•   Minggu, 23 Februari 2020
WhiteCrime

Bencana Dalam “Lingkar Api” Korupsi

( words)
Suparto Wijoyo, Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga


Kolom Kontemplasi Suparto Wijoyo

KESEMPURNAAN yang menistakan untuk tidak mengatakan sebagaimana diungkapkan oleh Kahlil Gibran dalam bukunya Secrets of The Heart: “kematian sebuah bangsa”. Kepungan korupsi melingkar seperti cincin api peradaban rakus yang mendera dari Sabang sampai Merauke. Bupati Bekasi merupakan kepala daerah ke-99 yang diringkus KPK dalam OTT (Minggu 14 Oktober 2018) sejengkal proses hukum yang dilakukan lembaga anti rasuah sejak 2004. Kelindan yang memayungi nyaris serupa dengan “campak” yang menyebar di sekujur tubuh bangsa berupa “deretan upeti, sogok, dan suap yang direpresentasi dengan ukuran-ukuran dolar maupun rupiah”. Konglomerat dalam usaha dagang di sektor properti ataupun tambang sudah sering terdengar meski sayup-sayup. Setiap pengurusan izinnya senantiasa “diperas” atau “menawarkan diri” untuk “dijamah di jalan kenikmatan” agar lancar segala perkara administrasi pemerintahan. Sogok dengan gepokan nilai yang fantastis digaungkan meski dirung-ruang simbolik maupun areal tersamar dengan mengayunkan gontai elegi.
Meikarta terwartakan dalam gerakan OTT KPK di Kabupaten Bekasi. Semua tersentak dan semakin komplit bahwa antara pengusaha yang ingin lancar segalanya berketemuan dengan pejabat yang “dimanja”. Kongsi konglomerasi dan birokrasi ternyata mampu menyeret problema karakter bangsa yang dipenuhi para pejabat yang kompeten tetapi tidak berintegritas. Demikian gerutu awam yang saya sendiri menyetujuinya. Korupsi yang menyentak di Bekaso dan semakin membuat Meikarta terkenal tanpa perlu lagi iklan besar-besar seperti sedia kala, memang juga membuat duka lara bagi jiwa-jiwa bangsa yang memiliki nalar yang terjaga.
Kahlil Gibran dalam buku itu memang menulisnya penuh sindir bahwa situasi bangsanya memanglah tidak binasa karena penderitaan kelaparan yang dibunuh dengan pedang, dan aku di negeri yang jauh mengembara di tengah-tengah bangsa yang bergembira dan tidur di atas ranjang-ranjang lembut, dan tersenyum pada hari-hari sementara hari-hari tersenyum padanya. Dia yang sama –sama menanggung duka dan penderitaan dengan bangsanya akan merasakan suatu kesenangan tertinggi yang hanya diciptakan oleh penderitaan dalam berkorban. Dan di atas semuanya akan merasa damai dengan dirinya sendiri ketika dia mati tidak bersalah kepada saudara-saudaranya.
Korupsi dengan agenda untuk mendapatkan kesenangan sendiri sejatinya terekam dalam rubrikasi Kahlil Gibran meski dengan pesan yang amat “terpaksa”. Tetapi biarlah ini menjadi permenungan siapapun bahwa korupsi itu menjegal hak orang lain walaupaun dengan harta benda sendiri. Sementara sang pejabat dengan kekuasaan yang direbutnya dengan sarana demokrasi yang dihelat dengan biaya tinggi itu sering butuh “kembali modal”. Semua itu menjadi bencana politik dan kelembagaan dikala pengusaha dan penguasa bersekongkol untuk “bercumbu di ranjang pelayanan publik yang sama” dengan suap yang dipertontonkan. Sangatlah membahayakan dan ini bencana tersendiri seolah melengkapi penderitaan akibat bencana alam yang dirasakan bayak anak negeri.
Simaklah yang terjadi di Kamis Sore, 11 Oktober 2018 di Mandiling Natal dulu itu. Ragam berita menyuguhkan narasi yang menggedor nurani ekologis pembacanya dengan ungkapan: Suara pohon tumbang itu demikian keras dan belum lagi kekagetan puluhan siswa tersadarkan, tahu-tahu ruang kelas mereka roboh. Terhantam kayu-kayu besar yang dibawa hanyut arus air bah. Sebanyak 29 murid SD Negeri 235, Desa Muara Saladi, Mandailing Natal, Sumatera Utara yang tengah mengikuti kelas sore atau madrasah itu hanyut bersama reruntuhan bangunan sekolah. 12 anak sekolah meninggal berbarengan dengan 20 orang warga, 17 unit rumah roboh, 5 rumah hanyut, dan raturan lainnya terendam banjir. Sebuah peristiwa yang menyerta curah hujan yang tinggi sejak Kamis tanggal 11 Oktober 2018 lalu.
Peristiwa perih itu mengingatkan saya pada kejadian yang nyaris serupa di Jatim awal tahun 2017. Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, Jawa Timur menorehkan derita kolosal akibat bencana hidrometeorologi berupa tanah longsor. 28 orang dan 32 rumah tertimbun, 300 jiwa terdampak, 45 rumah rawan longsor, 4-15 hektar areal persawahan rusak, 1.655 personel diterjunkan untuk evakuasi, dan 7 alat berat dikerahkan. Publik pun tersedak menahan nafas panjang mencermati tebing setinggi 100 meter ambrol menerjang permukiman warga dan mengubur 11 pemanen jahe. Bencana ini menyerta menggumpalkan penderitaan yang bersambung dengan banjir bandang di Kelurahan Batunadua Julu, Kecamatan Padang Sidimpuan, Batunadua, Kabupaten Padang Sidimpuan, Sumatera Utara. Pada Selasa, 28 Maret 2017, Padang Sidimpuan terendam air bah dengan 5 orang tewas, 61 rumah hanyut, 71 rumah rusak berat, dan 1.500 warga tinggal di pengungsian.
Apa yang terhelat di Mandailing Natal saat ini selaksa melengkapi deretan “festival bencana” gempa di Lombok, Palu, Donggala, Mamuju, Sigi, maupun yang terbaru di Sumenep dan Situbondo pada tanggal 11 Oktober 2018. Semua itu menambah deret hitung terjadinya bencana sejak tahun 2002-2017 yang terus meningkat. Banjir dan longsor mendominasi tragedi di lahan kritis berbagai daerah. Data dari BNPB dan KLHK memetakan bahwa Pulau Jawa terpotret dalam kondisi potensial kritis sampai dengan sangat kritis yang tersebar di: Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Pasuruan, Kediri, Tuban, Bojonegoro, Pacitan, Nganjuk, Ngawi, Wonogiri, Klaten, Sragen, Grobogan, Blora, Rembang, Pati, Demak, Kebumen, Cilacap, dan Brebes, DI Yogyakarta, Ciamis, Garut, Bandung, Sumedang, Indramayu, Subang, Cianjur, Sukabumi, Bogor, DKI Jakarta dan Banten. Pemetaan ini memberi peringatan bahwa Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten sangat rentan bencana. Kerusakan ekosistem dan penyalahgunaan tata ruang menjadi pemicu yang menestapakan lingkungan dengan implikasi praktis memburuknya kehidupan manusia.
Simaklah. Selama ini bencana senantiasa merenggut korban yang bersifat masal dan terus meningkat jumlahnya. Tahun 2002 negara ini “memanen” bencana sebanyak 143 peristiwa, dan melonjak drastis menjadi 1.942 di tahun 2010, 1.967 di tahun 2014, dan 2.342 di tahun 2016. BNPB memberikan keterangan bahwa kerugian akibat bencana alam rata-rata pertahun mencapai Rp. 30 triliun lebih. Hitungan finansial yang dipikul negara semakin spektakuler dengan menengok kerugian akibat kebakaran hutan tahun 2015 yang bertengger dikisaran Rp. 221 triliun. Begitu pula yang dialami Lombok dan Palu.
Bencana yang beraspek ekologis ternyata sangat merugikan dan membutuhkan sikap bijak tanggap bencana yang harus dirumuskan negara. Pemerintah wajib mengoptimalkan instrumen ini seperti yang diamankan UU Penanggulangan Bencana. Pemanfaatan teknologi “sistem peringatan dini” terkesan diabaikan. Dalam literasi pengelolaan bencana ada pesan kultural“tanggap ing sasmito”. Terdapat amanat Pembukaan UUD 1945 kepada pemerintah “untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah”. Peta bencana mutlak tersedia di setiap daerah dan pemda setempat mustilah menginisiasi warga dengan “pendidikan kebencanaan”. Negara dapat membuat road map kebencanaan dan pembangunan wilayah disesuaikan dengan kondisi alamnya. Belajar pada referensi Desa Warnnana,karya Empu Prapanca (1365) dapat diketahui bahwa untuk mengatasi bencana itu diawali dari tingkat desa. Setiap kampung memiliki piranti kebencanaan.
Dalam lingkup ini jangan sampai ada gerutu menyesali diri tinggal di negeri ini. Ungkapan yang acapkali terlontar bahwa negara ini rawan banjir, gempa, longsor, gunung meletus, bahkan ada patahan aktif yang siap mengguncang Surabaya dengan kekuatan 6,5 SR, dan tsunami, tidaklah berarti “bencana itu kutukan”. Tulisan Lawrence Blair dan Lorne Blair (2010) yang mengintrodusir Indonesia ada dalam lingkaran api (Ring of Fire)bukanlah pernyataan yang terus didramatisir. Justru kita bersyukur, berarti Indonesia adalah tanah subur yang dikreasi penuh keseimbangan oleh Tuhan. Hanya rumpun geografis demikianlah yang menjanjikan kemakmuran, karena “bencana alam” itu sejatinya “materi ilmu” agar manusia terpanggil menjaga alam. Buku Mark Heyward Crazy Little Heaven (2018) menguatkan sungging senyum syukur itu, karena pesona kepingan surga, tetaplah di Indonesia. Tapi korupsilah yang memberinya noktah kelam, apalagi korupsi dana bantuan untuk korban. (*)

Berita Populer