Cadangan Devisa Tiongkok Maret Ini Turun Ke Level Terendah 17 Bulan

SURABAYAPAGI.com, China - Cadangan devisa China turun ke level terendah 17 bulan pada bulan Maret banyak negara-negara didunia yang masih melakukan lockdown berkepanjangan dan karena ketidakpastian yang terjadi di pasar keuangan global di tengah pandemi virus corona.

Sebelumnya Ekonomi China mulai menunjukkan geliat usai diguncang pandemi virus corona. Namun, langkah Negeri Tirai Bambu itu masih panjang di tengah ketidakpastian saat ini.

Pertumbuhan PDB China berpotensi menyusut menjadi satu hingga dua persen, terperosok dari pertumbuhan 2019 yang berada di 6,1 persen. Para analis termasuk Bank Dunia meramalkan, perekonomian China tahun ini bisa tak tumbuh sama sekali dalam skenario terburuk.

Skenario tersebut merupakan yang terparah selama 44 tahun terakhir atau lebih parah dari krisis 2008-2009 dan bahkan resesi pada 1990 ketika dunia memberlakukan sanksi kepada China akibat pembantaian Tiananmen.

Bahkan, pemerintah China yang telah menentukan target PDB tiap tahun sejak 1985, ragu dalam memasang target. Seorang pembuat kebijakan di Bank Sentral China (PBOC) menyarankan pemerintahan Xi Jin Ping untuk tak menetapkan target pada 2020.

Analis dari UBS dan Golden Sachs baru-baru ini memangkas perkiraan pertumbuhan China masing-masing menjadi 1,5 persen dan 3 persen.

Dan sekarang cadangan devisa di china sudah mencapai 3,061 triliun dolar AS pada akhir Maret, turun 47,3 miliar dolar AS atau 1,5 persen dari awal tahun ini, menurut Administrasi Negara Valuta Asing (SAFE).

Sebuah jajak pendapat oleh Reuters memperkirakan cadangan akan turun 6,718 miliar dolar AS menjadi 3,100 triliun dolar AS.

Pesatnya penyebaran COVID-19, anjloknya harga minyak mentah internasional, kekuatan indeks dolar AS dan perubahan harga aset negara-negara utama adalah faktor utama yang berkontribusi terhadap penurunan cadangan devisa, menurut Wang Chunying, seorang juru bicara dan ketua Ekonom untuk SAFE.

Wang mengatakan bahwa fundamental yang kuat dari pertumbuhan ekonomi jangka panjang China akan tetap tidak berubah. Ekonomi riil membaik dengan percepatan dimulainya kembali pekerjaan dan produksi, sehingga cadangan devisa negara itu secara umum akan tetap stabil.

Indeks dolar AS melonjak ke rekor 102,70 pada 19 Maret. Bank-bank sentral mengumumkan pada pertengahan Maret tindakan terkoordinasi untuk meningkatkan likuiditas dolar karena pasar keuangan global menunjukkan volatilitas di tengah pandemi. (reuters/cgtn/cnn/cr-03/dsy)