Debat Calon Wali Kota Surabaya versi PSI

Belum Ada Solusi untuk Pasar Turi dan Tunjungan

Debat calon walikota Surabaya yang digelar PSI secara daring

SURABAYAPAGI, Surabaya - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menggelar debat bakal calon Wali Kota Surabaya secara online. Debat ini merupakan bagian dari Konvensi PSI untuk Kepala Daerah Surabaya. Perdebatan cukup menarik terjadi di antara para kandidat calon Walikota Surabaya.

Terjadi perdebatan cukup intens saat Budi Santoso bertanya kepada Sally Azaria mengenai apa langkah konkrit yang akan dilakukan untuk menyelesaikan kasus Pasar Tunjungan dan Pasar Turi. 

Sally Azaria menyatakan akan memanggil pihak-pihak dan membicarakan win-win solution, membantu kedua belah pihak dan mencari solusi bersama untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Saat mendapat kesempatan merespons jawaban Sally, Budi menyampaikan bila ia tidak puas dengan jawaban tersebut.

“Saya tidak puas dengan jawaban tersebut karena jawaban tersebut tidak masuk dalam pokok pertanyaan saya. Menurut saya, jawaban Sis Sally belum memberikan solusi riil dan konkret.” ucapnya.

Sally kembali menanggapi, bila nasib pedagang tidak boleh terkatung-katung dengan mencari solusi terbaik.

“Memang harus menjadi concern. Nasib pedagang tidak boleh terkatung-katung. Harus segera diselesaikan. Dicari solusi terbaik. Pemkot harus melayani mereka. Soal pedagang berjualan di pinggir jalan, harus ada penanganan juga. Harus disediakan tempat untuk mereka.”  ujarnya

Debat seru juga terjadi di antara Zahrul Azhar dan Andy Budiman.

 

 “Menurut ahli ekonomi, pertumbuhan ekonomi indonesia diperkirakan kondisi minus dan akan ada PHK massal. Apa langkah konkrit untuk menghindari PHK massal di Surabaya, dalam konteks untuk menjaga stabilitas politik? Karena bila tidak diatasi, akan terjadi kekecewaan dan kemarahan warga, tanya Andy.

“Perusahaan non-padat karya itu harus dikurangi, kita perketat perizinannya. Sehingga bisa kita salurkan pada Industri padat karya yang membutuhkan lebih banyak tenaga kerja. Selain itu fokuskan pada membangun enterpreunership agar tidak bergantung pada orang lain. UMKM adalah backbone ekonomi Surabaya. Jadi warga didorong memiliki jiwa untuk membangun lapangan kerja bagi dirinya sendiri, juga jiwa yang kreatif dalam mencari rezeki,” jawab Zahrul Azhar atau Gus Hans.

Namun jawaban tersebut dikejar oleh Andy Budiman dengan pertanyaan “Dua hal, ide entrepreneur selalu muncul saat pandemi, namun saat ekonomi lemah daya konsumsi melemah. Bila didorong mengikuti pelatihan entrepreneur semua, siapa yang akan jadi konsumennya? Semua berbisnis lalu siapa yang beli ? Kedua, apabila izin usaha non-padat karya ditekan, ini  akan menjadi persoalan. Seharusnya saat keadaan ekonomi seperti ini izin diberikan untuk membantu warga terdampak pandemi. Saya meminta jawaban konkret.,” tanya Andi.

Kemudian, Gus Hans menjawab lagi.  “Jenis usaha yang berbeda, unit usaha yang berbeda. Tidak semua orang jualan telor, Setiap interaksi, diperbanyak peluangnya. Izin usaha dibuka semakin baik, namun harus ada nilai proteksi dengan political-will. Jadi ada aturan baru seperti minimal jumlah pekerjanya dan  klasifikasi seperti apa. Bisa didukung dengan adanya Perwali untuk mengatur hal tersebut. Optimalisasi SDM untuk bisa berinovasi membuat lapangan kerja sendiri,”ucap Gus Hans.

Debat Kandidat Calon Walikota Surabaya dilaksanakan secara online, dan disiarkan secara langsung melalui Youtube resmi Partai Solidaritas Indonesia. Dengan demikian maka seluruh warga Surabaya berkesempatan untuk menonton keseluruhan debat kandidat yang berlangsung selama 2 (dua) jam tersebut. Warga juga berkesempatan untuk memberikan komentar terhadap setiap paparan para kandidat melalui kolom komentar di halaman Youtube tersebut.

Ada lima para kandidat yang mengikuti debat yang dimoderatori langsung Ketua Panitia Konvensi, Isyana Bagoes Oka, tersebut. Mereka adalah Andy Budiman, Budi Santoso, Dwi Astutik, Sally Azharia dan Zahrul Azhar.byt