•   Rabu, 8 April 2020
Bisnis Makro

Acong, Hacker Muda Inspirasi Pemuda Masa Kini

( words)
Juny “Acong” Maimun. SP/EN


SURABAYA PAGI, -Acong mengatakan, Saran terbaik saya adalah bertahan hidup! “Jika Anda terus bertahan untuk beberapa tahun pertama, maka Anda dapat beradaptasi dengan pasar dan menemukan model yang baik untuk Anda” kata Acong.

Acong, sebutan akrab seorang hacker muda yang menjelma menjadi startup Indonesia dan menginspirasi kalangan muda dunia. Pemilik nama lengkap Junny Maimun ini adalah sosok yang telah berhasil membuat reputasinya sendiri saat berkuliah di Stamford College di Malaysia sebagai hacker muda pemberani dari Riau yang bisa meretas sistem siapapun, meminjam sumber coding website mereka, dan mengubahnya menjadi “sesuatu yang lebih menyenangkan”.

Dengan bekal kecanggihannya di bidang IT, Junny “Acong” Maimun, menjelma menjadi stratup Indonesia pendiri Indowebster, website file hosting multimedia asal Indonesia yang terkenal di dunia.

Saat ini, produk utama Acong, Indowebster merupakan platform file hosting multimedia gratis terbesar di Indonesia. Sejak meluncurkan bisnis pertamanya pada tahun 1998, bagaimanapun, Acong bersikap relatif angkuh terhadap media, sebuah langkah yang membuat banyak orang bertanya-tanya dan membuatnya menjadi salah satu pahlawan startup di Indonesia yang sulit dipahami.

Acong tertawa dan berkata, “Saya melihat banyak startup berbicara tentang konsep, ide-ide dan produk. Mereka berpikir bahwa mereka sudah memiliki pengetahuan 100 persen menjalankan startup mereka, tapi sebenarnya hanya 25 persen.”

Perjalanan Acong mendirikan Indowebster dimulai saat ia kulai di Malaysia dengan berbekal keahliannya dibidang IT, Acong dengan berani meretas berbagai system dengan tujuan bukan untuk memperkaya diri dengan finansial. Namun, memperkaya diri dengan ilmu dunia IT.

“Itu bukan untuk tujuan bisnis, tapi hanya untuk menambah pengetahuan saya sendiri. Dari sana, saya akan menemukan banyak bug dari sebuah sistem dan belajar bagaimana mencegahnya.” Itu tidak lama sebelum akhirnya perusahaan teknologi di Asia Tenggara mengetahui Acong dan mulai mendekatinya untuk menguji sistem mereka.

Namun, pendidikan yang ia tempuh di Stamford College di Malaysia harus terpaksa terhenti gegara buka warnet yang ia beri nama AMPM untuk mencerminkan lama operasionalnya yakni 24 jam non-stop. Tidak terduga bisnis itu begitu sukses sehingga ia mampu menghasilkan profit dalam waktu delapan bulan.

Tidak puas sampai disitu, Pada tahun 2006, perusahaan pemeliharaan jaringan dan konsultan IT AMPM didirikan di bawah nama PT Maxindo. Kini AMPM diakui sebagai salah satu penyedia layanan internet terkemuka di negeri ini.

Acong menyebut ISP-nya sebagai sesuatu yang “disayangkan”, yang membutuhkan banyak tenaga, tetapi juga salah satu yang telah benar-benar bisa berjalan sendiri. “Bahkan jika saya ingin, saya tidak bisa menghentikannya sekarang,” katanya sambil menghela napas. “Orang-orang membutuhkannya!”

Masih belum puas, pada bulan April tahun berikutnya, Acong mendirikan Indowebster, website file hosting multimedia asal Indonesia yang terkenal di dunia (seperti YouTube) yang kini sudah dikenal oleh banyak orang di Indonesia. Tujuh tahun setelah berdirinya Indowebster, Acong akhirnya siap untuk melakukan diversifikasi, dan secara aktif mencari investor pihak luar pertamanya.

Di masa lalu, ia bersikeras menginginkan investor dari Indonesia saja, tapi kini tampaknya Acong tidak begitu pilih-pilih. Dengan berkeyakinan bahwa persaingan adalah hal yang baik, ia mengajak semua investor untuk menghubunginya, asalkan bukan perusahaan layanan komputer asal China yang dipimpin oleh Pony Ma.

Acong mengatakan, “Bagi saya, tidak masalah jika mereka asing atau lokal, tapi mudah-mudahan tidak Tencent!” Meski ia menolak berkomentar tentang hal itu, Acong menyebutkan bahwa setelah mengunjungi gedung kantor dengan jumlah lantai 26 milik Tencent di Shenzhen pada pertengahan 2009, ia ingin kembali ke Indonesia dan membangun sebuah gedung berlantai 27, satu lantai lebih tinggi dari markas Tencent.

Berita Populer