Bisnis Minuman usai Kuliah di Taiwan

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Usaha bisnis minuman dengan fokus terhadap boba atau yang lebih dikenal dengan bola tapioka, sering menjadi topping atau isian bubble tea, makin marak. Boba merupakan makanan atau snack yang berasal dari negeri Taiwan. Menjadi jajanan tradisional yang disukai oleh semua kalangan di Taiwan, membuat Wijaya tertarik ketika sedang melanjutkan masa perkuliahan di Taiwan pada tahun 2016. Ketertarikan tersebut kemudian membawa Wijaya untuk membaca peluang di Indonesia khususnya kota Surabaya untuk memulai usaha bisnis dalam bidang kuliner.

“Saya membaca peluang melihat boba di Surabaya, terutama pada minuman sekarang sudah menjadi gaya hidup. Kebanyak orang membeli makanan dan minuman selalu melihat merek, dan hal ini saya rasa brand yang saya ciptakan dapat masuk dan memeriahkan kuliner yang ada di Surabaya,” ujarnya.

Pada akhir tahun 2018, Wijaya mendapatkan informasi terkait salah satu merek minuman dengan boba akan masuk ke pasar Indonesia. Megetahui informasi tersebut, segera ia membuka merek minuman lokal dengan fokus pada varian teh dan boba.

Memasuki awal tahun 2019 Wijaya kemudian membuka merek lokal dengan nama Dirty Boba, nama tersebut cukup menyita perhatian para pengunjung karena memiliki konotasi negatif. Namun Wijaya menjelaskan bahwa nama tersebut karena topping boba yang diletakkan secara melingkar pada gelas yang terkesan tidak rapi, maka muncul lah nama Dirty Boba, nama tersebut juga disengaja untuk mengkomunikasikan produk tersebut.

Dirty Boba dapat dikunjungi di area Pasar Atom tahap I – III lantai 1 dengan jam operasional pukul 10.00 – 17.00 Wib. Varian menubrown sugar boba drinksmenjadi daya tarik para pengunjung.Dalam satu hari Dirty Boba mampu menjual 100 gelas per hari. Sebagai brand lokal asal Kota Surabaya ini juga akan hadir di area Grand City pada bulan Januari 2020.

Wijaya menjelaskan bahwa membuka bisnis usaha, ia harus memulai dengan melakukan riset selama 6 bulan lamanya, membaca peluang boba di pasar Surabaya, dan mengikutieventbazar yang diselanggarakan oleh beberapa mall di Surabaya untuk marketingbranding.

Resiko yang dihadapi oleh Wijaya juga tidak main-main karena boba yang disediakan harus dalam keadaan fresh dan tidak bisa disimpan terlalu lama. Bila boba tersebut tidak laku maka harus dibuang, karena Wijaya menjaga kualitas boba yang ia pasarkan.

Harapan Wijaya terhadap usahanya sendiri ialah mampu menjadiikon brand tea dari segi kualitas lokal untuk Kota Surabaya. Ia bahkan sudah mengantisipasi terhadap resiko yang akan muncul bila boba tidak lagi populer, maka ia sudah menyediakan menu dan produk baru denganbrand yang sama.

Wijaya juga mengakui bahwa ia cukup terinspirasi oleh Pak Ciputra dalam dunia bisnis, ia ikut sedih atas meninggalnya Pak Ciputra. Baginya Pak Ciputra adalah orang yang pandai membaca peluang dan mas depan, harapannya ialah semoga visi misi yang telah Pak Ciputra bangun mampu diteruskan oleh Ciputra Group.