•   Minggu, 5 April 2020
Catatan Hukum Tatang

Bank Jatim, Didera Pembobolan, Usik Reputasi era Go Public

( words)
FOTO: Dr.H. Tatang Istiawan Wartawan Senior Harian Surabaya Pagi


SURABAYAPAGI.com - Bank Jatim yang berdiri sejak tahun 1961 danGo Public mulai Juni 2012, terus didera pembobolan oleh karyawannya sendiri bersama debitur.
Terbaru terjadi di Bank Jatim cabang Pamekasan. Rekening nasabah dibobol hingga Rp 2,7 miliar. Pembobolan ini diduga dilakukan Kepala Bank Jatim Cabang Pamekasan, berinisial Ar.
Sebelumnya juga terjadi pembobolan di Bank Jatim cabang HR Muhammad dan Jombang, Selain Bank Jatim Cabang Wolter Mongonsidi Jakarta Selatan. Nilai kerugian di tiga cabang ini hampir Rp 100 miliar.
Juga ada pembobolan yang merugikan Bank Jatim sebesar Rp 155 miliar. Pembobolan ini dialami Bank Jatim pusat di Jl. Basuki Rachmad, menggunakan modus pengajuan kredit juga.
Kredit ini diberikan ke PT Surya Graha Semesta (SGS) senilai Rp 155 miliar, saat Bank Jatim. dipimpin Hadi Sukrianto. Kasus yang ditangani Bareskrim Polri, melibatkan dua pejabat Bank Jatim yakni Wonggo Prayitno dan Arya Lelana.
Mengapa pembobolan di Bank Jatim ini menjadi sorotan publik? Ini karena Bank adalah lembaga keuangan yang memegang peranan penting dalam masyarakat sekaligus memberikan pelayanan kepada masyarakat secara luas.
Dan nasabah terbesar Bank Jatim adalah PNS, pensiunan, dan masyarakat di Jawa Timur, Selain bermain di kredit mikro-UMKM di provinsi dengan kualitas ekonomi dan sumber daya manusia paling tinggi di Indonesia.
Konon meski manajemennya banyak mengalamifraud oleh karyawannya sendiri, NPL gross juga terbilang tinggi.
Kini, harga saham Bank Jatim menurun dari Rp 685,00 (31/12-2019), merosot menjadi Rp 655,00 (21/01/2020).
Benarkah turunnya harga saham Bank jatim ini akibat aksi pembobolan selama ini? Dari aspek manajemen resiko operasional bank, kejadian itu bisa merupakan pukulan telak bagi Bank Jatim. Praktis, kini reputasinya pun tengah dipertaruhkan.
Paling tidak akibat ada pembobolan rekening, selain nasabah Bank Jatim, pihak bank pun turut menjadi korban. Ini menyangkut reputasi akan kenyamanan dan tingkat keamanan menyimpan dana di Bank Jatim bisa menjadi turun di mata masyarakat.
Apakah ekses dari berbagai pembobolan ini, bisa menutupi cara Bank jatim yang sejak tahun 2014telah mengembangkan berbagai produk dan layanan pada tingkat yang lebih lanjut seperti SMS Banking bankjatim 3366, kartu bankjatimflazz, program Tabungan Siklus Bunga Plus serta peluncurandealing room.
Bahkan Bank Jatim menelorkan suatu sistem yang mampu membantu Pemerintah Daerah dalam memonitor besarnya nilai pajak yang harus dikeluarkan oleh wajib pajak sekaligus sebagai sarana pembayaranonline semua pajak daerah bagi wajib pajak,
Harus diakui, produk produk yang diciptakan oleh Bank Jatim selama ini cenderung semakin memanjakan konsumen. Tapi dengan pembobolan berulangkali ini, apakah ada jaminan masyarakat tetap percaya pada Bank Jatim. Apalagi menaikan nilai harga sahamnya?
Dan sebagai unit usaha yang bergerak di bidang jasa yanghighly regulated , otomatis kepercayaan nasabah terhadap bank merupakan factor fundamental. Terutama menentukan kesinambungan bisnis sebuah bank. Ini yang dinamakan mengelola risiko reputasi (reputation risk).
Dalam bahasa manajemen, suatu reputasi dapat diakui sebagai risiko itu sendiri atau sebagai konsekuensi yang diakibatkan risiko lain (risiko kredit, risiko pasar, risiko liquditas, risiko operasional, risiko hukum dan risiko strategic) atau keduanya.
Bagi bisnis jasa keuangan, pembobolan uang nasabah prosesnya dapat mempengaruhi reputasi. Dan risiko reputasi ini bisa memiliki dimensi etis dan social (emosional) yang lebih besar dibandingkan dengan hanya risiko keuangan dan operasional semata.
Secara manajerial, apabila risiko reputasi bank tidak dikelola dengan baik dan efektif, pada gilirannya akan berdampak luas pada kinerja bisnis bank itu sendiri.
Praktis, reputasi bank yang buruk akan mendorong nasabah untuk beralih ke bank lain dengan reputasi yang lebih bersih. Dengan demikian, ancaman terhadap reputasi, baik nyata maupun persepsi, dapat menghancurkan nama baik bank Jatim yang telah dibangun bertahun-tahun.
Akal sehatnya, tidak berlebihan bila dikatakan risiko reputasi adalah persoalan hidup dan mati operasional bank. (tatangistiawan@gmail.com)

Berita Populer