Aksi Women's March, Pertama Kali di Surabaya, Lihat Apa yang Mereka Sampaik

SURABAYAPAGI.com, SURABAYA - Sejumlah komunitas perempuan dan kaum minoritas menggelar acara Women's March atau peringatan Hari Perempuan Internasional di depan Jalan Darmo Surabaya, Minggu (4/3/2018).
Setidaknya 200 orang terdiri dari oleh 13 organisasi perempuan dan kaum minoritas mengikuti acara ini. Kaum minoritas di antaranya seperti Lesbian, Gay, Biseksual, dan Trans Gender.
Rinta Yusna, perwakilan panitia menjelaskan kegiatan ini merupakan pertama kali di Surabaya, yang digagas komunitas perkumpulan Arek Feminis.
"Di sini kami punya ideologi yang sama dan punya kepedulian untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan dan kaum minoritas lainnya. Kami benar-benar bertujuan untuk menolak adanya RKUHP yang keberadaannya akan mendeskriminasikan korban pelecehan seksual, minoritas, dan semakin merugikan kaum perempuan," katanya, Minggu (4/3/2018).
Rina melanjutkan hampir dua jam ada tiga orang perempuan mengalami kekerasan. Kekerasan yang dialami perempuan itu sangat tinggi di Surabaya khususnya di dalam rumah tangga.
"Itu yang sudah diungkapkan, belum lagi yang belum diungkapkan. Untuk itu kita sedang berjuang adanya undang-undang mendewasakan usia pernikahan," tambahnya.
Sekilas tak ada yang aneh dalam aksi yang mereka selenggarakan tersebut. Namun, ada beberapa hal yang jalanggal.
Para peserta aksi berjalan dari depan Loop Station dan berputar di depan Hotel Mercure, Surabaya membawa spanduk bertuliskan kata-kata ajakan untuk menghormati perempuan dan kaum minoritas.
Beberapa kata dan gambar, terlihat tak pantas terpajang di banner dan kertas-kertas yang mereka bawa.
Beberapa kata-kata tak pantas itu bertuliskan "Selangkangan Guduk Urusan Negoro", "Basmi Korupsi Bukan LGBT", "Born This Way", "If You Sexist Me I Will Feminis You", "Equality", serta sebuah gambar yang memperlihatkan bagian tubuh perempuan dan sejumlah banner mengarah ke arah LGBT.
Bahkan sebagian besar yang ikut dalam aksi tersebut membawa iidentitas LGBT, yaitu bendera pelangi. Sampai kegiatan selesai, tidak ada penolakan dalam kegiatan yang mereka sebut Women's March itu.
(cr/sry)