•   Senin, 30 Maret 2020
Pilpres 2019

Berebut Suara NU

( words)
Calon Presiden no urut 01, Joko Widodo & Calon Presiden no urut 02, Prabowo Subianto. Foto: SP/IST


SURABAYA PAGI, Jakarta - Nahdlatul Ulama (NU) lagi-lagi menjadi “kue manis” yang diperebutkan kedua belah kubu dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.
Meski NU secara kelembagaan tidak berpolitik praktis, banyaknya jumlah pemilih Nahdliyin membuat NU selalu “seksi” untuk diperebutkan. Mengacu data Sensus Penduduk 2010 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia beragama Islam sebesar 87,18%.
Survei yang dilakukan Alvara Research Center pada Oktober 2018 lalu menyebutkan ada tiga karakteristik dalam melihat NU. Pertama, dari sisi ritual, mayoritas muslim di Indonesia atau 80% menyatakan mengikuti ritual keagamaan ala NU.
Misalnya, mereka mau untuk menggelar tahlil atau Maulid Nabi Muhammad SAW. Indikator kedua, ketika publik ditanya afiliasi keormasan atau merasa memiliki kedekatan dengan ormas Islam apa, jumlah yang mengaku memiliki kedekatan dengan NU menurun menjadi 60%. Sementara indikator ketiga, ketika responden ditanya ‘Anda menjadi anggota ormas apa? Jumlah yang mengaku menjadi anggota ormas NU turun menjadi hanya 40%. “Jadi, di situ ada gap dari 80 persen menjadi 60 persen dan kemudian menjadi 40%,” tutur Direktur Eksekutif Alvara Research Center Hasanuddin Ali, kemarin.
Masih dari data rilis survei yang sama, Hasanuddin menyebutkan, dalam konteks Pilpres 2019, anggota ormas NU yang mendukung pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin mencapai 55,5%, sementara pendukung Prabowo-Sandi 33,2%. Selebihnya 11,3% belum menentukan pilihan.
Kemudian responden yang merasa dekat dengan NU namun bukan anggota NU, 55,0% menyatakan mendukung Jokowi-KH Ma’ruf Amin dan 34,2% mendukung Prabowo-Sandi. Selebihnya 10,9% belum menentukan pilihan. “Suara warga NU tidak pernah bisa bulat karena jumlahnya besar sehingga semua kontestan politik berusaha keras menarik dukungan dari pemilih NU,” tuturnya.
Karena itu, dalam menghadapi Pilpres 2019, kedua kubu terus mendekat ke NU. Jokowi, misalnya, jelas-jelas menganggap suara NU sangat signifikan. Keseriusannya ditunjukkan dengan menggandeng KH Ma’ruf Amin yang saat itu menjabat Rais Aam PBNU sebagai cawapresnya.
Pasangan Prabowo-Sandi pun tak mau kehilangan suara NU. Setelah deklarasi pencalonan, Prabowo langsung “sowan” ke PBNU. Sejumlah kiai dan ulama keturunan pendiri NU memberikan dukungannya kepada Prabowo-Sandi.
PAS Didukung Cucu Pendiri NU
Sementara itu, KH Hasyim Karim, cucu salah satu pendiri NU KH Bisri Syansuri, dalam pertemuan di kediaman Prabowo mengaku bangga kepada pasangan Prabowo-Sandi yang dinilai fokus mengatasi persoalan ekonomi.
Hasyim juga mengaku bangga saat Prabowo menjadi pembicara utama di The World 2019 Gala Dinner yang digelar The Economist di Singapura, Selasa (27/11) lalu. “Prabowo menjelaskan program ekonomi yang dia usung kepada para CEO perusahaan besar di dunia. Seorang pemimpin harus jelas dan bisa meyakinkan saat berbicara di forum internasional,” kata sang kiai.
Dia berharap ke depan masyarakat bisa melihat pasangan Prabowo-Sandiaga lebih objektif. Hal itu terkait kualitas mereka yang mumpuni memimpin Indonesia pada 2019.
Dalam pertemuan itu sejumlah ulama keturunan pendiri NU yang memberikan dukungan kepada Prabowo-Sandiaga berdasarkan data yang dirilis tim media Badan Pemenangan Koalisi Indonesia Adil Makmur di antaranya dari Dzuriyyah Pesantren Tebuireng, Jombang, seperti Gus Irfan (KH Irfan Yusuf Hasyim), dari Dzurriyah Pensatren Tambak Beras ada KH Hasib Wahab (putra KH Wahab Hasbullah), dan Nyai Hj. Oni Idris Hamid (Cucu KH Abd Hamid Pasuruan). Jk

Berita Populer