•   Minggu, 15 Desember 2019
Surabaya

Anak Pejabat Pemkot Disebut Mainkan Izin

( words)
Jalan raya yang ambles sedalam sekitar 10 meter dengan lebar 30 meter itu mengakibatkan jalur utama itu terputus. Begitu juga jaringan PDAM dan listrik ikut terdampak. FOTO SP/JULIAN & DIMAS


Terkait Proyek Basement RS Siloam yang Sebabkan Amblesnya Jalan Raya Gubeng Surabaya

Riko Abdiono, Noviyanti Tri, Alqomar, Prilla Sherly,
Tim Wartawan Surabaya Pagi
Amblesnya Jalan Raya Gubeng Surabaya pada Selasa (18/12) malam, ditengarai akibat kesalahan konstruksi pengerjaan proyek basement lantai tiga Rumah Sakit (RS) Siloam. Ketua DPRD Kota Surabaya Armuji mencurigai perizinan proyek yang dikerjakan PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk (NKE) bermasalah. Bahkan, diduga ada permainan anak pejabat Pemkot Surabaya, terkait perizinan proyek basement tersebut. Karena itu pula, Polda Jatim turun tangan mengusut.
---
Pantauan di lokasi, Rabu (19/12/2018), kondisi lubang jalan raya Gubeng ambles dengan kedalaman sekitar 10 meter dan lebar sekitar 30 meter. Lokasi jalan ambles ini sudah ditutup oleh jajaran petugas dan kepolisian. Lokasi ditutup dengan kayu triplek dan dijaga ketat oleh petugas.
Ketua DPRD Kota Surabaya Armuji saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) sempat dilarang memasuki lokasi proyek tersebut. Ini membuat politisi PDIP ini makin curigai ada hal yang tidak beres.
Menurutnya, pembangunan proyek tersebut merupakan keteledoran Pemkot Surabaya, karena terlalu tergesa-gesa mengeluarkan Izin Mendirikann Bangunan (IMB).
Kata Armuji, bangunan yang menggunakan basement biasanya lama perizinannya, tapi ini sangat singkat sekali. "Ada permainan izin yang diindikasikan dilakukan oleh anak pejabat Pemkot Surabaya. Ini harus diselidiki, ini bukan sekadar isu tapi sudah umum di kalangan Pemkot," ungkap Armuji saat sidak di lokasi.
DPRD, lanjut Armuji, akan meminta klarifikasi dari kontraktor, konsultan perencanaan, pengawas Pemkot dan pihak yang mengeluarkan izin. "Jangan sampai pekerjaan yang di sebelah kantor saya (proyek basement gedung Balai Pemuda, red) ada juga terjadi serupa, di sana juga ada basement," tandas politisi yang akrab disapa Cak Ji ini.
Sumber di lingkungan Pemkot dan DPRD Surabaya, anak pejabat yang dimaksud Armuji ditengarai justru di lingkaran Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Namun, sumber yang meminta namanya tak disebutkan ini menolak menyebutkan nama anak tersebut. “Sudah banyak yang tahu mas, masak sampean tidak tahu,” kelit dia.
Menanggapi hal ini, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Eri Cahyadi membantah adanya permainan perizinan, terkait proyek basement RS Siloam.
Eri mengatakan izin proyek basement tidak ada masalah karena sudah dilakukan sesuai prosedur. Namun, pelaksanaan pengerjaan proyek yang tidak benar.
Dijelaskannya, proses perizinan IMB telah dilakukan hampir dua tahun lebih. Untuk pengeluaran izin itu, menurut Eri, merujuk pada Undang-Undang Nomor 28 tentang Bangunan Gedung, bahwa semua bangunan gedung tinggi harus mendapat persetujuan dari tim ahli bangunan gedung.
"Ini sudah dicek strukturnya, Amdalnya, mekanik enginering, dan kekuatannya. Setelah selesai baru dikeluarkan izin," tandas Eri yang menijau lokasi ambles bersama Wakil Walikota Whisnu Sakti Buana.
Eri juga mengelak perizinan baru dikeluarkan tahun 2017, sementara pembangunannya lebih dulu dimulai tahun 2015. "Sudah izin, tahun 2015 sudah ada izin struktur bawah, lalu ada izin struktur atas . Yang bawah sudah keluar lama," terang mantan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRK-CKTR) Kota Surabaya.
Menurut Eri, dari kejadian ini pihak Pemkot Surabaya menyerahkan sepenuhnya kepada Tim Labfor Mabes Polri untuk menyelidiki apakah pembangunan di lapangan sesuai dengan perizinan yang dikeluarkan. Apakah pelaksanaan sudah sesuai.
"Kami menyerahkan penyidikan pada Labfor Mabes Polri. Proyek ini pengawasannya dari swasta. Kalau pengawasan dari Pemkot itu berlaku bagi proyek gedung yang menggunakan APBD," terang dia.
Menurut Eri, kasus amblesnya Jalan Raya Gubeng adalah collapse atau runtuhnya tembok penahan tanah pada proyek basement gedung RS Siloam. "Kalau melihat bentuk keruntuhan tembok penahan tanah yang ada karena disebabkan pentahapan pelaksanaannya tidak mengikuti prosedur," jelasnya.
Eri mengatakan, konstruksi tembok penahan tanah terbuat dari konstruksi soldier pile (bored piled beton) yang dipasang berjajar dengan kedalaman tertentu. Kemudian penahan tembok dibantu dengan ground angker dan bentonite.
"Jadi konstruksi tembok penahan tanah ini ambrol karena tidak mampu menahan beban lateral dari Jalan Raya Gubeng, sehingga mengenai jalan raya," kata Eri.
Cek Amdal
Rabu (19/12) kemarin, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya juga melakukan pengecekan lapangan dan mengecek perizinan dari pengerjaan proyek basement RS Siloam.
Kepala DLH Kota Surabaya, Eko Agus Supiyadi, mengatakan sampai saat ini belum diketahui pasti penyebab jalan Gubeng ambles di lokasi proyek pembangunnn basement RS Siloam. "Kalau secara administrasi, perizinan semua sudah beres," ucap Eko.
Secara perizinan, dalam pembangunan site plan selalu ada pengajuan perizinan analisa dampak lingkungan (Amdal). Namun dari perizinan itu, potensi terjadinya longsor sudah diantisipasi.
"Antisipasi membuat penahan supaya tak longsor juga sudah dilakukan, tapi kok nggak kuat. Ini juga masih dicari tahu penyebabnya," sambungnya.
Apakah memang ada kesalahan saat pengerjaan, atau soal bahan yang digunakan, pihaknya juga mengaku belum ada laporan soal rembesan dan keluhan terkait pengerjaan proyek.
Pemulihan Jalan
Wakil Wali Kota Surabaya Wisnu Sakti Buana juga menegaskan tidak mungkin Pemkot mengawasi semua proyek yang ada di Surabaya, apalagi proyek tersebut bukan didanai negara atau APBD Kota Surabaya.
"Pihak swasta biasanya memiliki tim pengawas sendiri," ujar Wisnu seusai menggelar pertemuan dengan pihak pemilik proyek, yakni Rumah Sakit Siloam, Rabu (19/12/2018).
Yang penting, lanjut Wisnu, lokasi tanah yang ambles segera diperbaiki agar kembali bisa berfungsi sebagai jalan raya untuk kepentingan masyarakat. "Itu saja yang penting. Jalan bisa kembali dimanfaatkan masyarakat," terangnya.
Bahkan kalau perlu, kata Wisnu, pemulihan atau rekonstruksi lokasi ambles dilakukan Pemkot Surabaya dengan menggunakan dana penanganan bencana dari APBD Kota Surabaya.
"Pemkot sendiri memiliki anggaran biaya melalui APBD terhadap bencana seperti ini, maka kita gunakan terlebih dahulu untuk memulihkan Jalan Raya Gubeng daripada harus menunggu pihak swasta,” ucap Wisnu yang juga Ketua DPC PDIP Kota Surabaya ini.
Kesalahan Konstruksi
Wakil Ketua Perhimpunan Insinyur (PII) Jawa Timur Guntur Prihantono yakin proyek pembangunan basement di sebelah jalan Gubeng 141 sudah melalui mekanisme yang benar.
Akan tetapi, dia meminta agar pemerintah dan kontraktor berhati-hati dalam menangani proyek konstruksi tersebut khususnya soal perilaku air.
"Dalam setiap proyek itu memang harus hati-hati perilaku air. Saya yakin proyek ini melalui mekanisme yang benar. Ada manajemen konstruksi, dan pasti kontraktornya sudah punya pengalaman. Luasnya kan kurang lebih 20x50 meter, artinya ada kurang lebih 1000 meter kubik tanah yang dipindahkan. Kedalamannya 20 meter," kata Gentur, Rabu (19/12/2018).
Dia mengatakan, amblesnya jalan di Gubeng itu kemungkinan disebabkan karena air yang merembes dan menggerus tanah di bawahnya. Pasalnya, di wilayah Gubeng, bisa ditemukan air hanya dalam kedalaman 5 meter saja. Disatu sisi, bangunan basement itu punya kedalaman hampir 20 meter.
"Kalau kita bicara seorang engineer pasti di awal mesti ada test tanah. Faktor air karena di Surabaya ini ketinggian tanah dari permukaan air laut itu cukup rendah. Kalau saya melihat di daerah itu orang menggali sumur 5 meter saja sudah menemukan air. Terus bayangkan ini sudah 20 meter," tambahnya.
"Yang paling penting pada proyek sebesar ini metodologinya harus benar. Karena konstruksi bangunan ini belum berdiri banyak masih pada tingkat pengerjaan tanah. Pengerjaan tanah sudah menimbulkan accident," tambah mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Jatim ini.
Gentur menuturkan, kondisi jalan di Gubeng sebenernya tidak ada masalah dan tergolong baik. Karena itu, kemungkinan memang rontoknya jalan di Gubeng itu akibat kegiatan kontruksi di sebelahnya yang tidak berjalan baik.
"Saya menilai jalannya raya gubeng itu adalah jalan kategori mantap. Tidak ada penurunan karena itu sudah menjadi jalan kota. Jalan kota itu tidak ada lubang kecuali pinggir pinggir. Tapi itu bisa bergerak bisa tidak stabil apabila ada kegiatan konstruksi yang besar tanpa ada penahan. Dia akan ketarik karena jalan itu tetap terpakai dilewati terus meskipun yang melewati bukan kendaraan berat," papar dia.
Bukan Likuifaksi
Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, amblesan di jalan raya Gubeng, Surabaya, kedalamannya mencapai 30 meter. Sedangkan untuk lebarnya adalah delapan meter.
Berdasarkan pantauan Seismograf BMKG, kata Sutopo, amblesan di jalan raya Gubeng terjadi sebanyak dua kali. "Amblesan berlangsung dua kali. Berdasarkan pantauan seismograf BMKG, amblesan terjadi yaitu pada pukul 21.41 WIB dan pukul 22.30 WIB," terang Sutopo, Rabu (19/12/2018).
Menurut dia, amblesan ini bukan disebabkan oleh gempa bumi atau aktivitas tektonik, karena tidak terdeteksi sama sekali. "Jadi kalau ada yang mengisukan ada kaitannya dengan sesar Surabaya, sesar Waru yang melintas disana, itu tidak betul. Karena tidak ada aktivitas tektonik pada saat kejadian," tegasnya.
Peristiwa ini, lanjut dia, disebut amblesan tanah, bukan liquifaksi karena tidak ada fenomena mencairnya material tanah di lokasi kejadian. Menurut Sutopo, kejadian amblesan jalan raya Gubeng disebabkan kesalahan konstruksi.
Jadi, adanya pekerjaan pembangunan basement rumah sakit yang tidak menggunakan dinding penahan tanah yang langsung berhadapan dengan jalan berpeluang menimbulkan dorongan tanah secara horisontal atau sliding pada area jalan disekitarnya.
Klarifikasi RS Siloam
Sementara itu, RS Siloam mengaku hanya sebagai penyewa fasilitas atau bangunan yang sedang dikerjakan PT Nusa Konstruksi Engineering (NKE) yang diduga mengakibatkan amblesnya Jalan Raya Gubeng. Sedang proyek yang sedang dikerjakan PT NKE adalah sarana ritel dan kesehatan.
"Pemilik proyek menyerahkan pelaksanaan konstruksi kepada PT NKE. Rumah Sakit Siloam Surabaya nantinya hanya sebagai pengguna atau penyewa bangunan," ujar General Affair Manager RS Siloam Surabaya, Budijanto Surjowinoto, kemarin.
Budijanto mewakili RS Siloam mengaku turut prihatin atas kejadian amblesnya Jalan Raya Gubeng pada Selasa (18/12/2018) malam sekitar pukul 21.30 WIB.
"Rumah Sakit Siloam Surabaya memastikan, seluruh pasien yang sedang dirawat dalam kondisi aman, dan Rumah Sakit Siloam Surabaya tetap beroperasi seperti biasa," tandasnya. n

Berita Populer