•   Rabu, 26 Februari 2020
Pilpres 2019

Bakal Cawapres Jokowi, Dirundung Brand Tua

( words)
Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan Witjaksono (Wartawan Senior)


Surat Terbuka untuk Jokowi - Ma’ruf, yang Ikut Pilpres 2019 (24)

Pak Jokowi Yth,
Ada ada saja kritikan yang dialamatkan pada Anda.
Setelah bakal cawapres Anda dianggap sudah uzur, kini giliran Partai Golkar, anggot koalisi partai politik pendukung Anda. Pasca ditinggal Setyo Novanto, “ngamar” di penjara suka miskin, Parpol yang kini dijabat Erlangga Hartarto, dituding sebagai partai orang tua.
Brand ‘’tempat bernaungnya’’ politisi tua ini dikaitkan dengan tantangan mendekati pemilih dari kalangan milenial.

Pak Jokowi Yth,
Data yang ada di KPU, tercatat jumlah pemilih muda memang lebih dari 50%. Artinya menurut kategorisasi, pemilih usia 17 tahun hingga usia 35 tahun jumlahnya mencapai 79 juta, Sementara bila sampai 40 tahun maka jumlah pemilih muda sekitar 100 juta.
Praktis, pada kontestasi politik 2019 bakal ada perubahan signifikan persentase calon pemilih. Indikasinya jumlah calon pemilih muda cukup besar dibandingkan pemilu sebelumnya.
Anda pasti tahu bahwa proyeksi demografi nasional dari Badan Pusat Statistik, Indonesia sedang menuju kondisi bonus demografi di mana persentase jumlah usia produktif akan mencapai sekitar 60 persen dari total populasi pada tahun 2035.
Kemudian kemendagri mencatat ada sekitar tujuh juta tambahan pemilih pemula yang pada bulan April 2019 berusia 17 tahun.
Jumlah tujuh juta ukan angka sedikit. Jumlah ini menyamai suara salah satu partai saat ini. Anda meski di ‘’branding’’ capres penuh dengan politisi tua, percaya pemilih muda adalah calon-calon pemilik masa depan bangsa.
Bahkan saya menyerap dari beberapa elite partai politik, baik partai koalisi pendukung Anda maupun Prabowo, sama-sama menilai dengan jumlah pemilih sebesar itu, maka kelompok milenial dianggap adaptasi politiknya berbeda dengan kelompok umur yang lebih tua.
Pemilih pemula dianggap lebih dinamis dan lebih cepat berubah persepsi politiknya, terutama sangat terpengaruh oleh lingkungan.
Bahkan kadang pemilih pemula yang mengikuti dinamika politik yaitu sejumlah elite parpol ditangkap KPK, karena korupsi, bisa cepat sekali apatis.
Bisa jadi ikut dalam politik paktis tidak menantang.

Pak Jokowi Yth,
Anda pada pilpres 2014 yang lalu memetik kemenangan 70.997.85 suara atau 53,15 persen suara yang masuk. Sedangkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, yang meraih 62.576.444 suara (46,85 persen).
Data yang saya gali dari KPU, tidak menunjukan berapa persen dari 70 juta pemilih Anda, pemilih muda dan tua.
Tetapi dengan peluang ada 100 juta pemilih pemula, sayang bila Anda tak serius menggaet pemilih pemula.
Pertanyaannya, apakah brand koalisi Anda mayoritas politisi tua, ini sengaja diciptakan oleh laswan atau memang realita yang tidak bisa Anda tutup-tutupi.
Akal sehat saya mengatakan jika para pemilih pemula dan milenial ini bisa Anda kelola dengan serius, bisa jadi perolehan suara Anda bisa lebih 7 juta dan Anda akan meraih kemenangan lagi.
Pertanyaan lagi, apakah kali ini pemilih muda ini terpengaruh oleh nilai-nilai politik yang kurang baik dari lingkungan, sehingga Golput (tidak menggunakan hak memilih).
Pada pilpres tahun 2014 lalu, angkat Golput sebesar 30,42 persen meningkat dari Pilpres 2009 dan Pileg 2014.
Sementara partisipasi pemilih dalam Pilpres 2014 meleset dari yang ditargetkan KPU sebesar 75 persen. Dan dibanding pilpres 2009, partisipasi pemilih juga menurun.
Menurut KPU, partisipasi pemilih pada Pilpres 2014 hanya sebesar 69,58 persen dari hasil jumlah rekapitulasi DPT sebesar 190.307.134 orang. Sementara Pilpres 2009 partisipasi sebesar 71,17 persen.
Dengan angka-angka ini, menurut akal sehat saya, menjadi tantangan besar bagi Anda dan Prabowo, dalam merebut hati para pemilih muda dan milenial.
Apalagi diantara pemilih muda tidak semua hanya berpikir pemilih, tetapi ada yang memiliki gagasan-gagasan politik, ekonomi dan hukum dalam memajukan bangsa. Bahkan ada yang berharap bisa menjadi pemimpin penerus Anda.
Pertanyaannya, dengan Anda memiliki bakal cawapres berusia tua berlatarbelakang politisi dan ulama, bisakah tim Anda masuk ke kelompok pemilih pemuda?
Akal sehat saya bertanya, mampukah Anda bersama tim sukses Anda alam Pilpres 2019 mendatang mengkampanyekan program bersih-bersih dari korupsi?
Ini menurut saya tantangan Anda. Meski secara individual, Anda sampai sekarang masih tercatat sebagai kepala Negara yang jauh dari sorotan konspirasi menguntungkan diri sendiri dan kroni-kroni Anda, tetapi publik mencatat era kepemimpinan Anda, jumlah korupsi masih cukup menyedihkan. Terutama dengan gencarnya KPK melakukan operasi senyap ke daerah-daerah.

Pak Jokowi Yth,
Dalam berbagai diskusi yang saya ikuti, umumnya kaum milenial sensitif dengan isu korupsi, terorisme, narkoba dan rebutan kekuasaan dengan cara transaksional uang. Bahkan ada yang sensitive dengan politisasi indentitas yang berlebihan seperti saat Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu.
Apalagi dalam beberapa penelitian mengenai perilaki anak milenial, ada sedikitnya lima ciri yang dimilikinya. Pertama, cuek dan individualistis. Kedua, kritis terhadap hal yang menyimpang. Ketiga cenderung suka akan perubahan. Keempat memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dan kelima, cenderung eksklusif suka bergaul dengan komunitasnya.
Nah dengan brand koalisi yang penuh dengan orang tua, adakah kerugiannya? Akal sehat saya mengatakan ada. Apalagi competitor Anda, memiliki bakal capres yang jauh lebih muda dengan bakal cawapres Anda, KH Ma’ruf Amin.
Nalar saya mengatakan, meski tim sukses Anda dipimpin oleh Erick Thohir, anak muda sebaya Sandiaga Uno, belum jaminan Erick bisa mempengaruhi pemilih pemuda. Maklum, Erick, bukan bakal cawapres. Erick, tak ubahnya pengelola event organizer bidang politik, bukan olahraga. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)

Berita Populer