•   Jumat, 22 November 2019
SGML

Bupati Fadeli Dorong Pelurusan Sejarah Mahapatih Gajah Mada

( words)
Bupati Fadeli bersama istri dan Wabup Kartika Hidayati menyerahkan kunci mobil sehat untuk desa-desa di Lamongan. FOTO:SP/MUHAJIRIN KASRUN


Dari Fakta Sejarah dan Penelusurannya, Gajah Mada adalah Kelahiran Lamongan

SURABAYA PAGI, Lamongan - Ada fakta baru terkait sejarah kelahiran mahapatih Gajah Mada. Dari penelusuran sejarah hingga saat ini, pria yang mengucapkan Sumpah Palapa adalah anak Lamongan, tidak lain adalah Mahapatih Gajah Mada memang dilahirkan di Lamongan.
Hal itu disampaikan oleh bupati Fadeli, dalam Pasamuan Agung Hari Jadi Lamongan ke 450 di Pendopo Lokatantra, Minggu sore (26/5/2019).
"Yang mengucapkan Sumpah Palapa adalah anak Lamongan. Karena Mahapatih Gajah Mada memang dilahirkan di Lamongan. Sejarah ini perlu diluruskan, agar anak-anak kita termotivasi dan memiliki kebanggan,” kata dia.
Terhadap sejarah ini, dia juga terbuka jika memang ada fakta baru terkait sejarah Lamongan. Karena ada satu literasi yang menyebutkan Panji Laras dan Panji Liris itu sudah ada sejak era Sunan Giri II.
Epos Panji Laras Panji Liris yang dilamar dua putri Adipati Kediri, Dewi Andansari dna Dewi Andanwangi selama ini sangat lekat dengan sejarah Lamongan. Sementara Panji Laras Panji Liris sendiri disebutkan sebagai putra Adipati Lamongan.
Sedangkan penetapan HJL yang berlaku saat ini didasarkan pada diwisudanya Hadi oleh Sunan Giri IV menjadi adipati pertama di Lamongan dengan gelar Tumenggung.
Puncak HJL Lamongan ditandai dengan pembukaan selubung pataka lambang daerah di Gedung DPRD. Pataka itu kemudian dikirab keliling Kota Lamongan.
Masyarakat cukup antusias menyambut kirab di sepanjang jalan. Karena panitia menyuguhkan delapan kesenian tradisional di setiap perempatan yang dilalui rombongan kirab. Ribuan takjil gratis juga dibagikan pada masyarakat yang hadir.
Dalam kirab itu pula, PKL untuk pertamakalinya digunakan dalam event resmi. Seperti disampaikan Fadeli, dalam event resmi selanjutnya di Lamongan akan terus menggunakan PKL.
Karena busana ini terinspirasi dari sejumlah budaya lokal. Seperti penggunaan batik singomengkok, dan aplikasi kowakan pada busana pria yang mengambil ciri khas busana adat tambal sewu. jir

Berita Populer