•   Minggu, 5 April 2020
Peristiwa Internasional

Bila Sanksi di Hapus, Iran Mau Berunding dengan AS

( words)
Menteri Intelijen Iran, Mahmoud Alavi, mengatakan negaranya bersedia berunding dengan hanya jika Amerika Serikat mencabut sanksi dan pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, memberikan restu


Menteri Intelijen Iran, Mahmoud Alavi mengatakan Teheran dan Washington dapat melakukan pembicaraan hanya jika Amerika Serikat (AS) mengakhiri sanksi dan otoritas tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memberikan persetujuannya. Pernyataan tersebut dilaporkan kantor berita negaraIran pada Kamis (4/7).

"Perundingan dengan Amerika hanya bisa dipertimbangkan jika [Presiden Donald] Trump mencabut sanksi dan pemimpin tertinggi memberikan izin untuk melakukan perundingan," ujar Menteri Intelijen Iran, Mahmoud Alavi.

Sebagaimana dikutipReuters, pernyataan itu berlanjut, "Amerika takut akan kekuatan militer Iran. Itu alasan di balik keputusan mereka untuk membatalkan rencana menyerang Iran."

"Orang Amerika takut dengan kekuatan militer Iran, itulah alasan di balik keputusan mereka untuk membatalkan keputusan menyerang Iran," ucap Alavi.

Trump mengatakan bulan lalu bahwa ia telah membatalkan serangan militer terhadap Iran karena itu dapat menewaskan 150 orang, dan mengisyaratkan bahwa ia terbuka untuk berbicara dengan Teheran. Rencana serangan dilakukan untuk membalas serangan Iran atas pesawat tak berawak AS pada 20 Juni.

Teheran menyatakan pesawat pengintai ditembak jatuh oleh rudal darat ke udara di wilayah udara Iran. Sementara, Washington mengatakan telah berada di wilayah udara internasional.

Ia berdalih serangan itu berpotensi menewaskan 150 orang. Trump pun membuka kemungkinan untuk berunding dengan Iran untuk meredakan ketegangan.

Ketegangan antara AS dan Iran sendiri mulai meningkat sejak Rouhani mengancam bakal melanjutkan pengayaan uranium, salah satu poin penting dalam kesepakatan nuklir.

Rouhani mengancam akan melanjutkan pengayaan uranium jika negara Eropa yang tergabung dalam perjanjian nuklir 2015 atau JCPOA itu tidak membela Teheran dari sanksi AS.

Perjanjian yang digagas di era Barack Obama itu menyepakati bahwa negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran.

Sebagai timbal balik, Iran harus menyetop segala bentuk pengembangan senjata rudal dan nuklirnya, termasuk pengayaan uranium.

Namun, di bawah komando Presiden Donald Trump, AS menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir itu pada Mei 2018 lalu dan kembali menerapkan sanksi atas Iran.

Sejak ultimatum Rouhani tersebut, AS dan Iran terus saling lontar ancaman. Presiden Donald Trump bahkan mengerahkan kapal induk dan sejumlah pesawat pengebom ke Timur Tengah

Berita Populer