggah ibu kota provinsi harus mampu mengimbangi Surabaya. Menurutnya saat ini pengelolaan sidoarjo masih belum maksimal.

Cabup Bambang Haryo mengajak semua masyarakat menyambutnya bergembira dan senang terutama saat masa kampanye Pilkada Sidoarjo nanti.

"Kami berharap tidak ada kampanye negatif, yang bisa mencederai pelaksanaan Pilkada Sidoarjo. Kami ingin semua senang dan gembira di Pilkada Sidoarjo ini," ujar  Bambang Haryo.

Hal sama juga disampaikan Cabup Ahmad Muhdlor yang meminta masyarakat Sidoarjo bersikap happy saat menikmati pesta Pilkada karena moment pemilihan bupati/wakil bupati merupakan ajang mencari calon pemimpin daerah lima tahun mendatang. "Mari kita bersenang-senang dalam pilkada, jangan ada yang takut dalam memilih calon," ujarnya.

 

Trauma Janji Palsu

Sementara itu, di Tuban juga tak jauh beda. Rasa trauma ‘ditipu’oleh politikus ketika kampanye, sangat membekas di hati sebagian masyarakat sana. “Kita ini cuma gak mau dikasih janji palsu. Habis kampanye, terpilih, terus lali (lupa) dengan janjinya sendiri. Sudah capek dibujuki (dibohongi),”kata Joko (35) warga Tuban.

Senada dengan Joko, Rina (23) yang berstatus mahasiswa mengungkapkan, dia mengharapkan Pilbup di Tuban bisa melahirkan pemimpin yang jujur. “Sebab Indonesia ini sudah kebanyakan orang pinter, akhirnya keminter. Kita saat ini, lebih butuh pemimpin yang jujur, berakhlak daripada yang pinter,”ucapnya perempuan asli Tuban ini.

Lebih jauh, Rina mengungkapkan jika orang-orang se-usianya, banyak yang tak ahu siapa mereka yang berkompetisi untuk merebut kursi Bupati Tuban. Jadi, dia tak begitu peduli dengan perehelatan pesta demokrasi ini. “Jujur, saya dan teman-tema saya, kebanyakan tak tahu siapa para calon itu. Kami Cuma tahu wajah dan nama mereka di poster-poster pinggir jalan. Jadi kalau kami tak memilih (golput) toh ya gak ada yang melarang,”ungkap Rina dengan nada kesal.

Di Tuban, sejauh ini, sudah ada 3 pasangan calon (paslon) yang mendaftar ke KPU. Mereka adalah; Setiajid-Armaya (PDIP 5, PBB, 1, Gerindra 5, PPP 2, PAN, 3. Total; 16 kursi), Lindra-Riyadi (Golkar 9, Demokrat 5, PKS 1, Total 15 kursi) dan Khozanah-Mirza. sg/hr