SURABAYA Rujak uleg sudah dikenal sebagai makanan khas Surabaya sejak lama. Tak ingin kehilangan identitasnya, Pemkot Surabaya pun menggelar festival rujak uleg pada rangkaian agenda Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) sejak tahun 2007 lalu. Kini festival rujak uleg mulai menjadi identitas Kota Surabaya. Festival tahunan yang diikuti seluruh SKPD, perwakilan negara asing, dan warga Surabaya itu semakin terasa pedas. Ribuan peserta memberikan sajian rujak beraneka rasa yang membuat acara unggulan hari jadi Kota Pahlawan tambah semarak.

Sejak pagi, kawasan Kya-kya Jalan Kembang Jepun sudah berubah menjadi sentra pedagang rujak. Deretan lapak dan cobek berbagai ukuran sudah memadati kawasan lagendaris di Surabaya itu. Para peserta memakai berbagai jenis dandanan, mulai dari pakaian adat, bonek, pengantin, sampai kertas koran. Untuk mengiringi para peserta nggulek, lantunan lagu dangdut mengiringi mereka. Goyangan pinggul dan tangan membuat rasa rujak semakin legit. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Konjen AS Kirsten Bauer ikut larut dalam lantunan lagu dengan berjoget bersama peserta ferstival.

Tahun ini ada 1.340 peserta Festival Rujak Uleg yang terbagi dalam 243 meja. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun lalu yang hanya 1.250 peserta. Peningkatan peserta ini membuktikan tingginya antusiasme masyarakat terhadap festival rujak uleg. Tiap tahun jumlah peserta selalu bertambah. Antusias yang ditunjukan membuat kami yakin festival rujak uleg bisa menjadi identitas Surabaya, ujar Risma di sela-sela festival, kemarin.

Sekretaris panitia hari jadi Surabaya Yayuk Eko Agustin menuturkan, festival rujak uleg memang menjadi salah satu rangkaian hari jadi Surabaya. setiap tahun acara itu menjadi unggulan pemkot dalam memeriahkan hari jadi. Ini juga jadi ajang rekreasi bagi warga. Semua warga yang datang ke Kembang Jepun bisa memperoleh rujak secara gratis, jelasnya.ov