•   Rabu, 22 Januari 2020
KabarPartaiPolitik

Awey: Mahar Politik Tak Patut Dicontoh

( words)
Politisi Partai NasDem, Vinsensius Awey. Foto : SP/QOMAR


SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Perseteruan mahar Politik antara Kader Partai Gerindra La Nyalla Mattalitti yang menuding ada permintaan uang miliaran rupiah oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto saat pencalonan diri sebagai calon gubernur Jawa Timur 2018 ini masih menjadi perbincangan masyarakat, tidak terkecuali dari politisi lokal Surabaya.
Politisi Partai NasDem, Vinsensius Awey mengatakan, mahar politik adalah istilah lain dari upeti atau timbal balik. Menurutnya, politik praktis dengan mahar tidak patut dicontoh. Untuk itu, partainya dengan tagline 'Gerakan Perubahan' berupaya mengeliminir praktik politik tersebut.
Namun, Anggota Komisi C DPRD ini juga mengakui, mahar politik sudah lekat dalam pesta demokrasi di tanah air yang high cost, sehingga praktik semacam itu dianggap wajar.
“Sistem yang ada pada pesta demokrasi kita cenderung menghadirkan mahar politik,” tuturnya. Kamis (18/1).
Awey mengakui, untuk mengeliminir mahar politik tidaklah mudah. Cara yang bisa ditempuh, selain mereview sistem politik yang ada, juga memerlukan keteladanan dari pimpinan partai politik. Untuk tidak menerima apapun dari para calon kepala daerah, calon anggota legislatif dan lainnya.
“Ketika struktur partai sudah menciptakan sistem tidak boleh menerima. Maka, jika ada yang melanggar diproses atau ditindak,” terangnya.
Awey menjelaskan, ada perbedaan mahar politik dengan biaya operasional. Menurutnya, untuk menaikkan popularitas atau pencitraan, turun ke masyarakat dan mengajak mereka untuk memilih yang bersangkutan memang membutuhkan biaya, adalah hal yang wajar. Sebaliknya, hal yang tak wajar, ketika ada calon yang menghalalkan segala cara dengan memberikan sejumlah dana agar bisa diterima atau dicalonkan oleh partai.
“Karena mengabaikan integritas, kemampuan, track record dan pengalaman yang bersangkutan,” pungkasnya. alq

Berita Populer