•   Rabu, 23 Oktober 2019
Peristiwa Internasional

Akhirnya Carrie Lam Cabut UU Ekstradisi, Keputusannya Bisa Bikin Puas Tidak Ya?

( words)
Suasana bentrok antara petugas kepolisian dengan demonstran di Hong Kong SP/Rtr


SURABAYAPAGI.com – Pencabutan UU Ekstradisi ternyata tidak membuat tensi darah demonstran turun. Pasalnya, demonstran menginginkan lebih dari pencabutan UU Ekstradisi dan siap bertarung melawan pemerintah.

"Masyarakat Hong Kong tidak akan puas, ini sangat beralasan mengingat perjalanan tiga bulan darah yang dipenuhi keringat dan air mata," kata Alvin Yeung, seorang anggota parlemen oposisi.

Melansir Bloomberg, setelah aksi unjuk rasa disertai kekerasan yang berlangsung selama tiga bulan, pimpinan Hong Kong mengeluarkan pernyataan penting pada Rabu (4/9) sore. Dalam siaran di televisi lokal, dia mengumumkan kepada publik bahwa dia akan memenuhi permintaan para pengunjuk rasa untuk mencabut proposal yang telah memicu aksi unjuk rasa terburuk sejak 1997.

"Insiden yang terjadi dalam dua bulan terakhir telah mengejutkan dan membuat sedih warga Hong Kong. Kita semua sangat cemas tentang Hong Kong, rumah kita. Kita semua berharap untuk menemukan jalan keluar di masa-masa silit ini," kata Lam seperti yang dikutip Bloomberg.

Tetapi, bahkan sebelum dia berbicara, para aktivis dan anggota parlemen pro-demokrasi sudah mengatakan konsesi Lam sudah terlambat.

Mereka ingin empat tuntutan lainnya dipenuhi, yang paling penting adalah dorongan yang sudah lama untuk mencalonkan dan memilih pemimpin mereka sendiri, sebuah proposal yang secara eksplisit dikesampingkan oleh Beijing pekan ini.

Sebagai informasi, Melansir South China Morning Post, enam hari setelah 1 juta orang turun ke jalan pada 9 Juni 2019 untuk menentang UU Ekstradisi, Pimpinan Hong Kong Carrie Lam Cheng Yuet-ngor melakukan suspensi pemberlakuan undang-undang tersebut. Namun, dia tetap tidak mau menariknya. Kemudian, pada 16 Juni, diprediksi sekitar 2 juta orang turun ke jalan lagi dengan tuntutan yang sama.

Sejak saat itu, Hong Kong terus diguncang dengan aksi protes dan Lam terus melancarkan senjatanya. Dia bisa diibaratkan sebagai mantan perdana menteri Inggris Margaret Thatcher, yang tetap berdiri meski banyak tantangan menghadang.

Berita Populer